Di Antara Singosari dan Kasembon: Sebuah Ujian Niat, Arah, dan Kegigihan Dakwah
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakili Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Rencana terbaik manusia sering kali diuji oleh jalan berliku yang tak pernah disangka sebelumnya. Perjalanan rombongan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo menuju Malang dalam rangka agenda CRM Award 2026 di Agro Mulia menyisakan sebuah kisah sarat makna tentang niat, salah arah, dan arti sejati dari sebuah kegigihan. Ahad (25/10/2026).
Di dalam mobil yang melaju, obrolan hangat mengalir di antara enam orang pimpinan: Ustadz Ir. Lukman Rahim, Ustadz Muriansa, SE., Ustadz Muhammad Barid, S.Ag., M.Pd.I., Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md., dan Ustadz Djumadi. Di tengah perjalanan, tercetus sebuah gagasan mulia untuk memperluas silaturahim selepas acara utama.
Sasarannya adalah kediaman Ustadz Rifki Ja’far Tholib di Kasembon, dengan misi khusus mengundang beliau sebagai pembicara dalam acara Semarak Milad Muhammadiyah Ke 114 di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung, Surabaya.
Ketika Satu Huruf Mengubah Segalanya
Agenda utama berjalan sukses, Ustadz Lukman dan Ustadz Barid tampil meyakinkan saat mempresentasikan berbagai keunggulan dan ikhtiar PCM Wonokromo di hadapan para juri CRM Award 2026. Usai acara, alih-alih langsung kembali ke Surabaya, rombongan langsung mengarahkan kemudi demi menuntaskan niat bersilaturahim.
Berbekal aplikasi peta digital (Google Maps), mobil melaju meninggalkan lokasi. Namun, setibanya di kawasan Singosari, sebuah kenyataan mengejutkan mendapati mereka. Ada kekeliruan mendasar pada titik tujuan: lokasi yang dituju adalah Kasembon, sementara pencarian keliru mengarah ke Kesambon.
Hanya berbeda satu huruf, tetapi berakibat fatal pada rute perjalanan. Waktu terus berjalan, sementara posisi mereka jauh dari kata sampai. Di persimpangan itu, dua pilihan berat tersaji: mundur kembali ke Surabaya atau melanjutkan perjalanan dengan segala ketidakpastian.
Ujian Kegigihan dan Pertolongan yang Tak Terduga
Berbagai upaya dilakukan, termasuk menghubungi sejumlah kontak untuk membuka jalan komunikasi dengan Ustadz Rifki. Namun, jalan seolah tertutup; telepon tak kunjung terjawab dan petunjuk belum juga terang. Situasi ini menghadirkan sebuah perenungan mendalam bahwa ujian kegigihan sering kali hadir dalam bentuk-bentuk sederhana—ketika usaha seakan menemui jalan buntu dan pilihan yang tersisa diuji oleh keteguhan hati.
Kisah perjalanan ini menggugah kesadaran bahwa manusia hanya bertugas merencanakan dan berikhtiar, sementara hasil akhir berada di tangan-Nya. Hingga titik ini, cerita masih menyisakan tanda tanya besar: akankah rombongan tersebut memilih pulang, atau justru menemukan kejutan tak terduga yang membukakan pintu jalan keluar?














