Tahlilan: Ikhtiar Memanusiakan Manusia dalam Pendekatan Erfani
Oleh KH. Nurbani Yusuf
(Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar, Pusat Studi Islam dan Pemikiran Kjai Hadji Ahmad Dahlan)
Adzan saat meletakkan mayat di liang lahat dan Tahlilan pada hari kematian adalah: usaha untuk meneguhkan identitas bahwa yang meninggal itu bukan hewan tapi manusia. Yang kedua : untuk membedakan bahwa yang meninggal adalah orang beriman atau mukmin bukan orang kafer atau orang tidak beriman.
Dua argumentasi ini tidak berdasar teks (burhani atau bayani) tapi berdalil pada intuisi atau erfani: adzan saat mengubur mayit untuk membedakan antara mengubur binatang dan mengubur manusia.
“Tahlilan pada saat kematian untuk membedakan bahwa yang meninggal adalah manusia beriman bukan manusia tidak beriman”
Erfani mengedepankan pada spiritualitas, pengalaman batin; Intuisi, Penyucian jiwa, Immaterial, Transenden, mungkin juga Sufistik.
Kebenaran atau pengetahuan diperoleh melalui kasyf tersingkapnya rahasia Tuhan yang didapat dari hati yang bersih. Metode ini biasa dipraktikkan oleh para sufi; Wisdom, Hikmah atau kebijaksanaan. Banyak orang alim tapi tidak bijak.
Sejenak saya tinggalkan Burhani (teks Al-Qur’an-Hadits) dan Bayani (logika atau ratio). Bahwa beragama bukan hanya soal teks: boleh tidak boleh hitam atau putih. Dengan pendekatan tekstual bahwa ayat ayat Allah bukan hanya yang tertulis Qauliyah ada juga Kauniyah yang tidak tertulis.
Burhani, Bayani dan Erfani idealnya berimbang meski pada realitasnya sering mengemuka salah satu saja. Diriwayatkan, suatu hari Umar bin Khatthab ra, bertemu dengan Hudzaifah bin Yaman ra, saat itu Umar sudah menjadi Amirul Mu’minin.
Umar ra bertanya: “Apa kabar pagimu, wahai Hudzaifah?”
Hudzaifah ra menjawab: “Aku mencintai fitnah, membenci kebenaran, shalat tanpa wudhu, dan di bumi ini aku memiliki sesuatu yang tidak Allah miliki di langit”.
Goda Hudzaifah kepada sahabatnya khalifah Umar.














