Surabaya, liputanmu – Berjuang sendirian itu melelahkan, tapi berjuang bersama tanpa ritme yang jelas bisa membuat kita tumbang serempak. Kita seringkali terlalu bersemangat mengejar garis finish sampai lupa bahwa perjuangan ini bukanlah sprint pendek, melainkan maraton yang panjang.
Hal ini disampaikan oleh Ustadz Muriansa, SE., Bendahara Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo dalam momentum gowes bersama rekan seperjuangan pada Ahad (29/03/2026).
Menyelaraskan Langkah PerjuanganÂ
Ustadz Muri, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa perjuangan bersama bukan berarti kita harus berlari di kecepatan yang sama setiap saat. Ia juga mengingatkan bahwa ada kalanya satu orang memimpin di depan untuk membelah angin, dan ada kalanya yang lain menarik napas di belakang.
“Kuncinya adalah sinkronisasi, bukan kompetisi di dalam tim sendiri.” Tegasnya.
Pentingnya Memahami Seni Mengatur Napas
Lebih lanjut, Ustadz Muri juga menyampaikan bahwa jangan biarkan ambisi membakar habis oksigen mu di awal perjalanan.
“Mengatur nafas berarti tahu kapan harus melakukan 3 hal berikut, yakni; Pertama, Akselerasi; Saat peluang terbuka lebar dan energi sedang penuh.” Ungkapnya.
Kedua, Bertahan; Saat tantangan datang bertubi-tubi.
Ketiga, Jeda Sejenak; Bukan untuk menyerah, tapi untuk memastikan paru-paru kita siap untuk tanjakan berikutnya.
Saling Berbagi Beban dalam PerjuanganÂ
“Jika kau ingin berjalan cepat, jalanlah sendiri. Jika kau ingin berjalan jauh, jalanlah bersama-sama.” Katanya.
Saat nafasmu mulai tersengal, lanjut Ustadz Muri, jangan ragu untuk bersandar. Dan saat rekanmu mulai lunglai, jadilah oksigen bagi mereka. Kita tidak hanya berbagi visi, tapi juga berbagi kelelahan.
“Ingatlah, tujuan kita memang penting, tapi keberadaan kita di garis finish jauh lebih penting. Jangan sampai kita sampai ke sana dalam keadaan jiwa yang sudah habis.” Pungkasnya. (Humas/Gus).














