Sunday, September 27, 2026
Sunday, September 27, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Ketika Psikologi Menjadi Cermin Seorang Kepala Sekolah

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Ketika Psikologi Menjadi Cermin Seorang Kepala Sekolah

Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.

(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)

Skill relatif mudah dipelajari, tetapi jauh lebih sulit mengubah: ego, impulsivitas, kebutuhan akan pengakuan, cara menghadapi kritik, kecenderungan menyalahkan orang lain, toleransi terhadap frustrasi, kebutuhan mengontrol, dan cara menggunakan kekuasaan.

“Di sinilah alasan mengapa tes psikologi dalam seleksi Kepala Sekolah bisa memiliki bobot yang sangat besar”

Bukan karena kemampuan teknis tidak penting. Justru sebaliknya, seorang calon Kepala Sekolah harus memahami kurikulum, RKAS, manajemen SDM, strategi PPDB, marketing sekolah, digitalisasi, hingga komunikasi publik.

Semua itu bisa dipelajari, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diajarkan: karakter ketika seseorang memegang kekuasaan.

Orang bisa belajar membuat SWOT, menyusun RKAS, mengikuti pelatihan kepemimpinan, berbicara di depan guru dan orang tua, bahkan tampil percaya diri saat wawancara.

Namun, bagaimana seseorang bereaksi ketika dikritik atau keputusannya ditolak? Apakah ia mampu mengakui kesalahan, menahan impuls, menerima frustrasi, dan tidak melampiaskannya kepada orang lain? Apakah ia mudah tersinggung ketika kewibawaannya dipertanyakan, cenderung menyalahkan bawahan, atau membutuhkan pengakuan?

Dan yang paling penting: Apa yang terjadi pada dirinya ketika ia memiliki kewenangan?

“Inilah wilayah yang tidak mudah terlihat dari CV, sertifikat pelatihan, atau jawaban wawancara”

Sebab jabatan tidak selalu mengubah karakter seseorang. Sering kali jabatan justru memperbesar karakter yang sudah ada. Orang yang sabar ketika menjadi guru, ketika memiliki kewenangan bisa menjadi pemimpin yang sangat matang.

Sebaliknya, seseorang yang sejak awal memiliki ego tinggi, ketika memperoleh kekuasaan bisa perlahan berubah menjadi: “Saya kepala sekolah. Saya yang menentukan.”

Masalahnya bukan pada kalimat itu, melainkan ketika jabatan mulai dianggap sebagai hak untuk selalu benar. Di sinilah tes psikologi menjadi penting.

Psikologi tidak sekadar mencari tahu apakah seseorang pintar atau tidak. Ia membaca bagaimana seseorang berpikir, merasakan, mengendalikan diri, menghadapi tekanan, berhubungan dengan orang lain, dan menggunakan kewenangan.

Karena sekolah bukan hanya membutuhkan kepala yang cerdas, tetapi sekolah membutuhkan pemimpin yang matang secara emosional. Sebab keputusan yang salah masih bisa diperbaiki.

Tetapi pemimpin yang tidak mampu mengendalikan ego dapat membuat satu sekolah kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: kepercayaan.

Maka jangan heran jika dalam seleksi kepala sekolah, kemampuan teknis bisa terlihat sangat mengesankan, tetapi hasil psikologi justru menjadi alarm yang menentukan.

Karena lembaga sebenarnya tidak hanya sedang bertanya: “Apakah orang ini mampu memimpin sekolah?”

Ada pertanyaan yang jauh lebih dalam: “Jika orang ini diberi kekuasaan, akan menjadi seperti apa sekolah ini?”

“Itulah sebabnya psikologi bukan sekadar tes. Ia adalah cermin, dan kadang, yang paling sulit kita hadapi bukan hasil tesnya. Melainkan diri kita sendiri yang terlihat di dalamnya”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Awali Hari dengan Kajian dan Sunmori, BikersMu Chapter Surabaya Pererat Ukhuwah dan Syiar Dakwah

Surabaya, liputanmu— Terus berkemajuan dan mencerahkan, hari yang penuh keberkahan dan kebersamaan mewarnai kegiatan para anggota Bikers Muhammadiyah (BikersMu)...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img