Sunday, November 8, 2026
Sunday, November 8, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Belajar Adab Dari Kisah dan Keteladanan: Memetik Hikmah Dari Mana Pun Datangnya

Must Read

Belajar Adab Dari Kisah dan Keteladanan: Memetik Hikmah Dari Mana Pun Datangnya

Oleh KH. Nurbani Yusuf

(Komunitas Padhang Makhsyar, Pusat Studi Pemikiran Islam Kiai Haji Ahmad Dahlan)

“Jangan katakan siapa dirimu, sebab musuhmu takkan percaya itu dan kawanmu tak butuh itu.” Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a.

Tak lama setelah terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan (1994–1999), Nelson Mandela mengajak beberapa pengawalnya untuk berkeliling kota. Ia singgah di sebuah restoran tanpa meminta perlakuan khusus, lalu memesan makanan untuk disantap bersama rombongannya.

Di meja pojok, tampak seorang laki-laki duduk seorang diri menunggu pesanannya. Nelson meminta pengawalnya untuk mengajak laki-laki itu bergabung ke meja mereka. Laki-laki tersebut dipersilakan duduk tepat di samping Nelson.

Hidangan tersaji lengkap. Nelson dan rombongan siap menyantapnya, termasuk laki-laki di sampingnya. Namun, ada yang aneh: wajah laki-laki itu tampak pucat berkeringat dan tangannya gemetar hebat. Ia bahkan tidak sanggup menyentuh makanannya, kecuali menghabiskan sepotong roti dan beberapa tegukan air. Para pengawal kebingungan melihatnya.

“Tampaknya ia sedang sakit, sebaiknya segera kami bawa ke rumah sakit.” Ujar seorang pengawal kepada Nelson.

Nelson memilih diam hingga santapannya selesai. Setelah itu, laki-laki tersebut dipersilakan kembali ke meja asalnya.

Nelson kemudian berkata kepada para pengawalnya, “Ia tidak sedang sakit. Keringat dan tangan gemetarnya bukan karena demam. Dialah sipir yang dulu menyiksa aku ketika aku dipenjara di ruang isolasi. Pernah suatu ketika, saat aku kehausan dan meminta air, ia justru mengencingi kepalaku.”

Nelson melanjutkan dengan tenang, “Ia gemetar karena takut aku akan membalas perbuatannya dulu. Tapi aku tidak akan membalasnya. Dendam bukan akhlakku. Dendam tidak akan dapat membangun sebuah negara; tetapi memaafkan selalu menjadi jalan menuju kebangkitan bangsa.”

Pentingnya Kesahajaan dan Pemaafan

Kisah di atas adalah penggalan narasi menawan tentang perpaduan kesahajaan dan kelapangan dada seorang pemimpin terhadap orang yang pernah mencelakakannya.

Sikap serupa tampak pula pada diri Joko Widodo (Jokowi). Di tengah derasnya arus kritik, fitnah, hingga perlakuan yang merendahkan harga diri pribadi dan keluarganya, ia kerap memilih untuk tetap tampil santun. Berjabat erat, tersenyum lembut, serta tetap ramah terhadap pihak-pihak yang kerap melancarkan kritik tajam atau cemoohan.

Kendati di ruang publik terdapat beragam perdebatan, bahkan hingga mempersoalkan hal-hal mendasar seperti keaslian ijazah, sikap menghargai kemanusiaan (nguwongke) tetap menjadi fondasi yang patut dihargai. Sebab, adab dan penghargaan terhadap sesama manusia jauh lebih utama dibandingkan deretan gelar yang hampa adab.

Kearifan semacam ini membuktikan bahwa keluhuran budi tidak dimonopoli oleh golongan tertentu. Siapa pun dapat mempraktikkannya, asalkan memiliki niat yang tulus.

Al-Qur’an telah mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan yang lebih baik, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Fushilat. Memaafkan saja terkadang terasa berat, apalagi membalas kejahatan dengan kebaikan. Namun, jalan mulia ini adalah anugerah bagi mereka yang memiliki keberuntungan jiwa yang besar.

“Sejahat-jahatnya manusia, pasti memiliki sisi baik. Sebaik-baiknya manusia, tetap tak luput dari kekurangan. Di dunia ini, tidak ada pengadilan yang benar-benar sempurna dan tidak ada kesaksian yang sepenuhnya mutlak; segala hisab pada akhirnya berada di tangan Gusti Allah.”

Jika sekadar memaafkan saja sering kali terasa sulit, bagaimana mungkin seseorang bisa melangkah lebih jauh untuk membalas kejahatan dengan kebaikan? Sore ini, bayangan ketenangan itu hadir—mengingatkan kita pada pentingnya merawat kedamaian hati di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Inspirasi Kehidupan: Tidak Semua Orang Berhak Menentukan Luka Kita

Inspirasi Kehidupan: Tidak Semua Orang Berhak Menentukan Luka Kita Oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md. (Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo) "Belajar memperbaiki...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img