Surabaya, liputanmu – Kisah Gus Dur menginpirasi para peserta Baitul Arqom (BA) Guru dan Karyawan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo Surabaya. Sabtu (22/02/2025).
Baitul Arqom sebagai agenda tahunan PCM Wonokromo setiap menjelang Bulan Suci Ramadhan dilaksanakan di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Wonokromo Gadung Wonokromo Surabaya.
Hal ini tidak biasa, karena kegiatan ini biasanya dilaksanakan di luar kota dengan menginap di hotel, atau menyewa villa. Ini semua dimaksudkan untuk efisiensi biaya
“Kami melaksanakan himbauan dari Presiden Prabowo Subianto untuk selalu menghemat biaya.” Ujar Ustadz Ahmad Zainuri Alif, M.Pd. Kepala Sekolah Inovatif SD Muhammadiyah 7 Surabaya, sekaligus sebagai Ketua Panitia.
Kegiatan yang diikuti oleh tidak kurang dari 200 peserta ini melibatkan seluruh guru dan karyawan di bawah naungan Majelis Dikdasmen PCM dan PCA Wonokromo Surabaya. Diantaranya SD Muhammadiyah 6 (SD Musix), SD Muhammadiyah 7 Jagir, SD Muhammadiyah 24 Ketintang, SMP Muhammadiyah 4, SMA Muhammadiyah 3 Gadung, TK ABA 02, TK AB 09 dan TK ABA 16.
Berbagai materi yang disajikan diantaranya adalah Gerakan Jamaah Gerakan Dakwah (GJGD) yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Nurbani Yusuf, M.Si. Ia menyampaikan bahwa Organisasi yang mempunyai ide Gerakan Jamaah, Dakwah Jamaah adalah Muhammadiyah.
“Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan dakwah. Organisasi ini didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta, Indonesia.” Ujarnya.
Kemudian, ia menjelaskan bahwa Gerakan Jamaah, Dakwah Jamaah adalah salah satu konsep dakwah yang dikembangkan oleh Muhammadiyah. Konsep ini bertujuan untuk membangun komunitas yang kuat, solid, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai Islam melalui kegiatan dakwah yang dilakukan secara bersama-sama.
“Seharusnya saat ini dakwah kita jangan hanya membahas masalah-masalah khilafiyah.” Kata dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memulai ceramahnya.
Sementara itu, ormas-ormas lain sudah bicara masalah ekonomi, politik, technologi, perbankan dan lain-lain. Selanjutnya dia memberikan contoh dakwah ala Abdul Rozaq Fahruddin yang akan disapa Pak AR, dakwah kultural.
“Suatu ketika Pak AR selalu Ketua PP Muhammadiyah pernah diundang Gus Dur sebagai Ketua PB NU Untuk berbuka puasa.” Katanya
Ia lantas menjelaskan kisah Pak AR menghadiri undangan tersebut. Jamuan berbuka puasa pun dinikmatinya. Selesai berbuka dia pamitan.
“Gus, saya sudah selesai berbuka puasa. Saya mau pamitan.” Ujar Pak AR kalem.
“Lho, acara belum selesai, Pak AR nanti jadi imam sholat tarawih.” Balas Gus Dur.
Mendengar jawaban Gus Dur, Pak AR agak sedikit kaget. Karena gak mungkin Pak AR sholat tarawih 23 raka’at. Tetapi Pak AR tidak akan kehilangan cara.
Sholat Tarawih pun diami Pak AR. Surat yang dibacanya sengaja dibacakan yang jumlah ayatnya panjang.
Dengan khusuk dan tuma’ninah Pak AR ngimami para jamaah yang mayoritas warga NU. Tahapan salam pertama dan kedua terasa tidak yang berbeda, Pak AR pun tetap menjadi imam yang khusuk.
Ternyata, setelah raka’at yang ke delapan, Pak AR menawarkan kepada jama’ah.
“Maaf para jama’ah, kita lanjutkan sebelas raka’at apa dua puluh tiga raka’at.” Tanya Pak AR
“Sebelas raka’at saja, Pak Kyai.” Sahut jama’ah hampir bersamaan. Ternyata para makmum tidak betah jika sholat Tarawih hingga 23 raka’at.
Dengan cerita yang dikisahkan kembali Nurbani panggilan akrab Nurbani Yusuf para peserta BA tertawa. (Basirun).














