Inspirasi Kehidupan: Setan Gepeng, Hantu Digital yang Paling Dekat Dengan Anak Kita
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Waspadalah! Bisa jadi malam ini anak kita tidak sedang bermain HP. Bisa jadi, justru HP-lah yang sedang “bermain” dengan pikiran anak kita.
Dulu, anak-anak takut pada jaelangkung. Boneka kecil yang konon bisa bergerak sendiri. Orang tua pun sibuk mengingatkan, “Jangan main yang begitu, nanti ketakutan!”
Tetapi zaman berubah. Hari ini ada makhluk yang jauh lebih menakutkan. Bukan tinggal di rumah kosong, bukan muncul tengah malam, dan bukan mengetuk pintu.
Ia ada di tangan anak kita setiap hari, namanya; “Setan Gepeng”. Bentuknya sederhana; handphone.
Masalahnya bukan pada handphone, karena teknologi hanyalah alat. Yang berbahaya adalah ketika di dalamnya tinggal ribuan “jaelangkung digital”: konten yang terus memanggil, algoritma yang terus menggoda, video pendek yang tak ada habisnya, game yang membuat lupa waktu, hingga tontonan yang perlahan-lahan menyusup ke pola pikir dan mental anak.
Inilah masalah yang sering tidak kita sadari. Anak terlihat diam di kamar. Tidak berisik. Tidak bermain di luar. Orang tua merasa aman. Padahal pikirannya sedang dibombardir.
Hari ini melihat satu video. Besok mencari lagi. Lusa algoritma menyodorkan yang lebih ekstrem. Lama-lama apa yang dulu dianggap aneh menjadi biasa, apa yang dulu dianggap salah menjadi hiburan, dan apa yang dulu membuat malu justru dianggap keren.
“Yang berubah bukan sekadar kebiasaan anak. Yang sedang diperebutkan adalah cara anak memandang dunia”
Lebih mengerikan lagi, kita sering marah ketika anak terlalu lama memegang HP, tetapi setelah itu kita sendiri kembali memberikan HP sebagai “pengasuh digital”.
Anak menangis → HP, Anak bosan → HP, Anak makan → HP, Anak ingin tidur → HP. Tanpa sadar, kita sedang menyerahkan sebagian tugas mendidik anak kepada algoritma.
Lalu siapa yang sebenarnya sedang membesarkan anak kita? Kita… atau layar?Jangan tunggu sampai anak kecanduan baru kita panik. Solusinya bukan sekadar “Ambil HP-nya!”
Solusinya adalah menghadirkan kembali orang tua dalam kehidupan anak. Buat aturan penggunaan gawai. Temani ketika anak berselancar di dunia digital. Pilihkan tontonan. Bangun kebiasaan membaca, bermain, berbicara, beribadah, berolahraga, dan berkegiatan bersama.
Yang paling penting: jangan hanya mencabut HP dari tangan anak, tetapi isi tangannya dengan aktivitas yang lebih bermakna dan isi hatinya dengan kasih sayang.
Karena anak yang merasa dicintai tidak akan mencari pelarian terus-menerus di layar. Jangan biarkan “setan gepeng” menjadi pengasuh anak kita. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar berapa jam anak menatap layar.
“Yang sedang kita pertaruhkan adalah masa depan pikirannya, kekuatan mentalnya, akhlaknya, bahkan arah hidupnya”
Teknologi boleh berada di tangan anak. Tetapi kendali atas masa depannya harus tetap berada di tangan orang tua. (Taufikhi).














