Surabaya, liputanmu – Dalam upaya meningkatkan kualitas pemahaman agama dan penguatan ideologi Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo gelar Baitul Arqam 1447/2026 dengan mengusung tema; “Kesalehan Pribadi sebagai Fondasi Mewujudkan Sekolah Unggul dan Berkemajuan”
Hadir beberapa tokoh sebagai pemateri, mulai dari Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah hingga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, salah satunya adalah Ustadz dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes.
Dalam paparannya, Ustadz dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes., menegaskan bahwa sholat bukan hanya kewajiban spiritual, tetapi kebutuhan biologis dan psikologis manusia. Ia kemudian menjelaskan secara detail tentang bagaimana sholat ditinjau dari kesehatan.
Pertama, Sholat dan Kesehatan Tubuh; Secara medis, tubuh manusia bekerja selaras dengan ritme hormon. Hormon stres (kortisol) berada pada titik rendah dini hari, waktu yang berdekatan dengan qiyamul lail dan Subuh.
“Pada fase ini, jiwa lebih tenang dan pikiran lebih jernih.” Ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa gerakan sholat juga memiliki manfaat fisiologis, yakni:
- Ruku’ dan sujud menjaga kelenturan otot dan sendi.
- Sujud yang lebih lama membantu meningkatkan aliran oksigen ke otak, yang berkontribusi pada kesehatan saraf dan mengurangi risiko gangguan pembuluh darah.
- Pergerakan mata saat sholat membantu menjaga fokus dan kesehatan penglihatan.
“Secara sederhana, gerakan sholat bisa menjadi barometer kesehatan. Jika seseorang mulai kesulitan menjalankan gerakan dengan normal, itu bisa menjadi tanda tubuh memerlukan perhatian.” Ungkapnya.
Kedua, Sholat dan Kesehatan Jiwa; Sholat yang khusyuk bekerja seperti teknik mindfulness modern, yakni: menenangkan sistem saraf, menurunkan stres, dan menyeimbangkan hormon kebahagiaan.
Namun, kualitas menjadi kunci. Sholat yang hanya rutinitas tanpa penghayatan tidak memberi dampak maksimal. Jika seseorang rajin sholat tetapi masih mudah marah dan gelisah, maka perlu evaluasi niat dan kekhusyukan.
“Sholat dapat membangun kesabaran, pengendalian emosi, optimisme hidup. Spiritual yang sehat akan memengaruhi kesehatan jasmani. Pikiran yang positif dan hati yang tenang memperkuat daya tahan tubuh.” Katanya.
Ketiga, Kesehatan Sosial; Dimensi Horizontal Sholat. Sholat berjamaah mengajarkan kesetaraan dan kebersamaan.
“Tidak ada perbedaan status saat berdiri dalam satu shaf. Inilah yang membangun sense of belonging dan keharmonisan sosial.” Jelasnya.
Menurutnya, ketika koneksi vertikal (dengan Allah) terjaga, maka koneksi horizontal (dengan sesama) ikut membaik. Jiwa menjadi lebih lapang, hubungan sosial lebih sehat.
Ia juga mengungkapkan bahwa sholat bukan sekadar ritual lima waktu. Ia adalah sistem lengkap yang menyatukan beberapa hal penting, yakni:
- Tubuh yang sehat melalui gerakan dan oksigenasi.
- Jiwa yang tenang melalui kekhusyukan dan niat.
- Sosial yang harmonis melalui kebersamaan.
“Jika sholat dijalankan sebagai kebutuhan, bukan beban, maka ia menjadi sumber kesehatan lahir dan batin. Dari sinilah pribadi unggul dan masyarakat berkemajuan dibangun.” Pungkasnya. (Taufikhi).














