Inspirasi Kehidupan: NU Sampang dan Kasembon Menolak Wahabi?
Oleh KH. Nurbani Yusuf
(Komunitas Padhang Makhsyar)
Ada dugaan di sebagian kalangan NU yang kerap mengidentikkan Muhammadiyah dengan Wahabi. Dua insiden ketegangan terjadi dalam sebulan:
Pertama, Ancaman terhadap kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di Sampang.
Kedua, Penolakan terhadap mahasiswa Kelompok Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Kasembon.
Alasan yang mengemuka hampir mirip. Warga Nahdliyin di Sampang gelisah karena amalan-amalan mereka dipersoalkan—seperti tahlilan yang dibid’ahkan, yasinan yang disesatkan, cium tangan yang dikultuskan, hingga ziarah kubur yang dihakimi sebagai syirik.
Sementara itu, penolakan di Kasembon didasari alasan serupa: anggapan bahwa bendera dan akidah Muhammadiyah berbeda.
Meski pada akhirnya semua dugaan itu terbantahkan, sebab Muhammadiyah tidak pernah memiliki pandangan demikian, tak dapat dipungkiri pula bahwa di dalam tubuh Muhammadiyah terdapat beragam irisan, salah satunya kelompok yang bersimpati pada pemikiran Salafi-Wahabi.
Sejak awal berdirinya, Kiai Ahmad Dahlan sebenarnya sudah tegas menolak disebut Wahabi. Beliau bahkan mengutus santrinya ke Mekkah untuk mengklarifikasi langsung kepada penguasa saat itu bahwa Muhammadiyah bukanlah bagian dari gerakan tersebut.
Sebaliknya, dalam pandangan kaum Salafi-Wahabi, NU sering kali dicap sebagai Ahli Bid’ah, Ahli Tahayul, Ahli Khurafat, dan Ahli Syirik. Akibatnya, akidah NU dianggap perlu diluruskan dan ibadahnya perlu dimurnikan, karena dinilai sesat dan banyak menyimpang.
Bukan hanya kaum Syiah yang disesatkan; siapa pun yang tidak sepandangan langsung dicap sebagai pelaku bid’ah. Salafi-Wahabi kerap memposisikan diri sebagai “Polisi Sunnah”—siapa saja yang berbeda jalan langsung divonis sesat dan masuk neraka.
“Pandangan eksklusif inilah yang meresahkan kalangan Nahdliyin, sehingga memicu berbagai bentuk reaksi di akar rumput”
Persoalan ini sejatinya bukan sekadar ranah teologis, melainkan problem metodologi dakwah: tentang cara, metode, dan strategi yang dipilih. Di lapangan, gelagat Wahabi kerap dirasakan sebagai sebuah ancaman nyata.
Ketika NU merasa terancam—eksistensinya diganggu, posisinya dipertanyakan, dan perannya diragukan—maka kegelisahan di tingkat bawah langsung menguat. Situasi ini kerap diperkeruh oleh arus informasi liar, fitnah, dan upaya adu domba.
Dalam situasi seperti ini, saling menyalahkan bukanlah solusi. Tabayyun dan silaturrahim adalah kunci utama. Yang dibutuhkan adalah kerja sama produktif, saling memahami, menghargai perbedaan, serta mencari titik temu alih-alih memperbanyak celah perpecahan.
Hal ini tentu tidak boleh disepelekan. Ada upaya sistematis dari pihak tertentu yang ingin menjadikan dua ormas besar jangkar Islam di Indonesia ini saling bertengkar. Ini adalah lampu kuning yang harus diwaspadai.
Harus diakui, di masing-masing kubu—baik di Muhammadiyah maupun NU—ada kelompok ekstrem yang senang merawat perpecahan, menyuburkan permusuhan, dan mempertajam perbedaan.
“Sudah saatnya kita duduk bersama: ngopi, ngobrol santai, dan merajut kembali kebersamaan”
(Catatan penutup: Khatib Jumat Kliwon minggu lalu di Masjid Gedhe Padhang Makhsyar diisi oleh Kyai Abdullah Thahir; Katib Syuriyah NU Kota Batu, sementara muadzinnya adalah Nurbani Yusuf).














