Ranting Bergerak: Ketika Ranting Ibarat Transformator Rusak
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
Di sebuah ruang kerja sederhana, beberapa orang bergotong royong menangani sebuah transformator. Tidak ada panggung, tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya tangan-tangan yang bekerja, keringat, kehati-hatian, dan tanggung jawab.
“Inilah wajah kerja yang sesungguhnya, tidak selalu terlihat, tetapi sangat berarti”
Transformator itu berat. Untuk mengangkat dan memperbaikinya, satu orang tidak akan cukup. Harus ada yang mengarahkan, ada yang memegang, ada yang mengawasi, dan ada yang memastikan semuanya aman.
Begitu pula dalam kehidupan dan organisasi; Yang berat bukan selalu pekerjaannya. Yang sering membuatnya berat adalah ketika semua orang ingin menjadi penonton, bukan bagian dari pekerjaan.
Kadang kita terlalu sibuk mencari tempat yang nyaman untuk bekerja, padahal keberhasilan justru lahir dari kesediaan turun tangan.
Ada pelajaran lain yang lebih dalam; Transformator yang rusak tidak langsung dibuang. Ia diperiksa, dibongkar, dibersihkan, diperbaiki, lalu diharapkan kembali berfungsi.
“Manusia dan organisasi pun demikian. Jangan terlalu cepat membuang sesuatu hanya karena sedang mengalami kerusakan. Bisa jadi yang dibutuhkan bukan penggantian, tetapi perhatian, perbaikan, dan tangan-tangan yang mau bekerja bersama”
Dan lihat pakaian mereka yang seragam. Berbeda karakter, berbeda posisi, tetapi berada dalam satu pekerjaan. Seragam bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol bahwa tujuan bersama harus lebih besar daripada ego pribadi.
Maka pesan dari gambar ini sederhana: Jangan hanya bertanya, “Siapa yang bertanggung jawab?” Sesekali bertanyalah, “Apa yang bisa saya kerjakan?”
“Karena perubahan tidak lahir dari banyaknya orang yang berbicara. Perubahan lahir ketika orang-orang berhenti menunggu dan mulai turun tangan”














