Meluruskan Istilah, Menjernihkan Pikiran: Antara Generasi dan Manhaj
Oleh Ustadz Asruri Muhammad
(Pemerhati Sosial Keagamaan)
Dalam perbincangan keagamaan, tidak sedikit perbedaan yang berawal dari ketidakjelasan istilah. Sebuah kata digunakan dengan pengertian tertentu, kemudian ditafsirkan berbeda hingga melahirkan kesimpulan yang belum tentu tepat. Karena itu, meluruskan istilah bukan sekadar memperdebatkan kata, melainkan upaya menjernihkan cara berpikir.
Persoalan ini tampak dalam perbincangan tentang salaf, manhaj salaf, salafi, dan salafisme. Dalam tulisan “Apakah Salafi Bermanhaj Salaf?” (liputanmu.net, 14 Oktober 2026) dan “Salafisme, Sekularisme, dan Talbis Iblis dalam Satu Kemasan” (15 Oktober 2026), KH. Nurbani Yusuf mengangkat persoalan tentang generasi salaf, identitas Salafi, dan karakter suatu arus pemikiran.
“Persoalan tersebut layak didiskusikan, tetapi beberapa hal perlu dibedakan agar kritik tidak melampaui apa yang dapat dibuktikan”
Generasi Bukan Manhaj
Secara historis, salaf merujuk kepada generasi awal umat Islam, terutama Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Kedudukan mereka ditegaskan dalam hadis tentang generasi terbaik yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim. Al-Qur’an juga memuji orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta mereka yang mengikuti dengan baik, sebagaimana disebutkan dalam Surah at-Taubah ayat 100.
Namun, generasi dan manhaj merupakan dua hal berbeda. Generasi ditentukan oleh masa hidup, sedangkan manhaj berkaitan dengan jalan dalam memahami dan mengamalkan agama.
Imam al-Albani, Ibn Baz, dan Ibn Utsaimin memang bukan bagian dari generasi salaf secara kronologis. Akan tetapi, apakah pemikiran mereka mengikuti manhaj salaf merupakan persoalan lain yang perlu dinilai berdasarkan pemahaman, dalil, dan metode mereka.
Seseorang tidak harus hidup pada zaman salaf untuk mengikuti manhaj salaf. Menyimpulkan bahwa seorang ulama tidak mengikuti manhaj salaf semata-mata karena hidup jauh sesudah generasi tersebut berarti mencampuradukkan kronologi dengan substansi.
Mengikuti Salaf Tidak Harus Berlabel Salafi
Mengikuti manhaj salaf tidak identik dengan menggunakan label salafi. Seseorang yang memakai label tersebut belum tentu seluruh pemahaman dan perilakunya sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ dan para Sahabat. Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan label salafi belum tentu meninggalkan pemahaman generasi awal Islam.
Hal serupa berlaku pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Nama tersebut digunakan oleh banyak kelompok, tetapi identitas saja tidak cukup untuk membuktikan ketepatan pemahaman dan pengamalannya.
Dalam Muhammadiyah, keberadaan Manhaj Tarjih sebagai metode memahami dan menetapkan pandangan keagamaan tidak dengan sendirinya meniadakan orientasi untuk mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dan pemahaman para Sahabat. Metode penalaran, rujukan keilmuan, dan identitas organisasi saling berkaitan, tetapi tidak selalu identik.
Karena itu, yang lebih penting bukan sekadar nama atau label, melainkan bagaimana seseorang memahami dalil, menimbang pendapat, dan mengamalkan agama. Identitas dapat menunjukkan kecenderungan, tetapi substansilah yang perlu diuji.
Salafisme dan Bahaya Generalisasi
Istilah salafisme digunakan untuk menyebut arus pemikiran Islam yang menempatkan generasi awal sebagai rujukan penting dalam memahami agama. Namun, cakupan istilah ini tidak selalu seragam. Karena itu, pengertiannya perlu diperjelas sebelum digunakan untuk menilai suatu kelompok.
Sikap eksklusif, fanatisme terhadap tokoh, mudah menyesatkan pihak lain, atau menolak argumentasi berbeda tentu layak dikritik apabila benar-benar ditemukan. Namun, perilaku sebagian pengikut tidak otomatis menjadi karakter seluruh kelompok.
Kita bisa melihat persoalan ini melalui contoh sederhana. Ketika seorang anggota organisasi kemasyarakatan melakukan korupsi, kita tidak serta-merta menyimpulkan bahwa organisasi tersebut korup. Kita perlu membedakan nilai yang diajarkan organisasi dari perilaku oknum yang menyimpang. Jika penyimpangan itu justru dilembagakan atau dilindungi oleh sistem organisasi, barulah persoalannya perlu dinilai lebih jauh.
Demikian pula, Islam tidak identik dengan seluruh perilaku umat Islam. Ajaran Islam menjadi ukuran untuk menilai perilaku pemeluknya, bukan sebaliknya: tindakan sebagian umat dijadikan dasar untuk menghakimi Islam.
Prinsip yang sama semestinya berlaku ketika membicarakan Salafisme. Jika ada orang yang mengaku Salafi tetapi bersikap eksklusif atau mudah menyesatkan pihak lain, perilakunya layak dikritik. Namun, menyimpulkan bahwa sifat tersebut merupakan watak Salafisme secara keseluruhan membutuhkan bukti yang lebih luas.
“Membedakan ajaran dan perilaku pengikut bukan berarti membebaskan suatu kelompok dari kritik, melainkan mengarahkan kritik secara tepat”
Hal serupa berlaku ketika salafisme dikaitkan dengan sekularisme. Jika sekularisme dipahami sebagai pemisahan agama dari urusan kehidupan, sedangkan suatu pemikiran salafi justru menekankan penerapan agama dalam kehidupan, keduanya tidak dapat begitu saja disamakan. Hubungan ideologis di antara keduanya memerlukan argumentasi dan bukti.
Begitu pula istilah talbis iblis, yakni tipu daya setan yang dapat menyesatkan manusia melalui sesuatu yang tampak baik. Peringatan ini relevan bagi siapa pun, termasuk orang berilmu dan pemimpin. Namun, mengaitkannya secara khusus dengan suatu kelompok memerlukan dasar yang jelas agar peringatan moral tidak berubah menjadi prasangka.
Menjernihkan Pikiran, Menegakkan Keadilan
Al-Qur’an memerintahkan orang beriman agar berlaku adil, bahkan terhadap pihak yang tidak disukai, sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-Ma’idah ayat 8. Prinsip ini semestinya menjadi pegangan dalam setiap perdebatan keagamaan.
Jika kita menghendaki pemikiran sendiri dinilai berdasarkan dalil, kita juga harus menilai pemikiran orang lain dengan ukuran yang sama. Jika kita menolak generalisasi terhadap kelompok sendiri, kita semestinya tidak melakukan hal serupa terhadap kelompok lain.
Mengikuti salaf bukan berarti mengklaim diri sebagai bagian dari generasi yang telah berlalu, melainkan berupaya memahami dan mengamalkan agama dengan merujuk kepada petunjuk Rasulullah ﷺ dan pemahaman generasi awal Islam.
“Pada akhirnya, generasi tidak sama dengan manhaj, identitas tidak sama dengan substansi, dan kritik terhadap perilaku tertentu tidak otomatis membenarkan penilaian menyeluruh terhadap suatu kelompok”
Kita boleh berbeda dalam memilih rujukan dan menilai pemikiran. Namun, perbedaan semestinya membuat kita semakin teliti dalam berargumentasi, bukan semakin mudah memberikan cap. Sebab, kejernihan berpikir tidak lahir dari kerasnya kritik, melainkan dari ketepatan istilah, kekuatan bukti, dan keadilan dalam menilai siapa pun.














