Wednesday, November 4, 2026
Wednesday, November 4, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

105 Tahun Muhammadiyah Surabaya: Besar dalam Amal Usaha, Cabang Ranting Kesulitan Nyari Penerus

Must Read

105 Tahun Muhammadiyah Surabaya: Besar dalam Amal Usaha, Cabang Ranting Kesulitan Nyari Penerus

Oleh Ustadz Anas Febriyanto

(Kader Muda Muhammadiyah Surabaya)

Pada 1 November 2026, Muhammadiyah Surabaya genap berusia 105 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para tokoh pendahulu, khususnya KH Mas Mansur dan sejumlah tokoh pembaru yang meletakkan fondasi gerakan Muhammadiyah di Kota Pahlawan.

“Sejarah mencatat, Muhammadiyah Surabaya resmi berdiri sebagai cabang pada 1 November 1921. Bahkan, Surabaya menjadi cabang pertama Muhammadiyah di luar Yogyakarta”

Usia 105 tahun tentu merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, peringatan milad tidak seharusnya berhenti pada seremoni, nostalgia sejarah, dan kebanggaan terhadap perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Momentum ini justru harus menjadi ruang evaluasi: sejauh mana Muhammadiyah Surabaya masih konsisten menjaga ruh perjuangan yang diwariskan para pendirinya?

Pertanyaan tersebut penting diajukan karena keberhasilan organisasi tidak cukup diukur melalui banyaknya sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, gedung, maupun aset kelembagaan. Semua itu memang menjadi bukti nyata perkembangan Muhammadiyah. Akan tetapi, ada dimensi yang jauh lebih mendasar, yakni kekuatan ideologi, kualitas kader, dan keberlangsungan gerakan dakwah.

Ketika AUM Berkembang, Apakah Ideologi Ikut Menguat?

Amal Usaha Muhammadiyah sejak awal bukan didirikan semata-mata untuk menjadi institusi pelayanan, apalagi sekadar ruang ekonomi dan lapangan pekerjaan.

“AUM merupakan instrumen dakwah amar ma’ruf nahi munkar, pendidikan, pelayanan umat, sekaligus sarana kaderisasi”

Karena itu, menjadi persoalan apabila seseorang bekerja di lingkungan AUM tanpa memahami identitas, sejarah, ideologi, serta tujuan Muhammadiyah. Lebih jauh, bagaimana mungkin AUM dapat menjalankan misi Persyarikatan apabila orang-orang yang berada di dalamnya tidak memiliki kesadaran tentang nilai dan cita-cita gerakan?

Kritik ini bukan berarti setiap guru dan karyawan harus memiliki tingkat aktivitas organisasi yang sama. Namun, setiap insan yang bekerja di AUM semestinya memahami bahwa dirinya tidak hanya menjalankan profesi, tetapi juga berada dalam lingkungan gerakan Islam yang memiliki tanggung jawab dakwah.

AUM tidak boleh kehilangan orientasi ideologisnya. Jangan sampai Muhammadiyah semakin besar secara fisik, tetapi semakin jauh dari kesadaran perjuangan yang menjadi alasan pendiriannya.

Kaderisasi: Persoalan yang Tidak Boleh Diabaikan

Persoalan berikutnya adalah kaderisasi. Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki banyak anggota, tetapi membutuhkan kader yang memahami ideologi, memiliki komitmen, berintegritas, dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan.

Kaderisasi tidak boleh dipahami sebatas kegiatan formal, perkaderan berjenjang, atau pengisian struktur organisasi. Kaderisasi harus menjadi proses berkelanjutan yang hidup di sekolah, kampus, masjid, AUM, Cabang, Ranting, dan seluruh organisasi otonom.

Keberadaan IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Tapak Suci, dan Hizbul Wathan seharusnya menjadi kekuatan strategis dalam menyiapkan generasi penerus. Jangan sampai organisasi otonom hanya menjadi pelengkap struktur, sementara ruang aktualisasi dan regenerasi kader justru semakin terbatas.

Muhammadiyah Surabaya perlu bertanya: apakah Cabang dan Ranting telah menjadi pusat pembinaan kader yang kuat? Apakah generasi muda diberikan ruang untuk berproses dan mengambil tanggung jawab? Apakah regenerasi kepemimpinan berjalan secara sehat?

“Organisasi yang besar tetapi tidak mempersiapkan kader penerus sesungguhnya sedang menghadapi persoalan keberlanjutan”

Mengembalikan Arah Perjuangan

Usia 105 tahun semestinya menjadi momentum untuk melakukan otokritik secara jujur. Pimpinan Persyarikatan perlu memperkuat pembinaan ideologi, memastikan AUM tetap berada dalam koridor misi Muhammadiyah, serta menghidupkan kembali kekuatan Cabang dan Ranting.

Guru, karyawan, pimpinan AUM, dan kader muda perlu dibangun kesadarannya bahwa Muhammadiyah bukan sekadar nama organisasi yang memberikan identitas administratif. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang menuntut komitmen, pengabdian, dan tanggung jawab dakwah.

Kita tidak boleh hanya sibuk membanggakan warisan para pendahulu, tetapi abai mempersiapkan generasi yang akan meneruskannya. Sebab, kejayaan masa lalu tidak otomatis menjamin keberhasilan masa depan.

105 tahun Muhammadiyah Surabaya bukan sekadar perayaan tentang usia, melainkan momentum untuk mempertanyakan arah perjalanan gerakan.

Jangan sampai kita berhasil membangun banyak gedung, tetapi gagal membangun kesadaran ideologi. Jangan sampai kita memiliki banyak Amal Usaha, tetapi kekurangan kader yang siap menghidupkan Persyarikatan.

“Jangan sampai kita bangga menyebut diri sebagai bagian dari Muhammadiyah, tetapi tidak memahami tanggung jawab perjuangannya”

Oleh karena itu, ukuran keberhasilan Muhammadiyah Surabaya bukan hanya seberapa besar aset yang diwariskan, melainkan seberapa kuat ideologi dijaga, seberapa luas dakwah dijalankan, dan seberapa siap kader dipersiapkan.

Karena Muhammadiyah tidak didirikan untuk sekadar menjadi organisasi yang besar, tetapi untuk menjadi gerakan Islam yang terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Tingkatkan Budaya Literasi, Perpustakaan Keliling Bojonegoro Hadir di MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar

Bojonegoro, liputanmu– Semangat membaca tampak mewarnai suasana Lapangan MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar pada Selasa, 3 November 2026. Kehadiran mobil perpustakaan...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img