Pendidikan Berkualitas: Dari Double Track Menuju Teaching Factor
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
“TEFA perlu kafah, bukan sekadar aktivitas produksi. Artinya, kalau SMA Muhammadiyah mengadopsinya, jangan berhenti pada anak membuat produk lalu dijual. Yang dibangun adalah ekosistem pembelajaran berbasis dunia nyata.”
Mungkinkah TEFA Menjadi Model Baru Pembelajaran di SMA Muhammadiyah?
Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana membuat sesuatu. Sekolah harus mengajarkan bagaimana sesuatu itu lahir, memenuhi kebutuhan manusia, memiliki standar mutu, dikerjakan dengan disiplin, dihitung biayanya, diterima pelanggan, dievaluasi, dan diperbaiki.
Jika Double Track mulai diperkenalkan di sejumlah SMA Muhammadiyah sebagai upaya memberikan keterampilan tambahan kepada siswa, maka pertanyaan berikutnya menjadi menarik:
Apakah sekolah umum juga dapat melangkah lebih jauh menuju Teaching Factory (TEFA)? Jawabannya: sangat mungkin.
Namun TEFA untuk SMA tidak boleh dipahami sebagai “SMK kecil di dalam SMA”. TEFA harus diterjemahkan menjadi model pembelajaran berbasis pekerjaan nyata yang tetap menjaga karakter sekolah umum: akademik, karakter, literasi, numerasi, kepemimpinan, kreativitas, kewirausahaan, dan kesiapan melanjutkan pendidikan.
Pertama, Dari Double Track ke TEFA: Apa Bedanya?
“Double Track pada dasarnya memberi kesempatan siswa memperoleh dua jalur pengalaman: pendidikan akademik sekaligus keterampilan tertentu”
TEFA Melangkah Lebih Jauh
Dalam TEFA, siswa tidak hanya belajar keterampilan, tetapi masuk ke dalam siklus pekerjaan nyata. Misalnya siswa belajar membuat produk makanan.
- Model biasa: Belajar resep → praktik → produk selesai → dinilai guru.
- Model Double Track: Belajar keterampilan → praktik → memperoleh keterampilan tambahan.
- Model TEFA: Mengidentifikasi kebutuhan pasar → menerima pesanan → menghitung kebutuhan bahan → menyusun desain produk → produksi → quality control → pengemasan → pemasaran → transaksi → menerima komplain → mengevaluasi → memperbaiki produk.
“Inilah perbedaan fundamentalnya, yakni produk bukan tujuan akhir, tapi produk adalah media belajar“
Panduan resmi TEFA juga menempatkan produksi barang/jasa nyata, standar dunia kerja, keterlibatan siswa, dan suasana kerja yang menyerupai dunia industri sebagai bagian penting dari model tersebut.
Kedua, TEFA SMA Bukan “Unit Bisnis Sekolah”
Ini bagian yang sangat penting. Kesalahan terbesar jika SMA menerapkan TEFA adalah mengubahnya menjadi: “Sekolah punya usaha, siswa membantu produksi.”
Itu bukan inti TEFA. TEFA seharusnya: “Sekolah menggunakan pekerjaan nyata sebagai laboratorium pembelajaran.”
Karena itu, pertanyaan pertama bukan: “Apa yang bisa dijual sekolah?”
Tetapi: “Kompetensi apa yang ingin dibangun dan pekerjaan nyata apa yang paling tepat menjadi media untuk membangunnya?”
Misalnya sekolah ingin membangun: kemampuan komunikasi, kreativitas, problem solving, literasi digital, kepemimpinan, teamwork, manajemen proyek, kemampuan menggunakan teknologi, kemampuan membaca data, kewirausahaan, tanggung jawab, disiplin dan kemampuan menghasilkan karya.
“Maka produk atau jasa dipilih sebagai kendaraan pembelajaran”
Tefa Bisa Menjadi Next Level Double Track
Jadi Double Track dapat menjadi pintu masuk, sedangkan TEFA menjadi ekosistem lanjutannya.
Double Track memberikan: Keterampilan. TEFA memberikan: Keterampilan + pengalaman kerja + standar + produk + pelanggan + data + refleksi + budaya kerja.
Jadi, kalau Muhammadiyah ingin membangun sekolah yang benar-benar relevan dengan masa depan, jangan berhenti pada pertanyaan: “Anak kita mau diberi keterampilan apa?”
Naikkan pertanyaannya menjadi: “Masalah nyata apa yang dapat diselesaikan anak kita melalui proses pembelajaran?”
“Karena masa depan tidak hanya membutuhkan anak yang pandai menjawab soal”
Masa depan membutuhkan anak yang: Memahami masalah, mampu membuat sesuatu, mampu bekerja bersama, mampu menggunakan teknologi, mampu membaca data, mampu melayani manusia, mampu menerima kritik, mampu memperbaiki kesalahan, dan mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai.
Dan pada titik itulah TEFA menjadi menarik. Sekolah bukan lagi sekadar tempat anak belajar tentang dunia kerja. Sekolah menjadi tempat anak mengalami dunia kerja dalam ekosistem pembelajaran yang aman, terarah, bernilai, dan tetap berakar pada pendidikan.
Itulah yang menurut saya bisa menjadi evolusi: Double Track → Micro Tefa → Tefa School → School Ecosystem. Bukan menjadikan SMA sebagai SMK, tetapi menjadikan SMA sebagai sekolah yang menghubungkan ilmu dengan kehidupan nyata.
Dan bagi sekolah Muhammadiyah, ini bisa menjadi salah satu bentuk nyata pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang pintar, tetapi manusia yang kompeten, berkarakter, produktif, berjiwa entrepreneur, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.














