Surabaya, liputanmu – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi Pencerah di Masjid Syuhada Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung pada Ahad, 4 Januari 2025. Kajian kali ini menghadirkan Ustadz Drs. Najih Ihsan dengan tema; “Pendekatan Iman dalam Memahami Allah”.
Dalam tausiahnya, Ustadz Najih menekankan bahwa tauhid tidak boleh dibangun di atas spekulasi akal. Menurutnya, akal memang memiliki peran penting dalam urusan dunia, namun tidak berlaku bebas ketika pembahasan menyentuh Allah dan perkara ghaib.
“Dalam urusan dunia, akal sangat dibutuhkan. Tapi ketika berbicara tentang Allah dan hal-hal ghaib, sikap seorang mukmin adalah tunduk kepada wahyu.” Ujarnya.
Ia lantas menjelaskan bahwa segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah, baik nama, sifat, maupun perbuatan-Nya, wajib diimani sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hal tersebut tidak boleh diserupakan dengan makhluk, serta tidak layak dipertanyakan hakikatnya.
“Allah itu ada dan dikenal, tetapi hakikat-Nya tidak terjangkau oleh akal manusia.” Imbuhnya.
Lebih lanjut, Ustadz Najih mencontohkan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fungsi bintang sebagai pelempar setan. Menurutnya, ayat tersebut bukan untuk diuji dengan logika atau pendekatan sains semata, melainkan untuk diimani.
“Tidak semua kebenaran harus bisa dibuktikan oleh manusia. Ada wilayah iman yang memang menuntut kita untuk percaya.” Tandasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan pertama dalam sejarah akidah bukanlah karena kebodohan, melainkan karena mendahulukan logika di atas perintah Allah. Hal itu, menurutnya, tercermin dari sikap iblis yang menolak sujud kepada Nabi Adam.
“Iblis tidak bodoh. Ia menggunakan logika, tetapi logika itu melawan perintah Allah. Dari sinilah akar bid’ah bermula.” Tegasnya.
Dalam pembahasan Asma dan Sifat Allah, Ustadz Najih menegaskan pentingnya bersikap sesuai tuntunan nash. Termasuk ketika Al-Qur’an dan hadits menyebutkan sifat Allah, seperti penyebutan jari Allah.
“Sikap yang benar adalah menetapkan sebagaimana nash, tanpa menyerupakan dan tanpa menolak. Menolak sifat Allah karena dianggap tidak masuk akal justru menyimpang dari tauhid.” Jelasnya.
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa tauhid yang benar akan melahirkan kedekatan antara hamba dan Allah. Hal ini tercermin dalam QS. Al-Baqarah ayat 186, di mana Allah SWT menjawab langsung pertanyaan hamba-Nya tanpa perantara.
“Tauhid itu mendekatkan, bukan menjauhkan. Allah tidak jauh dari hamba-Nya yang bertauhid.” Tuturnya.
Ustadz Najih juga menguraikan ciri orang bertauhid sejati sebagaimana disebutkan dalam QS. Az-Zumar ayat 17–18. Mereka adalah orang-orang yang aktif mencari ilmu, mau mendengarkan berbagai penjelasan, lalu mengikuti yang paling benar berdasarkan dalil.
“Tauhid tidak melahirkan fanatisme buta, tapi kerendahan hati untuk mengikuti kebenaran.” Tandasnya.
Ia menegaskan bahwa mengenal Allah, agama, dan Rasul tidak boleh dibangun di atas asumsi, perasaan, atau pendapat pribadi, melainkan harus berlandaskan dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
“Tauhid tidak cukup diucapkan. Ia harus dipahami, dijelaskan, dan diwujudkan dalam kehidupan.” Katanya.
Dalam penutup kajian, Ustadz Najih merangkum iman kepada Allah dalam empat perkara: meyakini wujud Allah, mengimani Rububiyah-Nya, mengesakan Allah dalam ibadah (Uluhiyah), serta mengimani Asma dan Sifat-Nya sesuai wahyu.
Menurutnya, tauhid yang benar akan melahirkan ketundukan, ketenangan, keberanian dalam kebenaran, serta keikhlasan dalam beribadah.
“Semakin lurus tauhid seseorang, semakin kuat hubungannya dengan Allah dan semakin sedikit ia mempertanyakan perkara yang telah Allah tetapkan.” Pungkasnya. (Taufik Hidayanto).














