Selalu Bersyukur Dengan Ingat Bahwa Semua Ini Milik Allah SWT.
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Cerita nyata ini bermuara dari apa yg disampaikan Ustadz Drs. Najih Ichsan sebagai salah satu contoh dalam kajian tauhid. Semoga ada hikmah bagi kita
Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang ayah yang sangat bangga ketika berhasil membeli sebuah mobil baru yang mewah. Mobil itu adalah hasil kerja keras bertahun-tahun, impian yang akhirnya terwujud.
Suatu hari, ketika dia dan istrinya sedang bekerja, anak perempuan mereka yang berusia lima tahun, penuh dengan rasa ingin tahu dan imajinasi, menemukan sebuah paku di garasi.
Anak itu, tidak mengerti nilai mobil atau betapa berharganya, mulai menggambar di permukaan mobil dengan paku tersebut. Baginya, itu adalah kanvas besar di mana ia bisa mengekspresikan kreativitasnya. Coretan-coretan itu memenuhi hampir seluruh permukaan mobil, membentuk pola-pola tak beraturan yang memenuhi hatinya dengan kebahagiaan.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika ayahnya pulang kerja dan melihat mobilnya penuh dengan goresan paku, ia diliputi kemarahan yang sangat. Mobil impiannya yang baru saja ia beli kini tampak rusak, hancur oleh coretan tangan kecil anaknya. Dengan kemarahan yang tak terkendali, ia langsung mencari siapa pelakunya, dan anaknya pun mengaku.
Tanpa berpikir panjang, ayah itu mengambil penggaris besi yang ada di dekatnya dan memukul tangan anaknya berulang kali. Sang anak menangis, kesakitan, dan mencoba melindungi tangannya, tapi kemarahan ayahnya terlalu besar. Tangan kecil yang tak berdaya itu pun lebam dan memar.
Hari-hari berlalu, dan memar di tangan anak itu tidak sembuh, malah menjadi infeksi yang semakin parah. Orang tua itu kemudian membawa anaknya ke rumah sakit, namun dokter menyampaikan kabar buruk: infeksi sudah terlalu parah, dan tangan anak itu harus diamputasi untuk menyelamatkan hidupnya.
Saat itu, penyesalan menghantam sang ayah seperti badai. Ia melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan tangan yang telah dibalut, dan air mata mengalir deras di pipinya. Anak itu memandang ayahnya dengan mata yang penuh harap dan bertanya.
“Yah, tolong kembalikan tanganku supaya aku dapat menggambar dengan teman-temanku.”
Kata-kata itu menusuk kalbu sang ayah. Ia sadar, bahwa dalam kemarahannya, ia telah menghancurkan masa depan anaknya. Bukan mobil yang rusak, tapi impian dan kebahagiaan anaknya yang telah ia hancurkan. Sejak saat itu, sang ayah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah lagi membiarkan amarah menguasainya, dan untuk lebih menghargai apa yang benar-benar penting dalam hidupnya “keluarganya”.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa benda materi tidak seharusnya lebih berharga daripada kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita. Penyesalan terbesar adalah ketika kita menyadari bahwa kita telah melukai orang yang paling kita cintai karena hal-hal yang sebenarnya tidak seberapa penting.














