Ngaji Isuk 14 : Memaafkan, Menyembuhkan Hati Mengundang Surga
Oleh Ustadz Muhammad Barid Sadan, S.Ag., M.Pd.I.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Bismillah, Alhamdulillah,.Allahumma shalli ‘ala muhammad wa’ala ali Muhammad
Sahabat ngaji isuk Rahimakumullah, Marhaban ya Ramadhan 1447 H
Berinteraksi dengan sesama itulah kehidupan, bisa menyenangkan atau mengecewakan, bahkan sampai rasa sakit hati, satu kata yaitu memaafkan, amalan hati yang sangat berat namun memiliki keajaiban luar biasa
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩
Artinya :“Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh”. (QS. Al A’raf ayat 199).
وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ
Artinya :“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka”. (QS. Al Imran ayat 159).
Memaafkan bukanlah suatu kelemahan. Justru, memaafkan adalah kekuatan jiwa dan kemuliaan akhlak. Seringkali nafsu kita mendorong untuk membalas, tetapi Islam mengajarkan untuk menahan diri
Memaafkan Membuka Pintu Ampunan
Allah Subhanahu wata’ala QS. An-Nur ayat 22:
وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya :“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nur ayat 22).
Memaafkan adalah Ciri Orang Bertaqwa
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134m:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya :“Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat Kebajikan”. (QS. Ali ‘Imran ayat 134).
Memaafkan Mendatangkan Kemuliaan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya :“Sedekah tidaklah mengurangi harta. tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin membuatnya mulia. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya”. (HR. Muslim).
Memaafkan Pahalanya Dijamin oleh Allah SWT
Allah SWT berfirman dalam QS. Asy syura ayat 40:
وَجَزٰٓؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثۡلُهَاۚ فَمَنۡ عَفَا وَاَصۡلَحَ فَاَجۡرُهٗ عَلَى اللّٰهِؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيۡنَ
Artinya :“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim”. (QS. Asy syura ayat 40).
Sahabat ngaji isuk rahimakumullah, keajaiban memaafkan, secara psikologis, memaafkan adalah penyembuh terbaik, membuat hati tenang, menghilangkan beban mental, dan mengurangi stres
Secara spiritual, memaafkan akan membebaskan hati dari penyakit iri, dengki, dan dendam, sehingga hati menjadi bersih dan bercahaya. Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu, tetapi memaafkan mencerahkan masa depan dan memberikan ketenangan jiwa
Memaafkan memang berat, tapi membenci jauh lebih berat, memaafkan tidak harus menunggu orang lain minta maaf. Memaafkan adalah obat, memaafkan adalah surga dan memaafkan adalah kekuatan.
“Bersihkan hati, jadikan diri kita pribadi yang mudah memaafkan demi meraih cinta Allah Subhanahu wata’ala”














