Inspirasi Kehidupan : Pentingnya Memahami tentang Makna Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Artinya :“Dari Umar radhiyallahu ‘anhu pula dia berkata; pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata: ‘Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’
Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. Dia berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang iman?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” Ia berkata: ‘Engkau benar.’
Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi: ‘Jelaskan kepadaku tentang ihsan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Diamelihatmu.”
Dia berkata: “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.” Ia berkata: “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku: “Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian.” (HR Muslim).
Memahami kualitas keimanan dalam Islam sering kali diibaratkan seperti membangun sebuah bangunan yang kokoh. Dalam agama Islam, terdapat tiga tingkatan spiritualitas yang saling berkaitan erat, yakni: Islam, Iman, dan Ihsan.
Ketiganya bersumber dari Hadits Jibril yang sangat masyhur, di mana Malaikat Jibril datang menguji pemahaman Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat mengenai esensi agama. Dari hadits itu, kita bisa mengambil hikmah terbaik, yakni:
Pertama, Islam; Dimensi Lahiriyah (Syariat). Islam adalah tingkatan pertama yang berfokus pada kepatuhan fisik dan amal perbuatan yang tampak. Ini adalah fondasi atau gerbang masuk seseorang menjadi muslim.
“Esensinya adalah penyerahan diri secara lahiriah kepada aturan Allah SWT”
Sedangkan yang menjadi pilar utama adalah Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji. Kita bisa memahami bahwa kualitas keimanan seseorang pada tahap ini adalah menjalankan kewajiban, karena ketaatan pada hukum Allah SWT. Nah, jika kita hanya berhenti di sini, maka ibadah kita mungkin terasa sebagai rutinitas atau sekadar menggugurkan kewajiban.
Kedua, Iman; Dimensi Batiniyah (Akidah). Jika Islam adalah aktivitas fisik, maka Iman adalah keyakinan hati. Iman memberikan ruh atau makna di balik setiap amal yang dilakukan secara lahiriah.
“Esensinya adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan perbuatan”
Kita bisa memahami bahwa sebagai pilar utama adalah percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul, Hari Kiamat, serta Qada dan Qadar.
Nah, kualitas iman bersifat fluktuatif (yazid wa yankus; bertambah dan berkurang). Disinilah kita bisa memahami kualitas iman seseorang terlihat dari seberapa tenang hatinya dalam menghadapi ujian hidup dan seberapa tulus ia menjalankan syariat Islam.
Ketiga, Ihsan; Dimensi Kesempurnaan (Akhlak & Spiritualitas). Ihsan adalah tingkatan tertinggi dalam kualitas keagamaan. Ini bukan lagi sekadar tentang apa yang dilakukan atau apa yang diyakini, melainkan tentang bagaimana perasaan kita saat melakukannya.
“Esensinya adalah kesadaran penuh akan kehadiran Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari kita”
Hal ini sesuai dengan definisi yang telah Rasulullah SAW sampaikan dalam hadits nya, yang artinya :“Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Jadi, kualitas orang yang mencapai tingkatan Ihsan (disebut Muhsin) akan melakukan segala sesuatu dengan kualitas terbaik karena ia merasa selalu diawasi oleh Allah.
“Hal inilah melahirkan sifat jujur, ikhlas, dan rendah hati yang sangat mendalam”
Ketiga hal tersebut seperti perumpamaan sebuah bangunan, untuk memudahkan pemahaman kita, yakni:
- Islam adalah dinding dan atapnya (kerangka luar).
- Iman adalah fondasi yang tertanam di dalam tanah (kekuatan dasar).
- Ihsan adalah interior dan keindahan di dalamnya (kenyamanan dan nilai estetika).
Jadi, tanpa fondasi (Iman), bangunan akan roboh. Tanpa dinding (Islam), bangunan tidak berbentuk. Tanpa keindahan (Ihsan), bangunan tersebut tidak akan memberikan ketenangan dan manfaat yang maksimal.
“Kualitas keimanan seseorang dianggap sempurna jika ia mampu memadukan ketiganya secara harmonis: menjalankan syariat (Islam), meyakini kebenaran Allah (Iman), dan menghadirkan Allah dalam setiap helai napasnya (Ihsan)”














