Surabaya, liputanmu – Terus berkemajuan, Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo terus menjadi ruang penguatan iman, ilmu, dan kebersamaan umat dalam menyambut momentum-momentum besar dalam Islam.
Kegiatan yang dikomandoi oleh Majelis Tabligh PCM Wonokromo kembali digelar pada Ahad, 1 Februari 2026 pukul 07.00 WIB, di Masjid Syuhada Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung Wonokromo Surabaya. Kajian kali ini menghadirkan Ustadz Dr. Mahsun Jayadi, MA., Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), dengan tema; “Sya’ban sebagai Persiapan Menuju Gerbang Ramadhan Mubarok.”
Dalam tausiyahnya, Ustadz Dr. Mahsun Jayadi, MA., menekankan bahwa bulan Sya’ban bukan sekadar penanda waktu, tetapi fase penting dalam membangun kesiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
“Pernahkah kita menyadari bahwa kehadiran Ramadhan tidak pernah tiba-tiba. Ia bukanlah tamu tak diundang yang datang menggugah kita dari tidur. Setiap tahun, ia mengirimkan sinyal-sinyal lembut terlebih dahulu, dan sinyal itu bernama Sya’ban.” Ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Sya’ban adalah bisikan dari langit. Seperti suara lembut yang mengajak kita mendekat pada Allah, berkata; “bersiaplah, aku akan memanggilmu lebih dekat”.
Namun, lanjut Ustadz Mahsun, sering kali kita terjebak dalam kesibukan dunia. Terlalu asyik dengan urusan yang seakan tak ada habisnya, sementara hati kita perlahan mengeras tanpa disadari.
“Perhatikan perjalanan Rasulullah ﷺ.
Beliau tidak meraih kemuliaan tanpa melalui luka dan rintangan. Dakwahnya ditolak, langkahnya diusir, bahkan tubuhnya disakiti di Thaif, dan di rumah sendiri, beliau diboikot.” Tegasnya.
Ia juga mengatakan bahwa manusia biasa, mungkin akan menyerah, dan merintih; “Ya Allah, ini sudah cukup, aku tak sanggup”. Namun, Nabi ﷺ tak pernah lari dari ujian. Setelah melalui segala penderitaan itu, Allah mengundangnya ke langit dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.
“Dari bumi yang menolak, menuju langit yang mulia. Dari tangisan manusia, menuju sambutan para malaikat.” Tandasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa disanalah shalat diwajibkan, seolah Allah SWT berfirman; “Jika dunia menyakitimu, datanglah menghadap-Ku”. Sya’ban juga mengajarkan kita satu pelajaran berharga tentang jangan lari dari proses. Mungkin saat ini hidup terasa sesak, masalah tak kunjung usai, rezeki seret, dan hati kita lelah.
“Namun, bisa jadi kita sedang berada di fase Thaif dalam kehidupan, dan setelah itu, Allah siapkan Mi’raj-mu sendiri.” Ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan latihan. Latihan menahan diri sebelum puasa, latihan memberi sebelum sedekah diwajibkan, dan latihan menjaga lisan sebelum setiap kata dihitung.
Menurutnya, Ramadhan bukan untuk mereka yang baru ingin berubah, tetapi untuk mereka yang telah bersiap untuk bertransformasi. Dan yang paling menggugah adalah mungkin Ramadhan ini bukan lagi yang ke-10 bagi kita.
“Bisa jadi, ini adalah Ramadhan terakhir kita. Berapa banyak orang yang tahun lalu berjanji; nanti di Ramadhan saya akan lebih baik, namun kini tak lagi memiliki kesempatan untuk beramal.” Tandasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kita masih diberi Sya’ban. Masih ada waktu untuk memperbaiki niat. Masih ada kesempatan untuk membersihkan diri sebelum pintu-pintu ampunan Ramadhan dibuka.
“Ini bukan kebetulan. Ini adalah panggilan cinta dari Allah.” Katanya.
Ia kemudian mengajak untuk memulai dari langkah kecil; dengan senyuman tulus, sedekah yang diam-diam, kata-kata lembut, dan kesabaran dalam merawat orang tua yang semakin lemah. Karena mungkin, bukan puasa kita yang akan mengangkat derajat, tetapi kesabaran kita dalam merawat orang tua lah yang akan membuat Allah tersenyum.
Sya’ban, tambahnya, bukan hanya sekadar bulan ke-8. Ia adalah ruang tunggu yang dipenuhi harapan sebelum pintu ampunan dibuka. Dan kini, kita berdiri di depan pintu itu.
“Pertanyaannya hanya satu, akankah kita melangkah, sebagai hamba yang siap, atau tetap terjebak dalam kesibukan hingga pintu itu tertutup, tanpa kita sadari.” Pungkasnya. (Taufikhi).














