Pancasila Tidak Cukup Dihafal, Tetapi Harus Hadir di Kolom Komentar
Oleh Felin Trinitasari
(Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya)
Hampir setiap anak sekolah di Indonesia bisa menyebutkan kelima sila secara berurutan. Tetapi coba buka kolom komentar di unggahan apa pun yang menyinggung politik, agama, atau perbedaan pendapat. Di sana kita sering menemukan hinaan, olok-olok, dan tuduhan tanpa dasar. Kontras itu membuat saya bertanya apakah Pancasila sudah benar-benar kita jalankan, atau baru kita hafalkan?
Menurut saya, masalah terbesar penerapan Pancasila hari ini bukan pada nilainya, melainkan pada ruang tempat nilai itu diuji. Dulu ujiannya adalah gotong royong di kampung atau musyawarah di balai desa. Sekarang ujiannya adalah cara kita bersikap di dunia maya, ketika tidak ada yang mengawasi dan identitas bisa disembunyikan. Di ruang seperti itu, sila-sila yang kita junjung mudah terlupakan.
Ambil sila ketiga, Persatuan Indonesia. Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang memancing emosi, sehingga kita sering terjebak di lingkaran orang yang sepemikiran. Akibatnya, perbedaan pilihan politik terasa seperti permusuhan. Kita mudah melabeli orang lain dengan sebutan yang merendahkan hanya karena berbeda pandangan.
“Persatuan tidak runtuh karena satu peristiwa besar, tetapi terkikis perlahan oleh ribuan komentar sinis”
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, juga diuji. Banyak orang yang tidak akan berani menghina seseorang secara langsung, tetapi dengan ringan melakukannya lewat layar. Perundungan siber, penyebaran data pribadi, dan penghakiman massal terhadap orang yang sedang tertimpa masalah kini seperti hal biasa. Kata “beradab” dalam sila ini seharusnya berlaku juga di dunia digital, bukan hanya di dunia nyata.
Sila keempat pun bernasib serupa. Nilai musyawarah mengajarkan kita mendengar sebelum menilai. Di media sosial, yang terjadi sering kebalikannya. Orang membalas sebelum selesai membaca, dan perdebatan menjadi ajang menang-menangan, bukan mencari jalan tengah. Hikmat kebijaksanaan sulit tumbuh kalau semua orang sibuk berteriak.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa generasi sekarang tidak peduli pada Pancasila. Justru banyak anak muda yang aktif menggalang bantuan untuk korban bencana, membela sesama yang diperlakukan tidak adil, dan memakai media sosial untuk kebaikan. Itu gotong royong versi digital, dan menurut saya itu bukti bahwa Pancasila masih hidup.
“Masalahnya, sisi baik ini sering tenggelam oleh keributan yang lebih nyaring”
Lalu Apa yang Bisa Dilakukan?
Pertama, pendidikan Pancasila perlu bergeser dari hafalan ke praktik. Siswa lebih butuh latihan menyikapi hoaks, berdebat secara sehat, dan menghargai perbedaan di dunia maya daripada sekadar menjawab soal pilihan ganda.
Kedua, literasi digital harus dipandang sebagai bagian dari pengamalan Pancasila, bukan pelajaran terpisah.
Ketiga, dan ini yang paling dekat dengan kita, setiap orang bisa memulai dari hal kecil: berpikir dua kali sebelum membagikan informasi, menahan diri sebelum membalas dengan emosi, dan tidak ikut menyebarkan kebencian.
“Pancasila tidak akan hilang karena dilupakan di buku pelajaran. Ia akan memudar jika kita berhenti mempraktikkannya di tempat yang paling sering kita kunjungi, yaitu layar ponsel sendiri”
Maka pertanyaan yang pantas kita ajukan setiap kali hendak mengetik komentar adalah: apakah yang akan saya tulis ini mencerminkan nilai yang saya banggakan?














