Wednesday, October 14, 2026
Wednesday, October 14, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Muhammadiyah Duduk Bersama Kuburiyun?

Must Read

Muhammadiyah Duduk Bersama Kuburiyun?

Oleh KH. Nurbani Yusuf 

(Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar)

Orang kafir, ketika masa perang dalam berbagai bentuknya, adalah musuh yang nyata. Namun, saat damai, mereka adalah lahan dakwah sekaligus ladang amar makruf nahi mungkar yang harus didekati dengan kedamaian dan kelembutan hati.

Lantas, bagaimana dengan sesama orang beriman yang berbeda manhaj? Jawabannya jelas: mereka adalah saudara.

Sebaliknya, Salafisme kerap memandang orang mukmin yang berbeda manhaj sebagai pihak yang tersesat atau melakukan bid’ah. Padahal, Muhammadiyah tidak pernah gemar menyesatkan, tidak hobi membid’ahkan, apalagi mengkafirkan kaum Salafi, sebagaimana yang terkadang justru dialamatkan oleh sebagian kalangan mereka kepada para ulama dan warga Muhammadiyah.

Muhammadiyah menyadari bahwa dirinya banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Muhammadiyah bukanlah yang terbaik, sebab itu ia tidak merendahkan. Muhammadiyah tidak merasa paling sunah, sebab itu tidak mudah membid’ahkan. Muhammadiyah juga tidak merasa paling beriman, sebab itu tidak gampang mengkafirkan sesama mukmin yang berbeda pandangan.

Bagi Muhammadiyah, kelompok atau aliran yang berbeda tetaplah saudara seiman:

  • Nahdlatul Ulama (NU), Tarbiyah, Ikhwanul Muslimin, hingga pengikut Salafi adalah saudara seiman yang kebetulan berbeda manhaj.
  • Kaum Salafi bukanlah musuh, melainkan saudara seiman lain jalur pemikiran.

Bahkan, warga Muhammadiyah dibolehkan menimba ilmu dari ulama Salafi, sah bermakmum kepada ulama Nahdliyin, hingga menunaikan salat Jumat di Masjid Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Salat Jumat di Masjid LDII tetap sah hukumnya, berbeda dengan pandangan sebagian pihak LDII yang kala itu melarang jamaahnya bermakmum di belakang imam Masjid Muhammadiyah.

Warga Muhammadiyah boleh salat Jumat di masjid LDII, boleh duduk bersama, berjabat tangan, bahkan bertukar pandangan demi kemaslahatan bersama. Muhammadiyah memandang semua orang beriman bersaudara, meski cara takbirnya berbeda, bacaan rukuk dan sujudnya tidak sama, atau tata cara tahiyatnya berlainan.

Muhammadiyah konsisten mengajak umat untuk berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat), membangun kompetisi produktif yang sehat, serta menguatkan ukhuwah Islamiyah alih-alih saling mencela atau menyesatkan sesama mukmin.

“Muhammadiyah siap bekerja sama dengan kelompok Islam mana pun tanpa diskriminasi, bermuamalah secara setara, saling menghargai, dan saling menghormati”

Membangun komunikasi serta silaturahim dengan siapa saja, termasuk dengan para Habaib, bukanlah sebuah cela atau aib. Duduk bersama para Habaib justru adalah sebuah kemuliaan, kehormatan, dan ikhtiar merawat tradisi luhur yang penuh keberkahan.

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Apakah ‘Salafi’ Bermanhaj Salaf?

Apakah ‘Salafi’ Bermanhaj Salaf? Oleh KH. Nurbani Yusuf  (Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar) Al-Mukarram Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani bukanlah ulama Salaf. Beliau lahir...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img