Kediri, liputanmu – Gabungan anggota Hizbul Wathan (HW) Kwartir Cabang Surabaya berhasil menyelesaikan kegiatan Ekspedisi dan pendidikan lapangan di kawasan hutan padas payung Gunung Wilis selama tujuh hari. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan navigasi, komunikasi lapangan, serta penerapan ilmu komunikasi AM/FM dan signaling yang telah dipelajari dalam latihan rutin. Kamis (25/06/2026).
Selama perjalanan, para peserta melakukan berbagai simulasi komunikasi darurat menggunakan perangkat handy talky (HT) dan repeater portable yang dibawa sebagai bagian dari uji coba sistem komunikasi lapangan. Medan yang berat, kondisi cuaca yang berubah-ubah, serta terbatasnya jangkauan sinyal menjadi tantangan tersendiri bagi tim.
Pada hari keempat perjalanan menuju titik koordinat ketujuh, tim komunikasi mengalami kendala ketika salah satu perangkat radio tidak dapat mengirimkan daily log book kepada pos pemantau. Gangguan propagasi dan kondisi geografis yang tertutup perbukitan serta rimbunnya vegetasi menyebabkan komunikasi suara tidak dapat berlangsung secara optimal.
Menghadapi situasi tersebut, peserta kemudian menerapkan kode Morse melalui perangkat radio portable yang masih berfungsi. Pesan-pesan penting terkait posisi, kondisi personel, serta perkembangan perjalanan berhasil dikirimkan menggunakan kode Morse sehingga laporan lapangan tetap dapat diterima oleh tim pemantau.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua rombongan menjelaskan bahwa kejadian tersebut menjadi bukti bahwa keterampilan komunikasi tradisional seperti Morse masih relevan dan dapat menjadi alternatif saat komunikasi suara mengalami gangguan.
“Tujuan utama kegiatan ini bukan hanya menjelajahi alam, tetapi juga menguji kemampuan anggota dalam menghadapi kondisi nyata di lapangan. Kendala komunikasi yang terjadi justru menjadi pengalaman berharga karena peserta mampu menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari.” Ujarnya.
Selain praktik komunikasi, peserta juga melaksanakan pelatihan navigasi darat, survival dasar, manajemen logistik lapangan, serta pemetaan koordinat menggunakan perangkat GPS dan peta kompas. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman hingga rombongan kembali ke titik akhir perjalanan sesuai jadwal.
Keberhasilan ekspedisi selama tujuh hari ini menjadi bukti kesiapan anggota HW Surabaya dalam mengombinasikan keterampilan kepramukaan, teknologi komunikasi radio, dan kemampuan bertahan hidup di alam bebas.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin sebagai sarana peningkatan kapasitas anggota dalam menghadapi berbagai kondisi darurat di lapangan. (RZ/Kwarcab HW Wonokromo).














