Thursday, April 23, 2026
Thursday, April 23, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan : Ketika Agama Dipersempit oleh Label

Must Read

Inspirasi Kehidupan : Ketika Agama Dipersempit oleh Label

Catatan Kritis atas Narasi; “Yahudi Wahabi, Yahudi Syiah, dan Islam Kejawen”

Oleh Ustadz Asruri Muhammad 

(Pemerhati Sosial Keagamaan)

“Narasi yang Perlu Diletakkan Kembali pada Proporsinya”

Tulisan berjudul “Yahudi Wahabi, Yahudi Syiah, dan Islam Kejawen” karya KH. Dr. Nurbani Yusuf di Liputanmu.net mengangkat isu yang sensitif dengan gaya yang tidak kalah sensitif. Sekilas ia tampak sebagai kritik, namun di dalamnya terdapat cara penyajian yang berpotensi menggeser nalar umat dari ruang ilmiah menuju ruang generalisasi.

Di sinilah persoalannya bukan sekadar “apa yang dikritik”, tetapi “bagaimana cara kritik itu dibingkai”.

Sebab dalam wacana keagamaan, pilihan istilah bukan perkara netral. Ia membentuk cara pandang. Dan cara pandang yang dibangun dengan penyamaan-penyamaan yang longgar, cenderung melahirkan kesimpulan yang juga longgar—bahkan bisa menyesatkan jika diterima tanpa kritik.

Ketika Label Lebih Kuat dari Penjelasan

Menyandingkan istilah “Yahudi” dengan kelompok-kelompok dalam Islam seperti Wahabi, Syiah, maupun Islam Kejawen bukan sekadar gaya bahasa. Ia adalah framing yang kuat, yang secara tidak langsung mengarahkan pembaca pada kesimpulan tertentu sebelum argumentasi dibangun secara utuh.

“Padahal dalam tradisi ilmiah Islam, kritik seharusnya berjalan dengan rinci, proporsional, dan berbasis dalil. Bukan dengan penyederhanaan yang menghapus nuansa”

Di titik ini, kita perlu jujur bertanya: apakah kita sedang membangun pemahaman, atau sekadar memperkuat prasangka?

Karena ketika label lebih dominan daripada penjelasan, maka yang lahir bukan pencerahan, melainkan polarisasi.

Standar Ilahi: Keadilan di Atas Segalanya

Al-Qur’an telah meletakkan standar yang sangat jelas dalam bersikap:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Artinya :“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencian suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).

Ayat ini tidak turun dalam ruang kosong. Ia turun untuk mengoreksi kecenderungan manusia yang mudah terpengaruh emosi—terutama ketika berhadapan dengan pihak yang tidak disukai.

Maka ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah siapa yang kita sukai atau tidak sukai, melainkan sejauh mana kita mampu tetap adil di tengah perbedaan.

Ummatan Wasathan: Identitas yang Mengandung Tugas

Allah juga menegaskan identitas umat ini sebagai:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Artinya :“Dan demikianlah Kami menjadikan kalian umat yang pertengahan agar kalian menjadi saksi atas manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Para ulama menafsirkan wasath sebagai umat yang adil, seimbang, dan berada di tengah—tidak berlebihan dan tidak meremehkan.

“Namun yang sering dilupakan adalah konsekuensi dari posisi itu: menjadi saksi”

Dan dalam logika kesaksian, keadilan adalah syarat mutlak. Kesaksian yang tidak adil tidak bernilai. Bahkan bisa gugur sebelum didengar.

Di sinilah letak ironi ketika umat yang ditugaskan menjadi saksi justru kehilangan keseimbangan dalam menilai.

Teladan Rasul: Tegas Tanpa Kehilangan Adab

Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling tegas dalam menyampaikan kebenaran. Namun ketegasan beliau tidak pernah menghilangkan keadilan, apalagi melahirkan generalisasi yang tidak proporsional.

Dalam banyak riwayat, beliau tetap menjaga hak orang lain untuk dipahami secara utuh sebelum dihukumi. Bahkan terhadap pihak yang jelas menentang, beliau tetap menunjukkan sikap yang terukur, tidak berlebihan dalam vonis, dan tidak terburu-buru dalam penilaian.

“Inilah yang membedakan antara dakwah yang berilmu dan dakwah yang sekadar emosional”

Bahaya Cara Berpikir yang Menyederhanakan

Narasi yang terlalu mudah melabeli dan menyamakan memiliki dampak jangka panjang yang tidak kecil. Ia membentuk cara berpikir umat menjadi:

  • Mudah menghakimi tanpa tabayyun.
  • Cepat menyimpulkan tanpa memahami.
  • Dan cenderung melihat perbedaan sebagai ancaman, bukan sebagai realitas.

Jika ini terus dibiarkan, maka yang lahir bukan umat yang tercerahkan, melainkan umat yang terfragmentasi oleh prasangka.

“Padahal persoalan umat tidak akan selesai dengan memperbanyak label, tetapi dengan memperluas pemahaman”

Kembali kepada Mizan Keadilan

Pada akhirnya, tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membela kelompok tertentu, melainkan untuk mengingatkan satu hal yang sangat mendasar: keadilan adalah mizan (timbangan) dalam beragama.

Jika timbangan itu bergeser karena emosi, maka apa pun yang kita sampaikan berisiko kehilangan bobot kebenarannya.

Bukankah Kita Ini Ummatan Wasathan?

Jika kita tidak mampu bersikap adil, bahkan dalam perbedaan yang kita anggap salah sekalipun, lalu dengan apa kita akan menjadi saksi bagi manusia?

Sebab pada akhirnya, yang akan dinilai bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana cara kita bersikap dalam menyampaikan kebenaran itu.

“Dan di situlah kualitas keberagamaan seseorang benar-benar diuji”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Kartini Menginspirasi, Panggung Pelajar Spemsa Menyalakan Semangat Perubahan

Surabaya, liputanmu - Aula SMP Muhammadiyah 1 (Spemsa) Surabaya pagi itu tak sekadar menjadi ruang berkumpul, tetapi berubah menjadi...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img