Thursday, October 29, 2026
Thursday, October 29, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Anak Kita Tidak Kekurangan Pelajaran, Jangan-jangan, Mereka Kekurangan Stimulasi Kehidupan

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Anak Kita Tidak Kekurangan Pelajaran, Jangan-jangan, Mereka Kekurangan Stimulasi Kehidupan

Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.

(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)

“Jangan buru-buru menyalahkan anak. Bisa jadi, ada yang perlu kita benahi dari cara kita mendidik mereka”

Ada anak yang setiap hari pergi ke sekolah, mengerjakan PR, mengikuti les, dan menghabiskan berjam-jam di depan layar. Namun, mengapa kemampuan berpikir, daya imajinasi, dan konsentrasinya justru tidak berkembang optimal?

Kita sering sibuk menambah pelajaran, tetapi lupa memberi anak pengalaman. Sibuk mengejar nilai, tetapi kurang memperhatikan bagaimana otaknya bertumbuh.

Sebuah laporan mengenai fungsi kognitif anak sekolah dasar mengangkat persoalan yang patut menjadi bahan renungan: kurangnya stimulasi, gangguan penglihatan, asupan gizi, dan kebiasaan hidup dapat berkaitan dengan kesulitan belajar anak.

“Ironisnya, kita sering menyalahkan anak karena dianggap malas belajar, padahal belum tentu kita memahami apa yang sebenarnya menghambat mereka”

Anak sulit membaca, dimarahi. Anak lambat memahami pelajaran, dibandingkan. Anak tidak fokus, dicap kecanduan bermain. Padahal, bisa jadi ada persoalan penglihatan yang belum terdeteksi, kebutuhan gerak yang terabaikan, kurangnya interaksi, atau lingkungan belajar yang miskin pengalaman bermakna.

Kita ingin anak cerdas, tetapi berapa banyak waktu yang kita berikan untuk mengajaknya berdiskusi, mengeksplorasi alam, membaca bersama, menyelesaikan masalah sederhana, dan belajar bertanggung jawab?

Jangan sampai rumah hanya menjadi tempat beristirahat, sekolah hanya menjadi tempat mengejar angka, dan gawai menjadi dunia paling menarik bagi anak.

“Otak anak tidak tumbuh optimal hanya dengan dijejali informasi. Ia membutuhkan stimulasi, interaksi, gerak, nutrisi, istirahat, dan pengalaman yang bermakna”

Di sinilah pendidikan holistik seharusnya hadir. Pendidikan yang tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membangun kesehatan fisik, kematangan emosi, kemampuan sosial, kreativitas, dan akhlak.

Sebab, anak bukan sekadar angka di rapor. Ia adalah manusia yang sedang tumbuh, dengan kebutuhan yang tidak selalu bisa diukur melalui ujian.

Orang tua dan sekolah perlu berhenti sejenak, lalu bertanya: apakah kita benar-benar sedang mendidik anak, atau sekadar menuntut mereka memenuhi harapan kita?

Mulailah dari hal sederhana. Batasi penggunaan gawai secara bijak, ajak anak bergerak dan bermain, bacakan buku, dengarkan pertanyaannya, periksa kesehatan mata secara berkala, cukupi gizinya, dan berikan ruang untuk mencoba tanpa terus-menerus takut salah.

Jangan menunggu anak tertinggal jauh untuk menyadari bahwa ada kebutuhan tumbuh kembang yang belum terpenuhi.

“Sebab, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang kita ajarkan, tetapi juga oleh seberapa baik kita menyiapkan lingkungan agar potensinya bertumbuh”

Jangan hanya bertanya, “Berapa nilai anak saya?” Mulailah bertanya, “Apakah hari ini saya sudah membantu anak saya tumbuh menjadi manusia yang lebih cerdas, sehat, mandiri, dan berakhlak?”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

PP Muhammadiyah Terima Kunjungan Dubes Arab Saudi, Bahas Penguatan Hubungan hingga Perdamaian Kawasan

Jakarta, liputanmu — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal bin Abdullah...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img