Friday, October 23, 2026
Friday, October 23, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Momentum Hari Santri 2026, Akademisi UM Bima Serukan Jihad Melawan Narkoba untuk Selamatkan Generasi

Must Read

Bima, liputanmu— Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 yang mengusung tema; “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, dimaknai oleh Akademisi Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima), Salmin, M.Pd., sebagai momentum penting untuk mengobarkan gerakan jihad melawan peredaran narkoba di wilayah Bima. Rabu (22/10/2026).

Di tengah kemeriahan berbagai agenda seremonial Hari Santri, Salmin mengingatkan adanya ancaman nyata yang tengah menggerus masa depan generasi muda di Kota maupun Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurutnya, momentum kebangkitan santri harus menjadi titik tolak lahirnya gerakan masif menuju Bima Bebas Narkoba.

Narkoba dalam Pandangan Al-Qur’an: Merusak Akal dan Sumber Kebinasaan

Dalam tinjauan agama, narkoba dikategorikan sebagai khamr—zat memabukkan yang merusak akal sehat. Islam menempatkan penjagaan akal (hifzhul aql) sebagai salah satu pilar utama dalam Maqashid Syariah.

Penegasan tersebut merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 90, yang artinya :“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Salmin menjelaskan, ayat tersebut merupakan dalil qath’i bahwa segala sesuatu yang merusak akal dan menimbulkan ketergantungan hukumnya haram. Ketika akal seseorang rusak akibat barang haram tersebut, maka esensi kemanusiaannya pun ikut runtuh.

Narkoba Picu Kejahatan Berantai dan Putus Sekolah

Sebagai seorang pendidik, Salmin mengungkapkan rasa mirisnya terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh narkoba. Peredaran dan penyalahgunaan zat adiktif ini dinilai menjadi akar dari berbagai tindak kejahatan berat di tengah masyarakat.

“Ketika seseorang sudah terpapar narkoba, di momen Hari Santri ini kita harus jujur, banyak kejahatan lahir dari sana. Karena akalnya hilang, ia bisa melakukan pemerkosaan, merusak diri sendiri, menjadi pemboros harta keluarga, bahkan tega membunuh teman dan keluarganya sendiri. Ini fakta sosial yang terjadi.” Tegas Salmin.

Menurutnya, dampak destruktif tersebut juga dirasakan langsung di sektor pendidikan. Banyak pelajar maupun mahasiswa cerdas dan berprestasi yang terpaksa putus sekolah atau kuliah karena terjerat pusaran narkoba, sehingga masa depan mereka hancur seketika.

“Satu anak kena narkoba, satu keluarga hancur, satu kampung kehilangan generasi. Maka pesantren dan kampus harus menjadi benteng pertama.” Imbuhnya.

Kearifan Lokal “Maja Labo Dahu” dan Wujudkan Bima Percontohan Nasional

Dari perspektif pendidikan karakter, Salmin menilai Bima memiliki modal sosial yang kuat untuk memelopori gerakan antikorupsi dan antinarkoba. Nilai kearifan lokal masyarakat Bima, yakni “Maja Labo Dahu” (rasa malu dan takut berbuat salah), dinilai sangat sejalan dengan nilai-nilai kesantrian.

Ia mendorong agar nilai-nilai luhur tersebut dihidupkan kembali secara konsisten di lingkungan sekolah, pesantren, kampus, hingga tingkat RT/RW.

“Bima harus menjadi laboratorium terbaik gerakan santri bebas narkoba. Kita mulai dari masjid, dari pesantren, dari kampus UM Bima, dari RT/RW. Jika Bima bisa bersih, Indonesia akan melihat Bima sebagai contoh. Ini sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang butuh SDM unggul, bukan SDM yang rusak karena narkoba.” Jelas Salmin.

Sinergi Bersama Perangi Narkoba

Di akhir pandangannya, Salmin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu. Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum semata.

Dibutuhkan kolaborasi aktif antara kepolisian, BNN, TNI, lembaga pendidikan, hingga masyarakat luas untuk saling bahu-membahu. Peran serta masyarakat untuk berani melapor, pesantren yang aktif mendidik, serta kampus yang masif melakukan edukasi menjadi kunci utama.

“Jadilah santri yang baik, santri yang tidak hanya saleh ritual, tapi juga saleh sosial, berani mengatakan tidak pada narkoba.” Pungkasnya.

Peringatan Hari Santri 2026 di Bima ini diharapkan tidak sekadar meninggalkan dokumentasi seremonial semata, melainkan melahirkan aksi nyata yang berkelanjutan—seperti Deklarasi Pesantren Bersinar (Bersih Narkoba), pembentukan Satgas Santri Anti Narkoba di setiap desa, serta penguatan karakter generasi muda demi menyongsong masa depan bangsa yang gemilang. (Sal).

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Tumbuhkan Empati dan Maknai Hari Santri 2026, Spemnas Gelar Salat Istisqa’ di Rooftop Sekolah

Surabaya, liputanmu— Sebanyak 167 siswa SMP Muhammadiyah 16 Surabaya (Spemnas) bersama para guru dan tenaga kependidikan menggelar Salat Istisqa’...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img