Wednesday, September 2, 2026
Wednesday, September 2, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan: Kenapa Ulama Muhammadiyah tidak Berebut Menjadi Pimpinan?

Must Read

Inspirasi Kehidupan: Kenapa Ulama Muhammadiyah tidak Berebut Menjadi Pimpinan?

Oleh KH. Nurbani Yusuf

(Komunitas Padhang Makhsyar, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Wisata Batu 2010–2018, Wakil Ketua Korbid Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Batu 2023–2028,  Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Desa Gunungsari 2024–2029)

Kiai Haji Abdurrazaq Fakhruddin, atau populer disebut Pak AR, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah empat setengah periode, pernah berpesan: “Jangan pilih pimpinan yang mencalonkan diri…” Nasehat yang pendek, singkat, dan ditaati oleh semua lapisan pimpinan Muhammadiyah dari berbagai level.

Apakah Muhammadiyah tidak menarik?Siapa bilang? Siapa yang tidak ingin menjadi pimpinan organisasi dengan kekayaan 450 triliun lebih—nomor tiga terkaya di dunia, serta nomor satu di Asia dan Indonesia? Puluhan juta jamaah dan anggota yang kompak dan solid.

Dengan realitas luar biasa itu, di mana letak ketidakmenarikannya?

Muhammadiyah tidak pernah kehilangan kader. Ratusan kader cemerlang dan berwawasan lahir dari rahim persyarikatan ini. Para guru besar, ulama, ustadz, profesional, dan saudagar terus mengalir tiada henti.

Namun, hal yang menarik adalah tidak pernah dijumpai adanya pimpinan yang berebut kekuasaan atau bersaing untuk menjadi pemimpin. Tidak ada yang saling jegal untuk menjadi ketua, rektor, direktur, atau pengelola amal usaha lainnya yang beraset puluhan triliun rupiah.

Kenapa tidak berebut?

Di sinilah letak keunikannya. Di Muhammadiyah, tidak ada istilah “santri kyai fulan” atau “pengikut profesor fulan”. Tidak ada pengawalan khusus untuk menunjukkan eksistensi atau kemewahan sebagai seorang pimpinan. Sebaliknya, semua berkhidmah secara sama—egaliter dan demokratis.

Zuhud menjelma dalam kata dan laku, bukan sekadar teori. Rendah hati tidak diukur dari seberapa tinggi gamis atau celana dari mata kaki, melainkan tentang satunya kata dan tindakan.

Rumah di Jalan Silikat yang dihuni Prof. Malik Fadjar kerap menjadi jujugan Pak AR saat beliau berkunjung ke Malang. Pak AR lebih memilih menginap di rumah pimpinan daerah atau cabang daripada menginap di hotel.

Mitsuo Nakamura, seorang mahaguru dan peneliti senior berkebangsaan Jepang, sempat dibuat kaget saat pertama kali datang ke Yogyakarta. Bermaksud menemui para pimpinan Muhammadiyah, Nakamura justru dibonceng Pak AR menggunakan sepeda motor Yamaha butut keluaran tahun 1970-an yang mulai terlihat menua.

Dari ulama bersahaja—seorang pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) golongan II tanpa deret gelar—lahir puluhan universitas, rumah sakit, dan layanan umum lainnya. Kita patut bersyukur memiliki banyak ulama bersahaja yang hadir di saat yang tepat. Banyak uswah hasanah dari para ulama junjungan kami, dan dengannya kami terus berbagi serta berbenah untuk kebaikan yang berlimpah.

Di Muhammadiyah, banyak ulama berkelas, banyak wali, dan banyak kyai khos yang menyembunyikan kewaliannya. Membangun pesantren, perguruan tinggi, universitas, serta rumah sakit dengan pikiran, tenaga, dan harta sendiri, kemudian diwakafkan ke Muhammadiyah—itulah bukti kewalian yang sesungguhnya. Hidup zuhud dan wara di tengah kemewahan adalah ujian paling berat bagi para auliya’.

Dua ulama yang saya sebutkan di atas bukanlah dari kalangan sahabat, tabi’in, atau salaf yang muktabar. Keduanya hanyalah ulama biasa yang hidup beberapa tahun lebih dulu dari kita. Orang biasa dengan pikiran biasa, status sosial biasa, dan bukan pula keturunan sayid, syarif, apalagi habib.

Saya bersyukur diberi kesempatan untuk ngawula (berkhidmat) kepada Pak AR, meski hanya sekadar mengambilkan secangkir teh tubruk kesukaannya, mengantarnya beristirahat ke Jalan Silikat, dan menjemputnya keesokan pagi. Bersyukur pula musala di depan rumah, rintisan kakek saya, beberapa kali disinggahi Kyai Bedjo Dermoleksono untuk mengaji kitab Bulughul Maram dan Nailul Authar meski hanya dalam beberapa kali pertemuan.

Sungguh kenangan manis tak terperi bersama para ulama kesayangan. Orang-orang alim, zuhud, dan wara. Malu rasanya mengenang kesahajaan beliau saat ini, ketika kita melihat gaya hidup para ulama zaman sekarang yang bertarif mahal, dijemput mobil mewah, dan beristirahat di hotel berbintang.

Jika ulama sekelas Pak AR dan Kyai Bedjo Dermoleksono berpikir seribu kali hanya untuk mengenakan kemeja baru di depan santrinya, ulama sekarang justru tak malu menunjukkan berapa deret istri yang dinikahi, koleksi kuda tunggangan, kebun luas yang dimiliki, hingga jumlah tabungan hasil honorarium ceramahnya.

Memang, tidak ada keharusan seorang ulama harus hidup zuhud dan wara dengan berpakaian kumal, makan seadanya, atau berjalan kaki kemanapun pergi. Tapi, tidak elok pula memamerkan kekayaan, melahap makanan mahal, serta mengenakan pakaian dan mengendarai mobil mewah di depan publik di saat umat tengah berkekurangan.

“Pada akhirnya, semua terpulang kepada masing-masing. Hidup memang sebuah pilihan. Setahun menjelang Muktamar Muhammadiyah di Sumatra”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Muhammadiyah Sambut Baik Kepemimpinan Baru PBNU, Dorong Sinergi Kuat untuk Kemajuan Bangsa

Jakarta, liputanmu — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, secara resmi menetapkan KH Miftahul Ahyar sebagai...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img