Inspirasi Kehidupan: Tidak Semua Orang Berhak Menentukan Luka Kita
Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md.
(Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo)
“Belajar memperbaiki diri tanpa kehilangan harga diri”
Tidak semua orang yang membenci kita berarti kita bersalah. Tetapi jangan pula merasa selalu benar hanya karena kita merasa sudah berbuat baik.
Ketika banyak orang menjauh, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Bisa jadi ada sikap kita yang perlu diperbaiki. Namun, jangan pula menjadikan setiap penolakan sebagai ukuran nilai diri.
Ingatlah Rasulullah ﷺ pernah mengalami masa yang sangat berat, dikenal sebagai ‘Amul Huzni atau Tahun Duka. Setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib, beliau pergi ke Thaif. Bukannya mendapat perlindungan, beliau justru dihina, ditolak, bahkan dilempari batu hingga terluka.
Namun, Rasulullah SAW tidak membalas kebencian dengan kebencian. Beliau mengadukan kesedihannya kepada Allah SWT. Salah satu penggalan doa beliau yang masyhur:
اللَّهُمَّ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي
Artinya :“Ya Allah, selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli dengan apa pun yang menimpaku.”
Betapa dalam pelajarannya. Manusia boleh menyakiti, tetapi jangan biarkan mereka menentukan ketenangan hati kita. Kritik yang benar jadikan cermin, dan teguran yang tulus jadikan bahan perbaikan. Tetapi cercaan yang hanya ingin menjatuhkan, tidak perlu diberi tempat di dalam pikiran.
“Jangan sibuk mengubah semua orang agar menyukai kita. Sibuklah memperbaiki diri agar semakin layak dicintai Allah SWT”
Sebab, ukuran keberhasilan hidup bukan berapa banyak manusia yang menyukai kita, melainkan seberapa jujur kita memperbaiki diri di hadapan-Nya.
“Dengarkan kritik, perbaiki diri, tetapi jangan serahkan harga dirimu kepada penilaian manusia. Tidak harus disukai semua orang, tetapi jangan sampai kebencian orang lain membuat kita kehilangan akhlak”














