Ber-Muhammadiyah: Jangan Hanya Kuat Organisasinya, Kuatkan Juga Ruh Islamnya
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Ada orang yang begitu bersemangat mengejar gelar dokter, tetapi lupa mempersiapkan diri menjadi penghuni surga. Ada yang rajin mengurus organisasi, tetapi jarang mengurus kualitas iman dan kedekatannya kepada Allah SWT. Inilah yang perlu kita renungkan ketika berbicara tentang Ber-Muhammadiyah.
Dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah bertema “Islam dan Kesehatan Lansia”, bersama dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam pemaparan awal kita diajak melihat bahwa kesehatan manusia tidak cukup hanya diukur dari kondisi fisiknya. Ada dimensi lain yang tidak boleh diabaikan: kesehatan ruhani.
Tubuh memang membutuhkan makanan bergizi, olahraga, pemeriksaan kesehatan, dan pengobatan ketika sakit. Tetapi ruh juga membutuhkan asupan. Dan salah satu asupan terbaik bagi ruh adalah ilmu agama.
“Di sinilah pentingnya memperkuat ruh Islam dalam kehidupan ber-Muhammadiyah”
Jangan sampai kita begitu sibuk menghidupkan kegiatan organisasi, tetapi lupa menghidupkan hati sendiri. Rapat rajin, agenda padat, atribut lengkap, tetapi hubungan dengan majelis ilmu justru semakin jauh.
Padahal, Muhammadiyah bukan sekadar tempat berorganisasi. Muhammadiyah adalah jalan untuk memperkuat iman, memperluas ilmu, memperbaiki amal, dan menghadirkan kemanfaatan bagi kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Artinya :“Barang siapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perhatikan baik-baik. Tanda seseorang mendapatkan kebaikan bukan semata-mata karena hartanya bertambah, jabatannya meningkat, atau prestasinya semakin tinggi. Salah satu tanda kebaikan dari Allah adalah ketika hatinya dibukakan untuk memahami agama.
Karena itu, orang yang melangkahkan kaki menuju majelis ilmu sesungguhnya sedang menempuh jalan menuju kemuliaan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya :“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Betapa istimewanya orang yang masih mau duduk, mendengarkan, belajar, dan memperbaiki diri. Bukan karena ia tidak tahu apa-apa, tetapi karena ia sadar bahwa semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang harus dipahami, terutama tentang bekal kehidupan setelah kematian.
Ada ungkapan yang sangat menohok: “Gagal masuk fakultas kedokteran, jangan sampai gagal masuk surga.”
Kita boleh bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengusaha, pejabat, atau siapa pun yang memiliki kedudukan terhormat. Tetapi jangan sampai seluruh energi kehidupan hanya dihabiskan untuk mengejar keberhasilan dunia, sementara persiapan menuju akhirat justru terbengkalai.
Sebab, gelar akademik tidak otomatis menjadi tiket surga. Jabatan organisasi tidak otomatis menjadi jaminan keselamatan. Bahkan panjangnya usia pun tidak menjamin panjangnya amal kebaikan.
Yang akan kita bawa kelak bukan jabatan yang pernah kita duduki, melainkan iman dan amal yang kita persembahkan kepada Allah.
Pak AR pernah mengingatkan dengan ungkapan sederhana: “Ngaji iku tombo ati.”
Mengaji adalah obat hati. Hati yang mulai keras perlu dilembutkan dengan ilmu. Pikiran yang mulai sombong perlu ditundukkan dengan nasihat. Jiwa yang mulai lelah perlu disegarkan dengan mengingat Allah.
Jangan menunggu tua untuk rajin mengaji. Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kehilangan jabatan untuk menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia.
Justru ketika masih sehat, kuat, memiliki waktu, dan diberi kesempatan, gunakan semuanya untuk memperbanyak ilmu dan amal.
Maka, mari kita hidupkan kembali budaya mengaji di lingkungan Muhammadiyah. Hadiri pengajian bukan sekadar menggugurkan undangan. Datanglah dengan niat memperbaiki diri. Bawa ilmu pulang, amalkan dalam keluarga, dan sebarkan manfaatnya di tengah masyarakat.
Sebab, keberhasilan Muhammadiyah bukan hanya diukur dari megahnya gedung, banyaknya amal usaha, besarnya kegiatan, atau kuatnya struktur organisasi.
Lebih dari itu, keberhasilan Muhammadiyah harus terlihat dari semakin kuatnya iman, semakin luasnya ilmu, semakin baik akhlaknya, dan semakin nyata manfaatnya bagi umat.
“Jangan hanya membesarkan Muhammadiyah di luar diri kita. Besarkan juga ruh Islam di dalam diri kita”
Karena pada akhirnya, kita tidak hanya membutuhkan kehidupan yang panjang dan tubuh yang sehat. Kita membutuhkan hati yang hidup, amal yang diterima, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.














