Malang, liputanmu — Malam itu, Sabtu (02/05/2026) dalam rangkaian kegiatan Capacity Building Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya, suasana terasa berbeda, yakni Malam Keakraban Bersama (Makbar).
Para guru dan karyawan duduk melingkar mengitari api unggun. Cahaya bara yang menari, temaram malam, serta pepohonan yang berdiri tenang di sekeliling mereka menghadirkan suasana yang syahdu dan penuh makna.
Rintik hujan sempat turun perlahan, seolah ikut menyapa kebersamaan malam itu. Namun, gerimis kecil tersebut tak mampu memadamkan hangatnya suasana. Justru, ia menambah kesan haru dalam sebuah malam keakraban yang kelak akan menjadi kenangan mendalam bagi keluarga besar Sekolah Karakter SDM 24 Surabaya.
Pada malam itu, setiap guru dan karyawan diminta menuliskan harapan, keluh kesah, dan apresiasi selama mengabdi di Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya. Tak terkecuali Ustadzah Norma Setyaningrum, M.Pd., Kepala Sekolah, yang juga turut larut dalam suasana reflektif tersebut.
Satu per satu kertas dikumpulkan. Lalu, dengan penuh keteguhan hati, Ustadzah Norma membacakan isi tulisan itu. Ada kalimat yang membuat hati tersentuh. Ada ungkapan yang menyimpan luka. Ada pula pesan-pesan yang terasa menohok, namun lahir dari kejujuran hati.
Dengan lapang dada, ia tetap membacanya hingga selesai. Tidak ada kemarahan. Tidak ada pembelaan diri. Yang hadir justru ketulusan seorang pemimpin untuk mendengar, memahami, dan merangkul.
“Terima kasih, dan mohon maaf atas segala hal yang ada.” Ungkap Ustadz Norma dengan penuh kerendahan hati.
Malam itu menjadi ruang yang jujur. Ruang tempat suara-suara hati akhirnya menemukan tempatnya. Uneg-uneg yang lama tersimpan tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi bahan renungan bersama. Keluh kesah tidak lagi dipandang sebagai kelemahan, tetapi sebagai pintu untuk saling memahami dan memperbaiki diri.
Setelah semua tulisan dibacakan, Ustadzah Norma memberi pilihan, “Apakah kertas-kertas itu akan dibawa kembali ke sekolah, atau dibakar bersama bara api unggun malam itu.” Katanya. Dengan satu suara, para guru dan karyawan sepakat membakarnya.
Maka, lembar demi lembar kertas itu pun diserahkan kepada api. Perlahan, segala keluh menjadi abu. Segala luka dibiarkan luruh bersama bara. Namun bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diikhlaskan. Bukan untuk dihapus tanpa makna, melainkan untuk diubah menjadi energi baru.
Dari abu itu, tumbuh tekad, dari bara itu, menyala semangat. Dan dari malam itu, lahir harapan untuk menjadi tim yang lebih solid, lebih kuat, dan lebih tulus dalam mengantarkan Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya menjadi sekolah yang unggul dan berkarakter.
Untuk menambah spirit malam itu, Ustadzah Luluk Humaida, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, didaulat memberikan motivasi. Dalam pesannya, ia mengingatkan agar para guru dan karyawan tidak mudah larut dalam keluh kesah. Beliau menyitir ayat Al-Insyira yang mengajarkan bahwa setiap kesulitan selalu disertai jalan keluar.
“Setiap kesulitan selalu disertai jalan keluar, dan setiap amanah selalu mengandung peluang untuk mendekat kepada Allah.” Tegasnya.
Motivasi berikutnya disampaikan oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md., Wakil Ketua PCM Wonokromo. Ia berpesan agar seluruh guru dan karyawan tetap sabar, semangat, dan istiqamah dalam menjalankan amanah di SDM 24.
Ia juga mengingatkan pentingnya menyertakan “jalur langit” dalam setiap ikhtiar pendidikan. Sebab, sejatinya yang mampu melembutkan hati anak didik, membentuk akhlak mereka, dan menumbuhkan potensi terbaik dalam diri mereka hanyalah Allah semata.
“Guru hanyalah perantara mulia yang diberi kehormatan untuk menanam benih kebaikan.” Ujarnya.
Malam pun semakin hangat. Setelah air mata, kejujuran, dan nasihat yang menenteramkan, suasana berubah menjadi penuh sukacita. Para guru dan karyawan saling bertukar kado, menghadirkan senyum, tawa, dan rasa kekeluargaan yang kian erat.
Makbar malam itu bukan sekadar acara keakraban. Ia menjadi perjalanan batin. Sebuah momen ketika hati-hati yang lelah kembali dikuatkan, ketika keluh kesah tidak berhenti sebagai beban, tetapi menjelma menjadi asa.
Selamat untuk keluarga besar SD Muhammadiyah 24 Surabaya.
Teruslah bertumbuh bersama.
Saling menguatkan dalam amanah.
Saling menjaga dalam ukhuwah.
Dan teruslah menjadi sekolah yang unggul, berkarakter, serta penuh cahaya kebaikan.(Taufikhi)














