Friday, October 16, 2026
Friday, October 16, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Tahdzir: Menyesatkan, Mengkafirkan, dan Menghalalkan Darah Sesama Mukmin Juga Manhaj Salaf?

Must Read

Tahdzir: Menyesatkan, Mengkafirkan, dan Menghalalkan Darah Sesama Mukmin Juga Manhaj Salaf?

Oleh KH. Nurbani Yusuf 

(Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar, Pusat Studi Pemikiran Islam Kiai Haji Ahmad Dahlan)

Hipotesisnya adalah tidak semua Salaf itu saleh. Tidak semua yang mengaku Salafi ber-Manhaj Salafusshalih. Sebab, ada Salafi yang manhajnya tersambung hingga ke Abdurrahman bin Muljam, Washil bin Atha (ulama Muktazilah), atau Sulaiman bin Muqatil (ulama Mujassimah yang masyhur).

Tradisi mentahdzir, menilai bidah, sesat, kafir, hingga menghalalkan darah sesama mukmin, pertama kali diamalkan oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang ‘allamah, ahli Al-Qur’an, dan fuqaha kenamaan.

“Ini adalah sunnah sayyi’ah (tradisi buruk) yang dirawat dan diamalkan di sebagian kalangan Muslim hingga kini”

Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Abdurrahman bin Muljam lahir dan hidup di masa Nabi SAW, meski tak ada kabar yang menyebut ia pernah bertemu langsung dengan Nabi SAW. Ia dikenal sebagai sosok ahli Al-Qur’an dan fuqaha yang pernah dikirim Khalifah Umar bin Khattab ke Mesir.

Prestasi terbesar ‘allamah ahli Al-Qur’an dan fuqaha ini adalah membunuh Sayidina Ali karramallahu wajhah pada tanggal 17 Ramadan, menikamnya dengan belati beracun sambil membaca Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 207. Sebuah sunnah sayyi’ah yang masyhur diamalkan oleh kalangan Khawarij.

Masa Salaf bukanlah masa yang sempurna tanpa cela. Bukan pula zaman suci tanpa dosa. Jika masa Salaf adalah masa yang sempurna, lantas bagaimana menjelaskan tentang;

  • Konflik Sayidina Abu Bakar r.a. dengan Sayidah Fatimah az-Zahra mengenai harta Fadak?
  • Seteru Sayidina Ali karramallahu wajhah dengan Sayidah Aisyah r.a. tentang fitnah berita bohong (ifk) yang berujung pada Perang Jamal?
  • Tentang gemuruh Perang Shiffin dan Tahkim? Serta tentang pembunuhan cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW dan intimidasi rezim Dinasti Umayyah atas Ahlulbait?

Termasuk pula produk hadis-hadis palsu yang faktanya lahir di masa Salaf.
Tradisi merasa paling benar, paling takwa, berpikir eksklusif, intoleran, dan radikal sudah ada semenjak masa Nabi SAW.

Tradisi itu dirawat dan diamalkan hingga masa sekarang, di mana sebagian kalangan khalaf (generasi belakangan) turut mengikuti dan meneladaninya.

Manhaj Salaf memiliki spektrum: ada yang saleh, ada pula sebaliknya. Tidak semua sahabat dari masa Salaf beramal saleh. Begitu pula dengan tiga generasi Salaf lainnya.

Pertanyaan yang sama: Apakah setiap yang mengaku Salafi itu pasti saleh? Apakah setiap yang mengaku Salafi sudah pasti ber-Manhaj Salafusshalih?

Manhaj Salaf mengacu pada kredo normatif, cita-cita ideal yang diikhtiarkan, masa lampau yang dirindukan meski tak bakal pernah terulang kembali. Manhaj Salaf bukan menunjuk pada generasi, masa, atau sosok individu dengan kesempurnaan paripurna. Bukan pula zaman yang steril tanpa cela.

Manhaj Salaf adalah salah satu jalan, metode, cara pandang, perikehidupan, dan keberagamaan dari ribuan bahkan ratusan ribu kalangan Salaf itu sendiri. ‘Sunnah’ berpikir eksklusif, intoleran, radikal, sikap merasa paling benar sendiri, merasa paling adil, merasa paling takwa, serta egois individualistik telah ada sejak masa kenabian.

“Artinya, tradisi tahdzir (menyesatkan, membidahkan, dan mengkafirkan sesama mukmin) juga merupakan bagian dari praktik menyimpang yang bersanad hingga masa Salaf”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Sekolah Karakter SDM 24 Surabaya Gelar Visitasi Akreditasi Bersama Tim Asesor BAN-PDM

Surabaya, liputanmu - Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 (SDM 24) Ketintang, Surabaya, menggelar rangkaian kegiatan pemaparan dan verifikasi dalam...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img