Surabaya, liputanmu – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Ngagel Rejo Gelar Kajian Rutin Ranting di Musholla Al-Jannah, yang diikuti oleh jajaran Pimpinan Cabang, Ranting, Ortom Muhammadiyah se-Ngagel pada Jum’at (06/02/2026).
Kegiatan ini dalam rangka menyambut Ramadhan 1447 H, dengan menghadirkan narasumber utama Ustadz Salman Alfarisi BMR. S.H.I., Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo yang juga sebagai Guru Ismuba di SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya.
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Salman Alfarisi menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah SWT atas karunia-Nya, salah satu yang terbesar adalah karunia ketetapan Iman dan Islam sehingga kita melaksanakan ibadah, amal sholeh dengan baik.
Ia lantas mengajak untuk selalu niatkan ikhlas karena Allah SWT, bukan ingin dipuji oleh manusia, karena manusia punya perspektif yang berbeda dalam menyikapi sesuatu. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan dinilai berbeda oleh orang lain berdasarkan sudut pandang masing-masing.
“Teruslah berbuat baik karena Allah SWT, bukan karena manusia, sehingga kita tidak muda kecewa dalam kehidupan kita. Janji Allah pasti, tapi janji manusia terkadang berbeda.” Tuturnya.
Selanjutnya, ia juga mengajak untuk kembali kepada keteladanan kita, yakni Nabi Muhammad SAW yang memberikan keteladanan yang sempurna, baik dalam kehidupan pribadinya, keluarga, masyarakat bahkan dalam konteks kebangsaan.
“Nabi Muhammad SAW adalah teladan sempurna yang telah dijamin langsung oleh Allah SWT.” Tegasnya.
Ustadz Salman juga mengungkapkan tentang seberapa rindu kita kepada bulan suci Ramadhan, tergantung bagaimana kita menyambut bulan suci Ramadhan dengan merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 183-185 adalah langkah terbaik untuk memahami hakikat puasa langsung dari sumbernya.
“Rangkaian ayat ini bukan sekadar perintah, melainkan panduan lengkap mengenai tujuan, kemudahan (rukhsah) dan rasa syukur.” Tandasnya.
Ramadhan, tambahnya, bukan sekadar perpindahan waktu makan, melainkan sebuah madrasah spiritual yang kurikulumnya telah digariskan Allah SWT dalam Al-Baqarah 183-185.
Pertama, Tata Niat, Siapkan Mental Taqwa; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Artinya :“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183).
Hal pertama yang harus dilakukan adalah fokuslah pada tujuan akhir. Puasa bukan kompetisi menahan haus, melainkan sarana melatih disiplin diri.
“Persiapkan niat bahwa Ramadhan kali ini adalah sarana untuk memperkuat kendali diri atas hawa nafsu agar gelar Mutaqqin (orang bertaqwa) bisa diraih.” Jelasnya.
Kedua, Ikhtiar Maksimal, Bangun Karakter Kebaikan; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَيَّا مًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ كَا نَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَا مُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَ نْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya :“(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 184).
Dalam hal ini, Allah SWT menegaskan bahwa puasa hanya beberapa hari, sebuah bentuk penyemangat agar kita tidak merasa berat. Selain itu, pahami aturan mainnya: jika sakit atau dalam perjalanan, ada keringanan (qadha).
“Persiapan kita adalah mempelajari fiqih puasa agar ibadah kita sah secara syariat dan tidak memberatkan diri sendiri di luar batas kemampuan.” Ungkapnya.
Ketiga, Memuliakan Al-Qur’an; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya :“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185).
Ramadhan adalah Bulan Al-Qur’an. Siapkan target bacaan (tilawah) atau target hafalan. Menjelang Ramadhan, mulailah rutin membaca Al-Qur’an setiap hari agar saat masuk bulan puasa, lisan sudah terbiasa dan hati sudah sinkron dengan pesan-pesan ilahi.
“Nggeh, minimal membaca satu atau dua ayat, kembali kepada target masing-masing. Kalau bisa kita seperti kiyai Dahlan, bagaimana membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Dan ini sesuai dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW.” Urainya.
Keempat, Istiqomah Menanamkan Rasa Syukur dan Mengagungkan Allah; Ubah pola pikir dari beban kewajiban menjadi syukur atas hidayah. Persiapan terbaik adalah menata hati agar merasa gembira (tasyakkur) karena masih diberi umur untuk bertemu Ramadan.
“Kegembiraan ini adalah mesin penggerak agar kita totalitas dalam beribadah. Inilah ukuran kerinduan kita kepada bulan Ramadhan.” Pungkasnya.
Di akhir sesi, Ustadz Salman Alfarisi menegaskan tentang hikmah terbaik yang harusnya kita persiapkan dalam menyambut bulan suci Ramadhan, yakni:
- Niat (Ayat 183); Meluruskan niat semata-mata untuk mencapai taqwa.
- Ilmu (Ayat 184); Mempelajari aturan puasa agar tahu kapan harus berpuasa dan kapan boleh mengambil keringanan.
- Interaksi dengan Al-Qur’an (Ayat 185); Menjadikan Al-Qur’an sebagai pendamping utama selama bulan suci.
- Optimisme dan Istiqomah (Ayat 185); Menjalani puasa dengan semangat mencukupkan hitungan hari sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. (Humas/Gus).














