Lazismu Peduli: Ketika Bumi Berguncang, Semoga Hati Kita Tidak Diam
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Ada luka yang tidak terlihat dari kejauhan. Kita mungkin hanya membaca berita. Melihat angka, menatap gambar bangunan yang runtuh. Lalu menggeser layar dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Tetapi di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, ada manusia yang sedang menjalani kenyataan yang jauh berbeda. Ada keluarga yang kehilangan rumah.
Ada orang tua yang memeluk anaknya dalam ketakutan. Ada yang tidur tanpa kepastian karena bumi masih terus berguncang. Ada yang menunggu kabar tentang orang yang dicintainya.
Dan ada mereka yang hari ini harus belajar menerima kehilangan yang tak pernah mereka bayangkan.
“Bagi kita, gempa adalah berita. Bagi mereka, gempa adalah kehidupan yang berubah dalam sekejap”
Ribuan gempa susulan menjadi pengingat bahwa bencana belum benar-benar selesai. Di tengah ketidakpastian itu, mereka membutuhkan lebih dari sekadar rasa iba.
Mereka membutuhkan kita. Mungkin kita tidak bisa hadir di lokasi. Mungkin tangan kita tidak mampu mengangkat reruntuhan. Mungkin langkah kita terlalu jauh untuk sampai ke sana.
Tetapi doa kita tidak mengenal jarak. Kepedulian kita bisa menjelma menjadi makanan, air bersih, obat-obatan, tempat berlindung, dukungan psikologis, dan bantuan untuk memulai kembali kehidupan.
Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Karena kebaikan bukan tentang seberapa besar yang kita punya, tetapi seberapa tulus kita mau menyisihkan.
Sepuluh ribu rupiah mungkin terasa kecil ketika berada di tangan kita. Tetapi ketika ribuan tangan mengulurkannya bersama-sama, yang kecil dapat berubah menjadi pertolongan besar.
Hari ini, mari berhenti sejenak. Bayangkan jika yang berada di sana adalah orang tua kita. Bayangkan jika yang mencari pertolongan adalah anak kita. Bayangkan jika rumah yang runtuh adalah rumah yang kita bangun dengan seluruh pengorbanan hidup.
Mungkin hati kita akan terasa jauh lebih dekat dengan mereka. Saudara-saudaraku di NTT, kalian tidak sendiri. Di kejauhan, ada tangan-tangan yang sedang terulur. Ada hati yang sedang mendoakan. Ada saudara sebangsa yang ingin membantu kalian bangkit.
Semoga Allah SWT menjaga setiap jiwa. Menguatkan mereka yang kehilangan. Menenteramkan mereka yang ketakutan. Mempertemukan keluarga yang terpisah. Mengangkat kesulitan para penyintas.
Dan menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka. Ketika bumi mengguncang NTT, jangan biarkan hati kita tetap tenang tanpa peduli.
“Mari ubah doa menjadi kepedulian, ubah kepedulian menjadi gerakan, dan ubah gerakan menjadi harapan. Pray for Nagekeo, pray for NTT, bersama kita kuatkan mereka, bersama kita bantu mereka bangkit, Aamiin ya Rabbal ‘alamin”














