Surabaya, liputanmu— Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah turut serta aktif dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII Tarjih Muhammadiyah yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 5–7 November 2026.
Mengusung tema besar; “Satu Abad Tarjih: Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah, dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan,” perhelatan akbar ini menjadi momentum penting dalam perjalanan satu abad Majelis Tarjih untuk terus merumuskan ijtihad keagamaan yang mencerahkan dan memberdayakan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2022–2027, Ustadz Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si., menyampaikan bahwa acara yang berlangsung khidmat sekaligus hangat ini mempertemukan para ulama, pimpinan, cendekiawan, serta kader Muhammadiyah dari berbagai daerah.
“Pertemuan akbar ini tidak hanya menjadi ruang konsolidasi pemikiran keislaman, tetapi juga ajang mempererat Ukhuwah Islamiyah antartokoh dan pegiat dakwah.” Tutur Ustadz Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si., Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, dilansir dari laman resmi media sosial pribadi miliknya.
Lebih lanjut, Ustadz Kamal, panggilan akrabnya, suasana kebersamaan yang terjalin erat selama tiga hari mengingatkan kita pada pesan Rasulullah ﷺ dalam hadis riwayat Muslim:
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
Artinya :“Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang saling merekat, mengokohkan. Yang saling mengenal di antara mereka akan bersenyawa, dan yang saling asing di antara mereka akan bercerai-berai.” (HR. Muslim).
Menurutnya, kehadiran para peserta yang disatukan oleh visi, niat ikhlas, dan frekuensi perjuangan yang sejalan dalam berkhidmat untuk umat, menciptakan kehangatan tersendiri sepanjang kegiatan berlangsung di Surabaya.
“Melalui Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah ini, diharapkan lahir keputusan-keputusan strategis serta panduan keagamaan yang solutif bagi dinamika umat dan bangsa, demi mewujudkan peradaban Islam yang berkemajuan.” Pungkasnya. (Humas/Gus).














