Surabaya, liputanmu – Sebuah pemandangan mengharukan sekaligus menginspirasi mewarnai puncak acara Khotmul Qur’an ke-4 dan Imtihan yang digelar oleh Sekolah Qur’anic and Internasional SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix) di Aula Balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur. Ahad (31/05/2026).
Seorang siswa kelas 4-A (Al-Baasith) sukses mencuri perhatian ratusan hadirin lewat sebuah keteguhan mental yang langka. Siswa tersebut bernama Muhammad Alvio Fateeh Widyabrata.
Sejak awal sesi uji publik atau imtihan dimulai, Alvio sebenarnya sudah duduk dengan antusiasme tinggi di barisannya, berharap namanya segera dipanggil oleh tim penguji untuk maju ke panggung utama. Namun, hingga detik-detik akhir menjelang penutupan sesi tanya jawab, kesempatan yang dinantinya tak kunjung datang.
Rasa antusias itu perlahan luruh menjadi gurat kesedihan mendalam di wajahnya. Kecewa karena merasa belum mendapat ruang untuk menunjukkan hasil jerih payahnya belajar Al-Qur’an, air mata Alvio pun runtuh. Isak tangisnya di barisan peserta sempat menyentuh hati para guru dan wali murid yang menyaksikan betapa besarnya keinginan bocah kelas 4 ini untuk diuji.
Keberanian Setelah Sesi Ditutup
Drama sesungguhnya dimulai tepat setelah sesi imtihan resmi ditutup oleh panitia. Alvio menunjukkan sebuah nyali dan tekad besar yang jarang dimiliki anak seusianya. Di sela-sela sisa isak tangisnya, ia dengan suara lantang justru memohon langsung di hadapan para penguji.
“Ustadz, tolong uji kemampuan saya, Ustadz.” Pintanya penuh harap.
Mendengar permohonan tulus tersebut, Direktur Ummi Foundation Surabaya, Ustadz Hadziq Asy Syairofi, S.H.I., menunjukkan kebijaksanaannya dengan memberikan kesempatan khusus (dispensasi) bagi Alvio.
Walau beberapa hadirin sempat ragu apakah Alvio siap mental karena kondisinya yang baru saja menangis, panggung khusus itu tetap dibuka sebagai bentuk apresiasi atas keberaniannya.
Kejutan Materi Saktah
Begitu berhadapan dengan mikrofon, Alvio langsung membalikkan keraguan menjadi kekaguman. Ia melantunkan ayat demi ayat dengan sangat lancar dan tartil. Puncaknya, Ustadz Hadziq melontarkan pertanyaan tajam seputar hukum tajwid dan ghorib.
“Mengapa disebut bacaan Saktah?” Tanya Ustadz Hadziq.
Tanpa jeda berpikir yang lama, Alvio menjawabnya dengan sangat lancar, lantang, dan tepat. Tidak sekadar teori, ia bahkan dengan cerdas mampu merincikan contoh konkret letak ayat saktah tersebut pada surah Al-Qur’an yang lain secara presisi.
Mendengar jawaban putranya yang begitu sempurna, ketegangan di dalam aula pecah menjadi gemuruh tepuk tangan riuh. Di sudut kursi undangan, Nining Widyasari, ibunda Alvio, tak kuasa menahan haru hingga air matanya meleleh membasahi pipi.
Ujian Mental dan Karakter
Dalam kesempatan tersebut, Kepala SD Musix, Ustadz Munahar, S.H.I., M.Pd., menyampaikan bahwa apa yang disuguhkan Alvio di atas panggung adalah potret pembentukan karakter yang sukses.
“Ini bukan sekadar masalah anak bisa menjawab atau tidak. Ini soal mental. Alvio menunjukkan itu—berani, jujur, dan selalu siap diuji.” Tutur Ustadz Munahar mantap.
Apresiasi senada juga datang dari Ustadz Hadziq Asy Syairofi yang menilai bahwa inisiatif seorang santri meminta diuji secara sukarela merupakan tanda kesungguhan yang hakiki dalam belajar.
Melalui kisah Alvio, publik diingatkan kembali bahwa esensi Imtihan di SD Musix bukan hanya ruang evaluasi akademis membaca Al-Qur’an, melainkan sebuah kawah candradimuka untuk mengasah mentalitas pantang menyerah (grit), integritas, serta kepercayaan diri anak-anak sejak usia dini dalam menghadapi tantangan zaman. (Basirun/Kontributor SD Musix Surabaya).














