Inspirasi Kehidupan: Ekonomi Umat, Wa Ta’awanu ‘Alal Birri Wa Bisnis
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
“Saling menguatkan, saling menghidupkan, sukses bersama. Krisis ekonomi tidak selalu datang dalam bentuk PHK dan kebangkrutan”
Kadang ia hadir lebih diam-diam: usaha sepi, omzet turun, kader sulit mendapatkan pekerjaan, UMKM kehabisan modal, dan keluarga semakin berat memenuhi kebutuhan hidup.
Di tengah tekanan ekonomi, kita tidak boleh membiarkan warga Persyarikatan berjuang sendirian. Ironisnya, Muhammadiyah memiliki kekuatan yang luar biasa:
“Jutaan warga, pengusaha, profesional, UMKM, sekolah, kampus, rumah sakit, koperasi, amal usaha, modal, keahlian, dan jaringan”
Tetapi pertanyaannya: Mengapa kekuatan sebesar itu belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi bersama?
Kita punya jaringan besar, tetapi transaksi masih tercerai-berai. Kita punya banyak kader, tetapi sebagian masih mencari pekerjaan. Kita punya pengusaha, tetapi belum semuanya menjadi pintu bagi pengusaha lainnya.
Kita bicara pemberdayaan, tetapi terkadang lebih sibuk membuat program daripada menciptakan transaksi, kolaborasi, dan lapangan kerja nyata. Jangan-jangan masalah kita bukan kekurangan potensi, tetapi kurangnya kemauan untuk saling menghubungkan potensi.
Di tengah krisis, pola pikir: “Yang penting usaha saya jalan.” Tidak lagi cukup. Kita membutuhkan cara berpikir baru: “Bagaimana usaha saya bisa membuat usaha saudara saya ikut hidup?”
Allah SWT berfirman :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
Artinya :“Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Maka mari kita hidupkan semangat itu dalam ekonomi: wa ta’awanu ‘alal birri wa bisnis. Bukan mengubah ayat, tetapi membumikan ruh ta’awun dalam dunia usaha.
Jika ada produk warga Muhammadiyah yang berkualitas, amanah, dan kompetitif, mengapa kita tidak menjadi pembeli pertamanya?
Jika ada kader yang sedang merintis usaha, mengapa kita menunggu dia sukses sebelum memberikan dukungan?
Jika kita punya modal, pasar, ilmu, jaringan, atau akses, mengapa tidak kita gunakan untuk membuka jalan bagi yang lain? Sebab dalam kondisi ekonomi yang sulit:
- Satu pelanggan bisa menyelamatkan satu usaha.
- Satu jaringan bisa membuka satu pekerjaan.
- Satu modal bisa menghidupkan satu keluarga.
- Satu kolaborasi bisa melahirkan banyak keberhasilan.
Inilah ta’awun yang harus naik kelas. Bukan hanya saling mendoakan, tetapi saling menguatkan. Bukan hanya saling mengenal, tetapi saling menggunakan potensi. Bukan hanya berkumpul dalam organisasi, tetapi membangun ekosistem ekonomi.
Tentu bukan berarti membeli hanya karena satu organisasi. Profesionalisme tetap nomor satu. Harga harus wajar, kualitas harus unggul, transaksi harus amanah, dan pelayanan harus profesional.
Tetapi ketika kualitasnya setara: “Mengapa uang kita harus keluar dari ekosistem, jika dengan transaksi yang sama kita bisa menguatkan saudara sendiri?”
“Krisis seharusnya menjadi momentum untuk bersatu secara ekonomi”
Yang punya pasar membuka pasar, yang punya modal membuka akses, yang punya ilmu berbagi ilmu, yang punya jaringan menghubungkan dan yang sudah sukses membantu melahirkan kesuksesan baru.
Karena Persyarikatan yang besar bukan hanya yang banyak amal usahanya, tetapi yang mampu membuat warganya semakin berdaya. Jangan sampai kita sibuk mengatakan: “Muhammadiyah harus maju.”
Tetapi tidak pernah bertanya: “Apa yang sudah saya lakukan agar saudara saya tidak tertinggal?”
Jangan hadapi krisis sendirian, bangun kekuatan ekonomi bersama. Saling menguatkan, saling menghidupkan, saling membuka jalan, sukses bersama—dunia dan akhirat; wa ta’awanu ‘alal birri wa bisnis.














