Surabaya, liputanmu— Suasana Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Musyawarah Daerah (Musyda) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota Surabaya di Smamda Tower mendadak memanas pada Sabtu (26/09/2026) sore sekitar pukul 17.02 WIB. Suasana ruang sidang langsung diselimuti ketegangan setelah kontingen Pimpinan Cabang (PC) IPM Kenjeran secara mengejutkan membentangkan koreografi bertuliskan; “R.I.P PKD SBY” (Rest in Peace Perkaderan Surabaya).
Aksi simbolis tersebut dilancarkan sebagai bentuk kritik tajam sekaligus manifestasi keresahan mendalam para kader terhadap kinerja Bidang Perkaderan (PKD) Pimpinan Daerah (PD) IPM Kota Surabaya selama satu periode kepengurusan.
Ekspresi Kejengkelan dan Matinya Ghirah Organisasi
Perwakilan kontingen PC IPM Kenjeran, Rasya Seagal Aulia, menyatakan bahwa aksi koreo ini merupakan wujud kejengkelan kader terhadap bidang yang seharusnya bertindak sebagai jantung dan motor penggerak organisasi.
“Koreo ini kami hadirkan kepada Pimpinan Daerah IPM Surabaya, lebih utamanya kepada teman-teman bidang perkaderan, sebagai bentuk keresahan dan rasa jengkel kami. Bidang perkaderan seharusnya menjadi bidang sentral yang memupuk serta membarakan semangat dan ghirah ber-IPM.” Tegas Rasya.
Menurut Rasya, Bidang Perkaderan PD IPM Surabaya dinilai gagal menjalankan fungsi utamanya dalam membina serta memfasilitasi jenjang perkaderan kader. Sorotan utama diarahkan pada minimnya antusiasme serta ketiadaan daya tarik bagi pimpinan cabang saat pelaksanaan Taruna Melati 2 (TM 2) di Surabaya. Selain itu, minimnya arus informasi mengenai jenjang perkaderan di daerah lain yang semestinya menjadi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) bidang tersebut turut memperkuat kekecewaan kader.
Tanggapan dan Ruang Refleksi Bersama
Sebelum aksi ini memuncak, pihak Bidang Perkaderan sebenarnya telah memaparkan sejumlah capaian program kerja dalam LPJ mereka—termasuk pelaksanaan TM 2 dan PKP 1—sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas ketidakaktifan beberapa fungsionarisnya. Namun, bagi kontingen Kenjeran, pemaparan tersebut dinilai belum menjawab akar permasalahan perkaderan di tingkat akar rumput.
Aksi koreografi “R.I.P PKD SBY” ini berhasil menyedot perhatian seluruh peserta Musyda dan memicu dinamika serta perdebatan hangat di ruang sidang. Melalui pesan tersirat tersebut, kontingen Kenjeran menyerahkan interpretasi makna koreo kepada seluruh kader IPM Surabaya agar dijadikan bahan refleksi bersama demi perbaikan sistem perkaderan yang lebih progresif di Kota Pahlawan ke depan. (Revaldi).














