Surabaya, liputanmu – 30 Agustus 2025, di tengah gegap gempita Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (FASHMU) 2025, yang menjadi rangkaian Semarak Milad Muhammadiyah ke-113 di SMAMDA Tower Surabaya, sebuah suara adzan menggema dengan begitu merdu, penuh penghayatan, hingga mampu membuat hadirin terdiam seketika.
Suara itu milik Ahmad Roihan Habibi, siswa kelas X DKV 1 SMK Muhammadiyah 1 Surabaya (SMK MUDISA), yang kemudian diumumkan sebagai Juara 1 Lomba Adzan.
Namun, di balik kemenangan ini, tersimpan sebuah kisah pilu yang membuat siapa pun meneteskan air mata.
Anak Dhuafa dengan Semangat Tak Pernah Padam
Roihan bukanlah anak yang lahir dari keluarga berada. Sehari-hari, ia hidup bersama orang tua yang penuh keterbatasan. Perekonomian keluarga yang serba kekurangan membuatnya sempat terlambat masuk sekolah. Bahkan, tak jarang ia hampir berhenti menuntut ilmu karena biaya yang tak sanggup dibayar.
“Saya dulu sempat berpikir mungkin saya tidak bisa sekolah tinggi seperti teman-teman lain. Biaya Sekolah sangat berat untuk orang tua saya.” Ungkap Roihan dengan suara lirih, mengenang masa sulitnya.
Namun, di balik segala keterbatasan itu, tersimpan api semangat yang tak pernah padam. Roihan tetap belajar, tetap bercita-cita, dan tetap berdoa agar Allah membuka jalan.
SMK MUDISA, Donatur, dan KL LAZISMU: Jalan Cahaya yang Allah Kirimkan
Allah menjawab doa itu melalui SMK Muhammadiyah 1 Surabaya. Ketika hampir menyerah, Roihan diterima melalui jalur dhuafa. Tapi perjuangannya tidak berhenti di sana. Biaya sehari-hari dan ancaman putus sekolah masih menghantui.
Di sinilah peran besar para donatur dan KL LAZISMU SMK MUDISA hadir sebagai malaikat penolong. Bantuan demi bantuan mengalir, memastikan Roihan tetap bisa belajar dan meraih cita-citanya.
“Kami tidak ingin ada anak yang berhenti Sekolah, hanya karena tidak mampu membayar. Roihan adalah bukti nyata bahwa setiap anak, apapun latar belakangnya, berhak mendapat kesempatan untuk sukses.” Ujar salah satu pengurus KL LAZISMU SMK MUDISA dengan mata berkaca-kaca.
Suara Adzan yang Menyentuh Langit
Ketika lomba dimulai, Roihan berdiri di depan mikrofon. Dengan penuh keyakinan, ia melantunkan adzan. Suaranya merdu, penuh getaran iman, seakan setiap lafadz lahir dari hati yang tulus.
Hadirin yang mendengar tidak hanya menikmati indahnya lantunan itu, tapi juga merasakan energi haru yang tak terucapkan. Seolah setiap kata adalah doa panjang seorang anak dhuafa yang berjuang menembus batas.
Dan ketika diumumkan sebagai Juara 1, seketika tepuk tangan membahana. Namun, lebih dari itu, air mata mengalir deras. Guru-gurunya, teman-temannya, bahkan panitia lomba, ikut menangis menyaksikan bagaimana perjuangan seorang anak dengan segala keterbatasan bisa berdiri gagah sebagai pemenang.
Syukur yang Menggetarkan Hati
Usai menerima penghargaan, dengan suara bergetar Roihan berkata,
“Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di sini. Terima kasih kepada Allah, orang tua saya yang selalu mendoakan meski dalam keadaan serba kekurangan, bapak ibu guru di SMK MUDISA, para donatur, dan LAZISMU yang sudah membantu saya agar tetap bisa Sekolah. Kemenangan ini bukan hanya untuk saya, tapi untuk semua yang percaya bahwa anak seperti saya juga bisa berprestasi. InsyaAllah, saya ingin terus belajar agar bisa membahagiakan orang tua saya.” Tandasnya.
Kata-katanya membuat suasana semakin hening. Banyak orang menunduk, menahan tangis, menyadari betapa besar kuasa Allah dalam mengangkat derajat hamba-Nya yang sabar dan tidak menyerah.
Kepala Sekolah MUDISA: Kemenangan Hidup
Dalam kesempatan tersebut, Kepala SMK MUDISA, Ustadz Irvandy Andriansyah, ST., MT., turut menyampaikan rasa bangga atas prestasi yang diraih oleh siswanya, khusus Roihan.
“Prestasi Roihan bukan sekadar gelar juara, tapi juga kemenangan hidup. Ia adalah inspirasi nyata bagi kita semua.” Tuturnya dengan penuh haru.
Lebih lanjut, ia menyampaikan terima kasih kepada para donatur dan KL LAZISMU SMK MUDISA yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
“Semoga semakin banyak anak-anak dhuafa yang terbantu, dan semakin banyak generasi bangsa yang terlahir dari kepedulian umat.” Imbuhnya.
Kisah Roihan, Inspirasi untuk Umat
Hari ini, kisah Roihan bukan hanya tentang lomba adzan. Kisahnya adalah tentang harapan, perjuangan, dan cinta kasih yang saling menguatkan. Tentang bagaimana sebuah sekolah, para donatur, dan LAZISMU bersatu menyelamatkan masa depan seorang anak.
“Suara adzan Roihan akan selalu dikenang bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena di setiap lafadznya terkandung cerita tentang air mata, doa, dan perjuangan.” Kata Ustadz Irvandy yang juga sebagai Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kenjeran ini.
“Dari seorang anak dhuafa yang hampir putus sekolah, kini ia berdiri gagah sebagai juara. Dan kisah ini akan terus menggema, menginspirasi ratusan bahkan ribuan hati, bahwa dari keterbatasan, Allah bisa menghadirkan keajaiban.” Pungkasnya. (Irv).














