Sunday, April 19, 2026
Sunday, April 19, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Hadirkan Tema Ramadhan yang Lebih Bermakna dan Bernilai, Dosen UMMAD Jadi Nara Sumber Program Mutiara Pagi RRI Madiun

Must Read

Madiun, liputanmu – Dosen Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Ustadz Suyono, M.Pd., hadir sebagai nara sumber program acara Mutiara Pagi di RRI Pro 1 Madiun, Jum’at, 20 Februari 2026.

Program Mutiara Pagi yang juga disiarkan melalui youtube RRI Madiun tersebut menghadirkan tema; “Ramadhan yang Lebih Bermakna dan Bernilai”, Dengan dipandu host Miftah El Karym, Ustadz Suyono menyampaikan pembahasan mengenai kurikulum Ramadhan yang dibuat Nabi Muhammad SAW.

“Dengan menjalankan kurikulum puasa dari Rasulullah Muhammad SAW tersebut diharapkan puasa yang dijalankan kaum mukmin bisa lebih bermakna dan bernilai.” Terangnya.

Ustadz Suyono juga menyampaikan, jangan sampai melaksanakan ibadah shaum satu bulan dalam satu tahun hanya rutinitas, hanya melaksanakan puasa menggugurkan kewajiban, tidak ada yang bermakna.

“Maka dengan kurikulum Ramadhan dari Nabi Muhammad tersebut, puasa orang yang beriman bisa lebih bermakna dan memiliki nilai lebih.” Tandasnya.

Orientasi Puasa Ramadhan

Dalam paparan awal, Ustadz Suyono menerangkan mengenai orientasi puasa yang dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah ayat 183.

“Ayat ini mudah dihafal, mudah diingat namun memiliki substansi dan esensi luar biasa.” Tegasnya.

Diterangkan Ustadz Suyono, yang mendapat seruan berpuasa didalam ayat ini hanya khusus orang beriman. Mengapa hanya orang beriman yang diperintahkan berpuasa?

“Karena Allah sudah tahu hanya orang berima yang akan mampu melakukan ibadah puasa.” Tandasnya.

Menurutnya, ibadah puasa itu orientasinya membentuk kepribadian taqwa kepada Allah SWT.

‘Yang tadinya sudah beriman, dengan ibadah puasa yang bermakna akan ditingkatkan derajatnya oleh Allah kepada derajat yang paling tinggi namanya derajat Muttaqin atau derajat taqwa.” Terangnya.

Kurikulum Ramadhan

Ustadz Suyono menerangkan, agar puasa umat yang beriman berlangsung dengan baik, maka Rasulullah Muhammad SAW membuat kurikulum puasa.

“Misalnya saat puasa itu apa yang harus kita lakukan? Ada jadwal mulai kita melakukan saur setelah itu apa misalnya baca Al-Qur’an, lalu Shalat Subuh berjamaah lalu mengerjakan aktifitas ibadah lainnya misalnya mengerjakan shalat Dhuha.” Terang Ustadz Suyono yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Madiun tersebut.

Ia lantas menjelaskan bahwa kurikulum puasa pertama yang dilakukan Rasulullah memperbanyak atau meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah shalat.

“Disamping shalat wajib kita juga melaksanakan sholat sunnah karena nilainya dilipat gandakan oleh SWT di bulan puasa. Bahkan dikatakan Rasulullah pahalanya disamakan amalan wajib, ini luar biasa.” Terangnya.

Misalnya Shalat Dhuha atau juga sholat sunah yang melekat di sholat wajib (rawatib) yaitu shalat qabliyah dan badiyah. Malam harinya melaksanakan shalat malam (lail).

“Kita kerjakan shalat sunnah kita, berupaya lebih bernilai mengingat puasa ini hanya satu bulan dalam satu tahun. Malamnya jangan lupa shalat lail kalau tidak bisa dilaksanakan secara rutin di Masjid bisa di rumah.” Jelas Ustadz Suyono.

Berinteraksi dengan Al Qur’an 

Kurikulum kedua adalah berinteraksi dengan Al-Qur’an. Rasul dan sahabat senantiasa tadarus Al-Qur’an tidak bisa meninggalkan untuk membaca Al-Qur’an.

Menurutnya, sekarang sudah banyak tafsir Al-Qur’an yang bisa kita baca kemudian bisa memahami dan arti dan maknanya. Setelah memaknai kita harus bisa mengamalkannya.

“Kenapa senantiasa berinteraksi dengan Alquran karena Al-Qur’an adalah petunjuk. Pada bulan Ramadhan diturunkan Al-Qur’an untuk petunjuk bagi manusia. Dalam aktivitas kita Al-Qur’an jadi petunjuk yang tidak ada keraguan bagi orang bertaqwa.” Terangnya.

Infaq Merupakan Kurikulum Ketiga 

Kurikulum ketiga adalah berinfaq dan bershadaqah sesuai kemampuan yang dimiliki. Jika tidak punya uang pakai tenaga, atau dengan pikiran.

“Misalnya Takmir Masjid memikirkan bagaimana caranya menjadikan Masjid jadi tempat ibadah di bulan puasa yang penuh makna. Contohnya dengan melakukan tadarus, tarawih ataupun melakukan kajian.” Pungkasnya. (Humas/Joko).

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Semangat Kebersamaan dan Panen Amanah, PCM Ngagel Gelar Halalbihalal 1447 H

Surabaya, liputanmu - Mengambil momentum bulan Syawal, Keluarga Besar Muhammadiyah Ngagel Surabaya menggelar agenda Halalbihalal yang berlangsung khidmat di...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img