Jakarta, liputanmu — Kemerdekaan Republik Indonesia tidak diraih secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang yang melibatkan pengorbanan fisik serta pemikiran intelektual dari seluruh komponen bangsa.
Hal tersebut ditekankan dalam Pidato Kebangsaan yang disampaikan oleh Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., pada Selasa (18/08/2026) di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta.
Dalam pidatonya, Ketum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., disampaikan bahwa kecintaan terhadap Tanah Air harus diwujudkan nyata melalui pengabdian dan tanggung jawab moral. Setiap elemen bangsa, baik pemimpin, politisi, pengusaha, maupun warga negara, didorong untuk mengutamakan kepentingan rakyat dan menghindari tindakan yang merugikan negara.
“Cinta itu hakikatnya memberi, bukan menuntut apalagi mencuri. Kecintaan kepada Indonesia harus diwujudkan dalam sikap memberi, bukan meminta apalagi mengambil dari negara.” Tegas Prof. Haedar.
Peran Strategis Muhammadiyah dalam Mengisi Kemerdekaan
Prof. Haedar juga menyoroti peran historis Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Organisasi Islam ini dinilai konsisten mengembangkan pendidikan Islam modern dengan memadukan nilai-nilai agama, ilmu pengetahuan, serta orientasi kebangsaan yang kuat.
Menurut Prof. Haedar bahwa kontribusi nyata Muhammadiyah bagi kemajuan bangsa terwujud melalui berbagai sektor pembangunan sosial, di antaranya:
Pertama, Pendidikan: Mendirikan jaringan sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Kedua, Kesehatan: Membangun rumah sakit dan poliklinik untuk melayani masyarakat luas.
Ketiga, Sosial & Kemandirian: Mengembangkan media massa, kepanduan Hizbul Wathan, serta organisasi perempuan ‘Aisyiyah.
Menurutnya, berbagai gerakan dan amal usaha tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam menyiapkan masyarakat Indonesia agar tumbuh menjadi bangsa yang sehat, terdidik, dan cerdas.
“Seluruh ikhtiar ini pada akhirnya bertujuan untuk memastikan rakyat Indonesia siap mengisi dan merawat kemerdekaan dengan penuh tanggung jawab.” Pungkasnya. (Humas/Gus).














