Wednesday, October 14, 2026
Wednesday, October 14, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Apakah ‘Salafi’ Bermanhaj Salaf?

Must Read

Apakah ‘Salafi’ Bermanhaj Salaf?

Oleh KH. Nurbani Yusuf 

(Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar)

Al-Mukarram Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani bukanlah ulama Salaf. Beliau lahir pada 16 Agustus 1914 M di Shkodër, Albania, dan wafat pada 2 Oktober 1999 M di Yordania.

Mengikuti Syaikh al-Albani tentu tidak bisa disebut ber-manhaj Salaf dalam arti generasi awal, melainkan Khalafi, sebab beliau hidup di era kontemporer (khalaf), bukan bagian dari generasi Salaf.

Istilah Manhaj Salaf, Salaf, Salafi, Salafisme, hingga Salafiyun kerap membingungkan—ambigu dan mengidap disparitas makna. Campur aduknya pemahaman ini sering kali melahirkan sikap irasional. Misalnya, muncul klaim merasa paling “salaf” dan paling mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seolah-olah hidup semasa dengan beliau, padahal terbentur jarak ruang dan waktu yang sangat jauh dari para Sahabat, Tabi‘in, dan Tabi‘ut Tabi‘in.

Mari kita dudukan definisinya:

  • Manhaj Salaf adalah jalan atau thariqah generasi salafus saleh.
  • Salafi adalah mereka yang menempuh dan mengikuti jejak Salaf.
  • Salafisme adalah cara pandang, perspektif, atau paradigma berpikir.

Tentu saja, Salafisme (sebagai sebuah term sosio-intelektual modern) bukanlah “Salaf” itu sendiri sebagaimana yang lazim diidealkan.

Masa Salaf yang disepakati adalah era tiga generasi terbaik: Generasi Sahabat, Generasi Tabi‘in, dan Generasi Tabi‘ut Tabi‘in, yang berada dalam rentang tiga abad pertama Hijriyah. Selepas kurun waktu tersebut, fase sejarah umat Islam masuk ke dalam masa Khalaf (generasi belakangan atau muta’akhirin), sebagai pembeda dari masa terdahulu (mutaqaddimin).

“Para ulama dari kalangan Sahabat, Tabi‘in, dan Tabi‘ut Tabi‘in adalah murni ulama Salaf”

Lantas, bagaimana dengan para imam mazhab dan ulama besar sesudahnya? Imam al-Hasan al-Bashri, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam al-Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, hingga Imam al-Asy‘ari hidup dalam koridor atau mendekati lingkaran salafus saleh.

Maka, mengikuti pandangan Imam al-Hasan al-Bashri, berpegang pada mazhab Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, maupun Imam Ahmad adalah wujud dari sikap mengikuti tradisi salaf. Bertaqlid atau merujuk kepada pemahaman ulama-ulama salaf tersebut pada hakikatnya adalah esensi dari Salafi yang otentik.

Lalu, Bagaimana dengan Tokoh-tokoh Mazhab Pemikiran Berikutnya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lahir pada tahun 1263 M, dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1703 M. Jelas bahwa kedua beliau bukanlah ulama Salaf, karena terpaut jarak ratusan tahun dari era keemasan Salaf.

Begitu pula dengan ulama-ulama modern seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hingga Syaikh Saleh al-Fauzan—secara sosiologis dan kronologis, mereka berada di barisan ulama Khalaf, bukan Salaf.

Menempatkan sejarah secara proporsional, serta membedakan antara “merujuk pada manhaj” dan “mengklaim identitas generasi”, akan menyelamatkan kita dari kejumudan berpikir dan fanatisme kelompok yang sempit.

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Muhammadiyah Duduk Bersama Kuburiyun?

Muhammadiyah Duduk Bersama Kuburiyun? Oleh KH. Nurbani Yusuf  (Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar) Orang kafir, ketika masa perang dalam berbagai bentuknya, adalah musuh...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img