Inspirasi Kehidupan : Tiket Mudik Gratis yang Selalu Dinanti
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.,
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
“Banyak orang takut tidak dapat tiket mudik. Padahal yang lebih menakutkan adalah tidak mendapat tiket menuju surga”
Di negeri ini, ketika ada pengumuman mudik gratis, orang rela mengantri sejak malam. Ada yang membawa tikar, ada yang menunggu sampai subuh, demi satu tiket perjalanan pulang.
Karena pulang, selalu dirindukan. Pulang ke kampung halaman, pulang bertemu orang tua, pulang ke rumah masa kecil.
Namun ada satu pertanyaan yang sering membuat hati terdiam. Jika untuk pulang ke kampung saja kita rela menunggu berjam-jam, mengapa untuk pulang menuju surga, kita sering tidak sempat?
Padahal Allah sudah membuka program mudik terbesar sepanjang sejarah. Tanpa biaya, tanpa undian, tanpa kuota, dan keberangkatannya jelas: tiga malam terakhir Ramadhan.
Tiketnya bukan KTP, bukan aplikasi pendaftaran, tiketnya adalah: air mata di sepertiga malam, sujud yang lama, dzikir yang tulus, dan hati yang benar-benar ingin kembali kepada Allah.
Ironisnya, ketika mudik gratis diumumkan, manusia berbondong-bondong datang. Namun ketika Allah mengumumkan: Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.
Masjid justru mulai sepi, sajadah mulai jarang terbentang, doa mulai pendek-pendek. Padahal mungkin, itulah malam terakhir kesempatan hidup kita.
Saudaraku, jika untuk pulang ke kampung kita begitu bersemangat, maka lebih pantas lagi kita bersemangat untuk pulang ke surga. Karena kampung halaman hanya sementara, tetapi surga adalah rumah kita yang sebenarnya.
Maka sebelum Ramadhan pergi, sebelum kesempatan ini selesai, mari kita berburu tiket mudik menuju surga. Karena bisa jadi, ini Ramadhan terakhir kita.
Dan jangan sampai suatu hari kita menyesal sambil berkata: Dulu aku sangat semangat mengejar mudik dunia, tapi aku lalai mengejar mudik menuju surga.
“Suatu hari nanti kita semua pasti pulang. Pertanyaannya bukan kapan pulangnya, tapi ke mana tujuan pulangnya”














