Surabaya, liputanmu – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Ngagel Rejo salah ranting di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel menegaskan komitmennya untuk merangkul dan memberdayakan milenial serta Gen Z dalam aktivitas dakwah Muhammadiyah berkemajuan. Ahad (23/11/2025).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Kajian Rutin Bulanan bertajuk; “Generasi Muda Garda Terdepan dalam Berdakwah”, di Musholla Al-Jannah, Ngagel Rejo. Puluhan anak-anak muda, kader Muhammadiyah PRM Ngagel Rejo begitu antusias mengikuti kajian tersebut, termasuk jamaah Musholla, jajaran PRM Ngagel Rejo, serta PCM Ngagel.
Kajian tersebut menghadirkan mubaligh muda Muhammadiyah, Ustadz Ahmad Mujaddid, SH., Wakil Ketua PDPM Surabaya periode 2023-2027, sebagai penceramah utama yang juga guru Ismuba di SD Muhammadiyah 11 Surabaya.
Wakil Ketua PRM Ngagel Rejo, Ustadz Hendro Purnomo, M.Pd., dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa komposisi kepengurusan PRM Ngagel Rejo saat ini didominasi oleh generasi muda, yang menjadi modal utama untuk membuat ranting lebih relevan.
“Kami ingin PRM Ngagel Rejo punya ciri khas anak muda, enerjik, kreatif, dan dekat dengan generasi sekarang.” Tuturnya penuh semangat.
Ustadz Hendro, panggilan akrabnya, lebih lanjut menggarisbawahi komitmennya untuk terus mendukung semangat generasi muda di rantingnya.
“Saya sebagai orang yang paling tua di PRM Ngagel Rejo, harus terus belajar menyesuaikan dengan generasi muda. InsyaAllah, kajian inspiratif seperti ini akan rutin kami gelar setiap bulan.” Tandasnya.
Sementara itu, Ustadz Ahmad Mujaddid dalam tausiyahnya menekankan peran sentral pemuda sebagai motor perubahan dan motivator umat. Ia juga mengajak para hadirin untuk bertransformasi menjadi generasi yang proaktif dan visioner.
“Jadilah motivator, bukan provokator. Jadilah pelopor, bukan pengekor. Jadilah solusi, bukan polusi.” Tegas Ustadz Mujaddid, yang merupakan putra dari Ustadz Akhwan Hamid, Ketua PCM Krembangan yang juga Wakil Ketua Kwarda Hizbul Wathan Kota Surabaya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa menjadi pelopor berarti memiliki keberanian untuk melihat apa yang orang lain belum lihat, memikirkan yang belum terpikirkan, dan melakukan aksi tanpa menunggu orang lain memulai.
“Peran vital orang tua dalam mendidik anak dengan cinta, menjadikan rumah sebagai sekolah terbaik, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum utama demi mencetak kader-kader shalih penerus estafet dakwah.” Pungkasnya. (Tsalis).














