Inspirasi Kehidupan: Tak Sekadar Fisik, Dakwah adalah Pertemuan Jiwa
Oleh KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.
(Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
Artinya :“Ruh-ruh itu laksana pasukan yang dihimpun; yang saling mengenal di antara mereka akan berpadu, dan yang saling tidak mengenal akan berbeda.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam horizon dakwah, hadis mulia ini menyimpan pesan yang sangat dalam, dimana dakwah sejatinya bukan sekadar perjumpaan antara lisan dan telinga, melainkan perjumpaan murni antara jiwa dan jiwa.
Seorang da‘i mungkin memiliki argumentasi yang kuat, retorika yang indah, serta pengetahuan yang luas. Namun, semua itu belum tentu mampu menyentuh hati bila jiwanya tidak memancarkan keikhlasan, kasih sayang, dan keteduhan.
Sebab, sebelum kata-kata sampai kepada pendengaran, keadaan batin seorang da‘i telah lebih dahulu dirasakan oleh mereka yang didakwahi. Di sinilah relevansi al-arwahu junudun mujannadah bagi setiap gerakan dakwah:
Pertama, Bangunlah jiwa sebelum membangun jaringan.
Kedua, Satukan hati sebelum menyatukan barisan.
Ketiga, Benahi diri sebelum berikhtiar membenahi masyarakat.
Kekuatan sebuah barisan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kokohnya struktur organisasi, tetapi terutama oleh kesatuan kiblat batin: Allah sebagai tujuan, kebenaran sebagai jalan, dan raḥmah sebagai cara.
“Alhamdulillah, jazakumullahu khairan wa barakallahu fīkum atas silaturrahim yang penuh makna dari Ustadz Dr. Fathur Rohman beserta tim, serta Prof. Halim, selaku sejawat di Prodi KPI UMY. Semoga pertemuan jiwa ini senantiasa diberkahi dan dikokohkan dalam jalan dakwah”














