Surabaya, liputanmu – Penampilan memukau ditunjukkan oleh tim seni musik tradisional siswa Sekolah Qur’anic and Internasional Insight SD Muhammadiyah 6 (SD Musix) Gadung Surabaya dalam ajang Final Lomba Kreativitas Siswa tingkat kota. Dengan mengusung kolaborasi angklung, kolintang, dan nasyid, tim ini berhasil menyita perhatian penonton sekaligus meraih juara 2. Selasa (31/03/2026).
Perpaduan bunyi angklung yang lembut dengan dentingan kolintang yang ritmis menghadirkan harmoni khas Nusantara. Ditambah dengan sentuhan vokal nasyid dan koreografi yang terstruktur, penampilan siswa tampak matang, kompak, dan penuh penghayatan.
Di balik kesuksesan tersebut, terdapat peran penting pelatih tim, Ustadz Syamsul Hadi, yang dikenal memiliki keahlian di bidang alat musik tradisional, khususnya angklung dan kolintang. Melalui bimbingannya, para siswa mampu menyatukan perbedaan karakter kedua alat musik tersebut menjadi sajian yang harmonis.
Sementara itu, aspek koreografi ditangani oleh Ustadzah Ike Zane, yang dikenal sebagai sosok disiplin dan perfeksionis dalam setiap garapan. Gerakan yang rapi dan selaras menjadi nilai tambah yang memperkuat penampilan tim di atas panggung.
Perjalanan menuju keberhasilan ini tidaklah mudah. Para siswa harus membawakan medley enam lagu daerah, yakni; Semanggi Suroboyo, Rek Ayo Rek, Lenggang Suroboyo, Surabaya Oh Surabaya, Tanjung Perak, serta Sipatokaan.
Tantangan muncul dari perbedaan notasi dan gerakan antara angklung dan kolintang yang harus diselaraskan secara presisi.
Selain itu, proses latihan juga berlangsung di tengah bulan Ramadhan. Meski harus menahan haus dan lapar, para siswa tetap menunjukkan semangat tinggi. Bahkan, waktu libur Hari Raya Idulfitri pun dimanfaatkan untuk latihan pemantapan.
Salah satu wali murid, May Puspita Sari, ibu dari Ramsha Shaquilla Nabila Adistyansyah (kelas 5-ICP), mengungkapkan rasa bangganya atas perjuangan anak-anak.
“Ini pengalaman pertama mereka mengikuti lomba kolaborasi angklung, kolintang, dan nasyid dengan konsep medley.” Ujarnya.
Anak-anak, sambungnya, sempat merasa kesulitan karena harus menyesuaikan not dan gerakan yang berbeda. Namun, mereka tetap berlatih dengan penuh semangat, bahkan di bulan puasa dan saat libur Lebaran.
Ia kemudian menambahkan, hasil yang diraih menjadi bukti dari kerja keras yang telah dilalui bersama.
“Alhamdulillah, hasil tidak mengkhianati usaha. Anak-anak meraih juara 2, dan itu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun yang paling penting, mereka belajar kerja sama tim, berani tampil, dan membangun kepercayaan diri.” Tuturnya.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi prestasi bagi Sekolah, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda mampu melestarikan sekaligus mengembangkan seni budaya tradisional dengan kreativitas dan semangat yang tinggi. (Basirun).














