Sunday, October 11, 2026
Sunday, October 11, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Jokowi, Gibran, dan Politik Melankolis Umat Islam

Must Read

Jokowi, Gibran, dan Politik Melankolis Umat Islam

Oleh KH. Nurbani Yusuf 

(Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar)

Kaidahnya adalah :”Kekuasaan hanya milik Allah. Allah akan memberikan dan mencabut kekuasaan dari siapa pun yang Dikehendaki-Nya. Allah pula yang memuliakan dan menghinakan siapa pun yang Dikehendaki-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 26)

Dalam urusan kekuasaan dan kemuliaan, saya cenderung berpandangan Jabariyah; saya adalah Jahami.

Nabi SAW bersabda :“Seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk memberikan mudarat kepadamu, hal itu tidak akan terjadi kecuali atas apa yang telah ditetapkan-Nya untukmu. Seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, hal itu pun tidak akan terjadi kecuali atas apa yang telah ditetapkan-Nya untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (Muttafaq ’Alaih).

Allah SWT berfirman :“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkanmu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ’Imran: 160).

  • Apakah ada kekuasaan yang tidak berdarah?
  • Apakah ada siasat politik yang tidak licik?
  • Bukankah Sa’ad bin Ubadah ditemukan tidak bernyawa ketika menolak membaiat Abu Bakar?
  • Dua sahabat Nabi bahkan terlibat perang saudara: Sayyidah Aisyah RA melawan Sayyidina Ali KW dalam Perang Jamal,
  • Serta Sayyidina Muawiyah RA melawan Sayyidina Ali KW dalam Perang Siffin. Lantas, kepada siapa kita hendak berpihak?

Bukankah tradisi Khilafah Utsmaniyah (Ottoman) kerap menyisakan hanya satu dari sekian putra mahkota demi mengamankan tahta?

Bukankah Ken Arok meraih kekuasaan dengan merebut istri tuannya, membunuh pembuat kerisnya, mengambinghitamkan sahabat karibnya, hingga gemar menyebar intrik dan kabar bohong?

Nikita Khrushchev, mantan pemimpin Uni Soviet, pernah berpesan: Jangan pernah percaya pada politisi. Mereka bahkan berjanji membangun jembatan di tempat yang tidak ada sungainya.

Bukankah hingga kini ada yang mempertanyakan peristiwa G30S/PKI—apakah itu murni pengkhianatan PKI atau siasat Soeharto untuk merebut kekuasaan penuh melalui Supersemar, yang oleh kelompok kiri disebut sebagai “kudeta merangkak”?

Bukankah tumbangnya Orde Baru juga diwarnai pertumpahan darah, intrik, dan siasat politik?

Kaidahnya tetap sama :“Politik tidak otomatis menjadi bersih hanya karena membawa nama agama. Sebaliknya, agama rentan terkontaminasi ketika diseret ke dalam panggung politik”.

Apakah partai politik mendadak menjadi bersih hanya karena diisi oleh para kyai dan ulama?

Ataukah sebaliknya, pemahaman agama justru memudar karena ditunggangi kepentingan para politisi?

Seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk menggulingkan atau mengangkat Jokowi-Gibran, hal itu tidak akan mampu memberikan mudarat maupun manfaat sedikit pun, kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

“Pena telah diangkat, dan lembaran takdir telah dilipat”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Terus Berprestasi! Siswa SMP Muhammadiyah 4 Balen Raih Juara 2 Cerdas Cermat Wawasan Kebangsaan

Bojonegoro, liputanmu – Prestasi membanggakan kembali diraih siswa SMP Muhammadiyah 4 Balen (Muh4ba). Kali ini, Tim Cerdas Cermat berhasil...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img