Inspirasi Kehidupan : Remaja Masjid Akselerator Peradaban
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba dan Pembina Remas Masjid Sholahuddin Spemma Pucang Surabaya)
Remaja Masjid (Remas) adalah jembatan antara nilai-nilai agama dan energi muda bangsa. Dalam konteks kebangsaan, Isra Mi’raj bisa direfleksikan sebagai momentum bagi Remaja Masjid untuk menjadi “Akselerator Peradaban”.
Refleksi Isra Mi’raj khususnya untuk meningkatkan peran Remaja Masjid dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni:
Pertama, Remas sebagai Agen Moderasi Beragama; Isra Mi’raj menghubungkan dua titik suci (Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha). Remaja masjid harus mengambil peran ini dengan menjadi penghubung, bukan pemisah.
“Remas harus mampu menunjukkan wajah Islam yang ramah, santun, dan inklusif di lingkungan masyarakat yang beragam”
Remaja Masjid harus menjadi garda terdepan dalam melawan paham radikalisme yang dapat memecah belah bangsa. Dimulai dari lingkungan di sekitar Masjid, dengan menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan, mulai sholat, mengaji, tadarus, berdiskusi, belajar termasuk bermain yang tentunya sesuai dengan etika di Masjid.
“Hal ini menjadi penting, supaya anak-anak generasi bangsa ini senang dengan Masjid dengan kegiatan yang positif”
Kedua, Transformasi Digital dan Intelektual (Mi’raj Intelektual); Perjalanan menembus langit adalah simbol pencapaian ilmu pengetahuan tertinggi. Remaja Masjid tidak boleh hanya mahir dalam urusan ritual, tapi juga harus menguasai teknologi.
Sebagai Remas tentunya harus mampu menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten positif, melawan hoax, dan mengedukasi masyarakat tentang menjadi etika dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Remas juga mempunyai tanggung jawab moral tentang bagaimana menggunakan teknologi dan media sosial yang lebih positif untuk kemajuan dan kemasyarakatan umat.
“Remaja masjid harus menjadi penerang di ruang digital dengan narasi-narasi kebangsaan yang sejuk”
Ketiga, Kepemimpinan Muda yang Berintegritas; Perintah salat yang dibawa Rasulullah adalah latihan kepemimpinan diri (self-leadership).
“Remaja Masjid harus belajar manajemen organisasi dan kedisiplinan melalui kepengurusan Masjid”
Nah, jikalau dari muda sudah terbiasa jujur dan amanah mengelola Masjid, mereka akan tumbuh menjadi calon pemimpin bangsa yang bersih dari korupsi di masa depan.
Keempat, Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Sosial; Isra Mi’raj mengajarkan kepedulian sosial. Remaja masjid tidak boleh asyik sendiri di dalam masjid sementara lingkungan sekitarnya mengalami kesulitan.
Remas harus mampu menjaga inspirator dengan menginisiasi program sosial seperti bakti sosial, bimbingan belajar gratis bagi anak kurang mampu, atau gerakan cinta lingkungan (Masjid Hijau).
“Ini adalah bentuk bakti nyata Remaja Masjid terhadap bangsa”
Kelima, Membangun Mentalitas High Achiever; Mi’raj adalah perjalanan menuju puncak tertinggi (Sidratul Muntaha). Ini adalah pesan agar remaja muslim memiliki cita-cita yang tinggi untuk memajukan Indonesia.
Remaja masjid tidak boleh malas, dimana semangat Mi’raj harus diterjemahkan menjadi semangat belajar yang tinggi untuk menjadi dokter, insinyur, pengusaha, atau seniman yang membawa nama harum Indonesia di kancah internasional.
Maka Remaja Masjid harus memahami tentang 3S dalam rangka meningkatkan peran diri dalam kehidupan, yakni:
- Spiritualitas: Jaga shalat sebagai fondasi karakter.
- Sosial: Jadikan Masjid bermanfaat untuk lingkungan sekitar (nasionalisme nyata).
- Smart: Kuasai teknologi dan ilmu pengetahuan untuk masa depan bangsa.














