Menjaga Akar AUM, Menyiapkan Masa Depan: Memupuk Ruh Perjuangan Muhammadiyah di Sekolah
Oleh Ustadz Anas Febriyanto, S.Pd.
(Kader Muda Muhammadiyah Surabaya)
Sekolah Muhammadiyah tidak sepatutnya dipahami sebatas lembaga pendidikan yang mengejar prestasi akademik, kuantitas peserta didik, akreditasi, atau berbagai indikator keberhasilan fisik semata.
Di balik tegaknya sekolah Muhammadiyah, tersemat amanah mendasar yang jauh lebih besar: melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, memiliki kepekaan sosial, serta mampu meneruskan tongkat estafet perjuangan Persyarikatan.
“Di sinilah letak urgensi menjaga akar sekaligus menyiapkan masa depan”
Sejak awal berdiri, Muhammadiyah tidak pernah memisahkan pendidikan dari dakwah. Sekolah merupakan ruang strategis untuk menanamkan nilai Islam berkemajuan sekaligus memperkenalkan identitas, sejarah, gagasan, dan spirit perjuangan Muhammadiyah kepada generasi muda.
Oleh karena itu, proses pembelajaran di sekolah Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan harus menjadi kawah candradimuka pembentukan karakter dan kaderisasi.
Tantangan Orientasi di Era Modern
Di tengah derasnya tuntutan modernisasi, orientasi sekolah kerap terjebak pada capaian-capaian serba terukur yang kasat mata. Prestasi akademik, kemenangan kompetisi, kelengkapan fasilitas, integrasi teknologi, hingga jumlah siswa memang vital.
Namun, ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: Setelah lulus, apakah para peserta didik masih memiliki keterikatan batin dengan nilai dan cita-cita perjuangan Muhammadiyah?
Pertanyaan ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Jangan sampai sekolah Muhammadiyah sukses mencetak lulusan berprestasi, tetapi kehilangan momen emas untuk melahirkan kader. Jangan sampai peserta didik mengenal Muhammadiyah sebatas nama yayasan atau merek sekolah, tanpa memahami alasan mendasar mengapa gerakan ini didirikan dan mengapa perjuangannya harus dilanjutkan.
AIK dan Perkaderan Kultur Sikap
Atas dasar itu, mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) harus diposisikan sebagai ruh pendidikan, bukan sekadar pelengkap kurikulum. Nilai-nilai AIK wajib mewujud dalam budaya sekolah, keteladanan pendidik, dinamika organisasi kesiswaan, kepedulian sosial, serta kedisiplinan harian.
Perkaderan pun tidak boleh melulu dimaknai sebagai kegiatan formal berbasis ruangan. Proses kaderisasi justru tumbuh subur melalui pembiasaan, keteladanan, ruang dialog yang terbuka, aksi sosial, pendalaman sejarah, keterlibatan di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) maupun Hizbul Wathan (HW), hingga partisipasi aktif dalam agenda-agenda Persyarikatan.
Dalam proses ini, guru dan tenaga kependidikan memegang peran sentral. Mereka bukan sekadar pekerja profesional, melainkan representasi hidup dari nilai-nilai Muhammadiyah. Ketika wacana pengabdian digelorakan tanpa contoh nyata, atau ketika pentingnya berorganisasi diajarkan tanpa memberi ruang berproses yang cukup bagi siswa, maka di situlah terjadi kesenjangan antara retorika dan realitas.
Menjawab Tantangan Zaman
Tantangan era digital kian kompleks. Generasi muda tumbuh berdampingan dengan kecerdasan buatan, media sosial, dan arus informasi yang sangat cepat. Sekolah Muhammadiyah tentu tidak boleh tertutup dari perubahan. Sebaliknya, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan optimal untuk memperkuat sistem pendidikan.
Meski demikian, modernisasi tidak boleh menggerus identitas. Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Prestasi adalah capaian, bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Sementara itu, kaderisasi adalah investasi jangka panjang demi keberlangsungan gerakan.
Sekolah Muhammadiyah harus mampu melahirkan generasi yang tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari Muhammadiyah?”, melainkan berani menegaskan, “Apa yang dapat saya kontribusikan untuk Muhammadiyah dan umat?”
Menghidupkan Ranting dan Cabang
Pada akhirnya, tanggung jawab menjaga ruh perjuangan Muhammadiyah tidak boleh dibebankan kepada peserta didik semata. Guru dan karyawan harus mengambil peran aktif dalam ekosistem Persyarikatan. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukanlah sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ladang pengabdian dakwah yang memuat tanggung jawab ideologis dan sosial.
Sudah saatnya jajaran pendidik dan tenaga kependidikan tidak melimitasi diri pada rutinitas persekolahan. Mereka perlu hadir dan aktif menghidupkan Pimpinan Cabang, Pimpinan Ranting, maupun Organisasi Otonom (Ortom) sesuai kapasitas masing-masing. Langkah ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban organisatoris, melainkan wujud kesadaran bahwa Muhammadiyah membutuhkan manusia-manusia yang mau bergerak secara nyata.
Sekolah Muhammadiyah harus menjadi gerbang utama lahirnya kader-kader baru. Untuk mewujudkannya, para pendidik harus terlebih dahulu memberi teladan dalam ber-Muhammadiyah. Sebab, sulit mengajak generasi muda mencintai Persyarikatan jika para pembimbingnya sendiri absen dari denyut nadi gerakan.
Mari jadikan sekolah bukan hanya tempat mencerdaskan akal, tetapi juga kawah candradimuka yang menumbuhkan kader. Mari seluruh guru dan karyawan kembali memperkuat keterlibatan di Persyarikatan, menghidupkan Ranting dan Cabang, serta mewariskan api perjuangan Muhammadiyah kepada generasi penerus.
“Masa depan Muhammadiyah tidak semata dibangun di atas kemegahan gedung dan deretan prestasi, melainkan di atas pundak kader-kader yang ikhlas berjuang, mengabdi, dan setia menghidupkan Persyarikatan”














