Inspirasi Kehidupan : Bisakah Syiah tidak Mencela dan Membenci Sahabat Nabi ?
Oleh KH. Nurbani Yusuf
(Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar)
Sekaligus menjawab problem teologis :
Kenapa Syiah membenci sahabat Nabi terutama Abu Bakar dan Umar bin Khattab, dua sahabat yang sangat dimuliakan kaum Suni ?
Bagi Syiah yang merampas hak Imamah Ali Karramallahu wajhah adalah Abu Bakar ra dan Umar ra. Yang menipu Ali ra dalam perundingan Tahkim setelah perang Siffin adalah Suni. Yang memenggal kepala Cucu Nabi SAW adalah Yazid bin Mua’awiyah. Yang mengejar, mengintimidasi dan membunuhi dzuriah Nabi SAW adalah rezim Suni.
Ikhtiar meletakkan peristiwa sejarah kepolitikan masa sahabat salaf ini sangat penting sebagai media untuk dapat saling memahami.
Peristiwa tsaqifah bani sa’diyah bahwa pembaiatan Abu Bakar adalah pangkal segala selisih: Syiah berpendapat ini perampokan Imamah milik Ali karramallahu wajhah. Sementara Abu Bakar ra dan Umar ra berpendapat baiat tsaqifah bani sa’diyah adalah ijtihad terbaik untuk mencegah umat Islam perang saudara antara kaum muhajirin dan anshar yang berebut menjadi Amir atau Khilafah.
Ikhtiar saling memahami ini sangat penting untuk merintis jalan taqrib pendekatan antara Suni dan Syiah. Syaikh Mahmud Saltot grand syaikh al Azahr beberapa kali melakukan taqrib meski berakhir dengan firnah Al Azhar disusupi Syiah. Yang berikhtiar mencari titik temu dicap Syiah.
Bukankah pertengkaran dimulai sejak sayidah Fatimah az Zahra ra kecil dan Sayidah Aisyah ra isteri kesayangan berebut pangkuan paha Nabi SAW.
Bukankah Sayidina Ali karramallahu wajhah berkata: kalian sudah berebut jabatan padahal jenazah nabimu masih hangat belum dikuburkan.
Bukankah Sayidina Said bin Abu Ubadah ra ditemukan tergeletak tanpa nyawa esuk harinya sebab menolak dan walkout dari baiat di Tsaqifah Bani Sai’dah.
Bukankah Sayidina Ali karramallahu wajhah dan Sayidina Ustman ra saling dorong berebut menjadi imam shalat jenazah Sayidina Umar ra.
Berikutnya Peristiwa tragis menimpa cucu kesayangan Nabi SAW Sayidina Husen ra yang dipenggal kepalanya kemudian di arak di seluruh kota dimana pelakunya Yazid bin Mu’awiyah adalah kaum Suni menurut Syiah meski kemudian ada berbagai versi pembelaan dan pembenaran dari kalangan Suni.
Selisih yang berpangkal dari peristiwa politik ini terus dirawat dan berkembang dinamis bahkan di agamakan dan diberi cap teologis— saling menyesatkan dan mengkaferkanpun tidak bisa di elak.
Tragisnya Barat : Yahudi dan Kresten bersekongkol ikut terlibat menambah centang perenang selisih Suni-Syiah kian tajam dan memanas- ironisnya ulama salafi- wahabi bukannya mendamaikan dan mencari solusi malah ikutan menjadi kompor agar pertengkaran terus terawat.
Berbeda dengan Kristen di mana perselisihan menciptakan agama baru— selisih Suni-Syiah tetap dalam koridor : Syahadat yang sama, Al-Qur’an yang sama. Nabi yang sama, dan Kiblat shalat yang sama.
Menepis Kemungkinan lahirnya agama baru meski ada beberapa ulama menyebut Syiah keluar dari Islam, tapi bukti dokumentatif menyebut bahwa Syiah masih melaksanakan haji dan umrah di Mekah dan Madinah.
“Bukti otentik bahwa Syiah adalah Islam yang tak terbantahkan, meski dengan hujjah seluas bumi dan langit”














