Inspirasi Kehidupan : Pintu yang Mengguncang Jiwa
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Di depan pintu ICU Aku berdiri. Pintu yang tak sekadar memisahkan ruang, tetapi memisahkan ketenangan dan keguncangan jiwa.
Langkahku tertahan, napas pendek berdesakan, dan dadaku dipenuhi perasaan yang tak sanggup diucapkan oleh kata-kata karena dibalik pintu itu, ada seseorang yang sangat aku cintai.
Dalam hati, berasa ada campur aduk antara harapan, kecemasan, takut dan pasrah. Doa ku lantunkan pelan, sedang air mata yang mau tumpah berusaha ku tahan. Di titik ini, sebagai manusia kusadari bahwa ada keadaan di mana logika tak lagi berkuasa.
Kelemahan Manusia yang Sebenarnya
Ternyata di lorong sunyi rumah sakit, semua atribut dunia runtuh. Jabatan tak berarti, harta tak berdaya, dan kekuatan tak lagi bisa diandalkan.
“Yang tersisa hanyalah hati yang lemah dan jiwa yang menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT”
Di sinilah manusia belajar, bahwa selama ini ia sering merasa mampu, padahal sejatinya ia hanya diberi waktu dan kesempatan.
Pintu ICU dan Pelajaran Tauhid
Bagi seorang muslim, berdiri di depan pintu ICU adalah pelajaran tauhid yang paling nyata, bahwa hidup bukan milik kita. Begitu juga sehat bukan hasil kehebatan kita, satu tarikan napas yang biasa saja, ternyata adalah nikmat yang luar biasa.
“Segala yang hidup berada dalam genggaman-Nya, dan tak satu pun yang dapat menolak ketetapan-Nya”
Antara Harap dan Takut, Tawakal Kepada Allah SWT
Ada harapan, karena Allah SWT Maha Penyembuh. Ada kecemasan, karena kita tahu betapa banyak dosa dan kelalaian yang belum sempat kita perbaiki. Juga ada kesedihan, karena kita baru menyadari betapa seringnya kita menunda kebaikan saat masih diberi waktu.
Namun Islam mengajarkan tentang keseimbangan; berharap tanpa putus asa, dan takut tanpa kehilangan prasangka baik kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Artinya :“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).
Pintu yang Menyadarkan Keberkahan Hidup
Pintu ICU bukan sekadar pintu rumah sakit. Ia adalah pintu kesadaran. Bahwa hidup bukan tentang seberapa lama, tetapi seberapa bermakna. Bukan tentang seberapa kuat, tetapi seberapa tunduk.
Bukan tentang seberapa sering tertawa, tetapi seberapa sering sujud ketika air mata jatuh. Jika hari ini kita berdiri di luar pintu ICU, bersyukurlah. Jika suatu hari kita berada di dalamnya, berprasangka lah baik.
“Karena bagi seorang muslim, bahkan rasa sakit pun bisa menjadi jalan pulang menuju Allah SWT, dengan iman, sabar, dan doa”














