Surabaya, liputanmu – Terus berkemajuan, menyambut Ramadhan dengan penuh khidmat, Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo Surabaya gelar Kajian Ramadhan Jelang Berbuka Puasa yang dilaksanakan di setiap Ahad selama bulan Ramadhan 1447 H. Ahad (22/02/2026).
Edisi pertama dilaksanakan di Masjid Syuhada Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung Wonokromo Surabaya dengan tema; “Menuju Tajdid Ramadhan: Menguatkan Tauhid dan Akhlak”, dengan penceramah Ustadz Muhammad Barid, S.Ag., M.Pd.I., Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo.
“Jangan biarkan puasamu menguap jadi dahaga, sia-sia.” Ujar Ustadz Barid.
Lebih lanjut, ia mengajak kepada jama’ah yang hadir untuk muhasabah, pernahkah kita bertanya-tanya, sudah berapa puluh kali hilal Ramadhan menyapa hidup kita? Jika usia kita 40 atau 50 tahun, sudah puluhan kali pula kita menahan lapar dari fajar hingga senja.
“Namun, pertanyaannya berikutnya adalah sudahkah Ramadhan itu mengubah kita, atau hanya lewat sebagai rutinitas kalender yang melelahkan fisik semata.” Tegasnya.
Ia kemudian mengajak untuk melakukan hal-hal berikut ini untuk Ramadhan lebih baik, yakni:
Pertama, Menembus Belenggu Rutinitas; Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah memberi peringatan yang menggetarkan jiwa. Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.
“Jangan sampai kita masuk dalam barisan orang-orang yang merugi ini. Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan.” Tandasnya.
Menurutnya, Puasa adalah Tajdid—sebuah pembaruan iman, penyegaran niat, dan pemurnian kembali hubungan kita dengan Sang Khaliq.
Kedua, Integrasi Tauhid, Kembali kepada Titik Nol; Segalanya bermula dari Tauhid. Ramadhan adalah momentum untuk meruntuhkan tuhan-tuhan kecil dalam hati kita—hawa nafsu, kecintaan berlebih pada dunia, dan ketergantungan pada pujian manusia. Oleh karena, ia mengajak untuk melakukan hal-hal berikut, yakni:
- Murnikan Aqidah; Sadari bahwa setiap detik lapar kita adalah saksi pengabdian hanya kepada Allah.
- Hadirkan Allah; Rasakan pengawasan-Nya (Muraqabah) di setiap hela napas, sehingga puasa kita bukan karena tradisi, tapi karena iman yang membuncah.
Ketiga, Akhlak, Buah Manis dari Akar yang Kuat; Puasa yang berhasil adalah puasa yang mendarat (landing) pada pembentukan karakter. Menurutnya, jika lisan masih tajam menyakiti, jika tangan masih ringan berbuat zalim, dan jika hati masih penuh dengki, maka puasa kita belum mencapai tujuannya.
“Tajdid Ramadhan menuntut kita untuk menyatukan tauhid dengan akhlak. Iman yang kuat harus berbuah perilaku yang lembut, jujur, dan penuh kasih. Itulah karakter sejati hamba Allah yang bertaqwa.” Ungkapnya.
Saatnya Berubah: Ramadhan Ini Harus Berbeda!
Jangan biarkan Ramadhan tahun ini berlalu seperti tahun-tahun lalu. Mari kita bertekad melakukan beberapa hal penting, yakni:
- Hentikan sekadar menahan lapar, mulailah menahan penyakit hati.
- Segarkan niat setiap pagi, bahwa setiap tetes peluh adalah investasi akhirat.
- Jadikan setiap sujud kita lebih lama, setiap doa lebih mesra, dan setiap interaksi dengan sesama lebih mulia.
- Ketuklah pintu langit dengan kemurnian tauhidmu, dan hiasilah bumi dengan kemuliaan akhlakmu.
“Orang yang paling merugi di bulan Ramadhan bukan yang lapar dan haus, tetapi yang keluar dari Ramadhan dengan hati yang masih keras seperti semula. Ya Allah, jangan biarkan Ramadhan ini berlalu tanpa mengubah kami.” Pungkasnya.(Taufikhi).














