Saturday, May 9, 2026
Saturday, May 9, 2026
Desain Banner Wonokromo 1
previous arrow
next arrow
Shadow

Inspirasi Kehidupan : Tarbiyah Ramadhan, Antara Kesabaran Tanpa Tepi dan Bersyukur Tanpa Tapi

Must Read

Inspirasi Kehidupan : Tarbiyah Ramadhan, Antara Kesabaran Tanpa Tepi dan Bersyukur Tanpa Tapi

Khutbah Idul Fitri 1447 H

Oleh Ustadz Ahmad Mujaddid RA, S.H., M.Pd.

(Mubaligh Muda Muhammadiyah Kota Surabaya)

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا إِلَـى اْلإِيْمَانِ وَ اْلإِسْلاَمِ، وَ اَلْحَمْدُللهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَاْلفِطْرِبَعْدَصِياَمِ رَمَضَانَ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الْهَـادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ – مُحَمَّدٍ – وَ عَلَي آلِهِ وَ صَحْبِهِ الْمُتَمَسِّكِيْنَ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْـمِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَ الْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهِ، أُوْصِي بِنَفْسِي وَ إِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ لِتَـفُوْزُوْا بِالْجَنَّةِ النَّـعِيْمِ، وَ السَّلاَمَةِ مِنَ الْعَذَابِ اْلأَلِيْـمِ. قَالَ اللهُ تَعَالَي فِي كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ: يَاأَيُّهاَالَّذِيْنَءَامَنُوااتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَ الْحَمْدُ لـِلَّهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً. لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَ هَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan pelimpah cahaya-cahaya. pembuka penglihatan, penyingkap rahasia-rahasia, dan penyibak selubung tirai-tirai.

Dialah Allah, Yang Maha Awal tanpa permulaan, Yang Maha Akhir tanpa penghujung, dan Yang Maha Abadi tanpa perubahan. di pagi yang cerah ini kita dapat melangkahkan kaki ke tanah lapang ini dengan suasana hati yang bahagia tiada bertepi.

Puja dan puji syukur tak habis dipanjatkan kepada sang Ilahi Rabbi. Hari ini umat Muslim dipelosok negeri merayakan hari kemenangan Fitri atas digemblengnya kita dengan berbagai macam ritual Ramadhan yang dikhususkan bagi kita yang ber Iman.

Hari kemenangan yang mengingatkan kepada kita semua tentang kenikmatan yang Allah berikan bagaikan samudera gelombang di atas gelombang. Yang oleh Allah dialirkan kepada kehidupan kita.

“Dan sejatinya bukan karena bahagia kita harus bersyukur, namun bersyukurlah maka Allah akan bahagiakan kita”

Seiring dengan waktu kita semakin faham bahwa yang kita butuhkan bukan lagi kepuasan diri, tetapi yang kita butuhkan adalah kebahagiaan. Seiring dengan waktu kita semakin faham bahwa yang manusia butuhkan bukanlah kemewahan, tetapi yang kita butuhkan adalah kecukupan.

Seiring dengan waktu kita akan semakin faham bahwa yang kita butuhkan bukanlah harta yang melipah, tetapi yang kita butuhkan adalah Ketika Allah memberikan keberkahan dalam hidup kita.

Dan sesungguhnya hadirin Tidak akan mencapai kebahagian, tidak akan mencapai keberkahan kecuali adalah mereka menjadi hamba-hamba yang bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan kepada mereka.

Inilah konsep iman yang jauh berbeda dengan konsep sekularisme, Inilah konsep iman yang sangat berbeda dengan konsep materialism. Tidak akan bisa menjadikan kita sebagai pribadi puas dalam kehidupan, karena semuanya hanya ditakar dengan konsep angka, hanya ditakar dengan kalkulasi, hanya ditakar dengan rugi dan untung dari apa yang kita peroleh dari apa -apa yang kita lakukan.

Maka syukur mementahkan konsep-konsep semacam itu. Syukur memberikan konsep ketenangan bukan kepuasan, dan hanya akan kita dapatkan Ketika kita mampu mensyukuri setiap anugerah yang Allah berikan dalam kehidupan kita.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah, shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sang penyampai agama Islam dengan risalah rahmatan lil’alamin. Sang pembebas yang membebaskan umat manusia dari gelap menuju cahaya.

Cahaya segala cahaya, pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa, kekasih Sang Penguasa Yang Maha Perkasa, pembawa berita gembira dari Yang Maha Pengampun, dan pembuka tabir kepalsuan kaum durhaka.

Demikian pula seorang Rasul yang telah memberikan ultimate answer (jawaban utama) dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita tau apa yang harus kita lakukan di dalam kehidupan kita. Sebagai contoh kalau ada satu lalat nyampe pada satu gelas kita, kita tau petunjuknya. Ketika kita kencing di dalam kamar mandi, kita tau aturannya. Ketika kita berada di tempat-tempat sepi, kita tau bagaimana yang harus kita lakukan.

Dan itu merupakan bagian dari petunjuk Nabi yang sangat sempurna. Kalaulah ISLAM bagaikan bangunan yang besar, maka tidak ada tempat-tempat di dalam bangunan itu kecuali semuanya telah dijelaskan olehkan Rasulullah Muhammad SAW.

Inilah sebabnya kita mencintai Rasulullah SAW karena beliau telah membebaskan kita dari blindspot (titik buta) dalam kehidupan kita. Kita tau bakal bagaiman jika kita tidak mengenal Rasulullah.

Apa yang harus kita lakukan di Tengah malam ? Apa yang harus kita lakukan di waktu pagi ? Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan Surga ? jika kita tidak mengenal Rasulullah. Inilah yang menganjurkan kita untuk berShalawat kepada Rasulullah SAW.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dipantaskan untuk mendapatkan syafa’at dari beliau. Siapapun yang mendapatkan syafaat, yang ganjil dari amalannya, maka akan di genapkan oleh Allah SWT.

Siapapun yang mendapat syafaat, apabila ringan dalam timbangan amalnya, maka Allah beratkan timbangannya. Maka cukuplah Imam Qurtubi mengatakan “Celakalah, bukan hanya bagi orang berat timbangan dosa nya daripada berat kebaikannya. Tetapi juga celaka bagi orang yang tidak dipantaskan mendapatkan syafaat dari Rasulullah” .

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

Allah Yang Al Hakim – Al Arif – Al ‘Aliim

Tentu kita semua faham sekali bahwa Allah tidak hanya mensifati dirinya sebagai Ar Razzaq Allah Yang Maha Memberi Rezeki. Tidak hanya mensifati dirinya sebagai Ar Rahman Allah Yang Maha Penyayang.

Namun salah satu nama yang harus kita fahami tentang Allah SWT yaitu Allah mensifati sebagai Al Hakiim Allah Yang Maha Bijaksana, sifat Bijaksana nya Allah bertemu dengan sifat Al ‘Aliim Allah Yang Maha Mengetahui.

Ketika faham Tuhan yang kita sembah dalam shalat kita, dalam rukuk dan sujud kita adalah memiliki sifat Al Hakiim yang sempurna. Inilah yang menjadikan kita faham bahwasannya tidak ada peristiwa yang terjadi pada setiap kehidupan manusia kecuali semuanya tersemai didalamnya Mutiara Hikmah dan Pelajaran yang berikan kepada kita.

Maka tidak ada istilah takdir pahit dan manis dalam kehidupan karena semua peristiwa kehidupan datang dari Dzat (Allah SWT) Yang Maha Bijaksana dan Yang Maha Mengetahui (‘Aliim).

Analogi ringan, bukankah semakin orang tersebut cerdas, semakin orang tersebut pintar, semakin orang tersebut tinggi studinya maka setiap kata-kata yang dia sampaikan itu memiliki makna. Maka mustahil bagi Allah SWT yang Maha Bijaksana menggulirkan setiap peristiwa dan kejadian dalam kehidupan manusia tanpa memiliki makna, tanpa hikmah, dan tanpa Pelajaran.

Imam Ibnu Qoyyim mengomentari hal ini didalam kitabnya “Syifaul Alil fil Masaililil Qodhoiw al Qodar” – Tidak ada kejadian di setiap peristiwa sampai dengan daun yang jatuh kecuali dengan Ilmu-Nya Allah dan terjadi dengan Hikmah. Hanya saja mungkin karena keterbasan dan kebodohan kita yang tidak mampu mengjangkau hal itu.

Maka Allah SWT menyatakan semakin orang tersebut faham akan keimanan nya adalah orang yang semakin faham dalam mengambil Pelajaran dan hikmah dalam peristiwa dan kejadian yang Allah berikan kepada diri mereka. Sebagaimana Allah SWT sampaikan dalam QS. Al Baqarah ayat 25 :

۞ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسۡتَحۡـىٖۤ اَنۡ يَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَةً فَمَا فَوۡقَهَا ؕ فَاَمَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا فَيَعۡلَمُوۡنَ اَنَّهُ الۡحَـقُّ مِنۡ رَّبِّهِمۡۚ وَاَمَّا الَّذِيۡنَ ڪَفَرُوۡا فَيَقُوۡلُوۡنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ ڪَثِيۡرًا وَّيَهۡدِىۡ بِهٖ كَثِيۡرًا ؕ وَمَا يُضِلُّ بِهٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِيۡنَۙ ٢٦

Artinya :“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya,1 dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik”.

Disinilah kita mengerti bahwa dalam Kultur Keimanan tidak berhenti pada perintah Shalat, Rukuk, Sujud, Thawaf atau ritual keagamaan lain. Namun juga mengambil pada setiap peristiwa dan syariat yang disampaikan oleh Allah SWT.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

Ramadhan : Syahrul Man Qoblana (Bulan yang Sejak Dahulu Sebelum Datangnya Rasulullah)

Ramadhan menjadi bulan yang penuh dengan makna yang harus kita temukan sebagai orang beriman kepada Allah Dzat Yang Maha Hakim dan ini menjadi sebuah tuntutan bagi kita.

Ritual-ritual Ramadhan (Puasa, Tadarus, Tarawih, Qiyamullail, Zakat, Sedekah, Infaq,dsb) tidak berhenti pada masalah Apa & Bagaimana : Fiqih.

Bukan hanya maslaah hukum, bagaimana kita menahan lapar dan dahaga. Bukan hanya Ketika kita makan minum dan berjimak akan membatalkan puasa kita. Tetapi lebih mendalam daripada itu.

Maka kesempatan khutbah ini yang menggugah kami untuk harus menyampaikan Apa sisi lain atau kurikulum Ramadhan yang diberikan kepada kita, sampai Allah SWT menwasiatkan kepada kita perintah Puasa.

Allah mensyariatkan Puasa 29/30 hari bukan hanya kepada kita saja tetapi kepada Ummat sebelum kita untuk memberi makna bahwa Ramadhan tidak bisa difahami dari sudut pandang fiqih semata. Maka mari kita fahami bagaimana para ulama kita dalam menjabarkan makna dan hikmah Pelajaran Ramadhan agar nantinya dapat kita narasikan dalam kehidupan kita.

Bukan hanya sekedar sukses Ramadhan dengan Fiqih atau Hukumnya, namun juga kita mengambil Pelajaran dan kurikulum Ramadhan sehingga kemudian tersusun narasi yang akan menjadi panduan kehidupan untuk 11 bulan mendatang.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

3 Makna dan Hikmah Ramadhan Sebagai Kurikulum Kehidupan

Pertama, Kerendahan Hati seorang hamba sebagai media Allah memberikan ampunan; Sebagaimana nama رمضان yang berasal dari satu akar kata yakni الرمض artinya panas yang sangat menyengat atau membakar.

Dinamakan الرمض merujuk pada cuaca panas ekstrem di Jazirah Arab saat bulan tersebut ditetapkan, sekaligus menjadi filosofi bahwa رمضان membakar dosa-dosa manusia melalui amal saleh.

Tidak akan didapati satu waktu ketika Allah membakar dan menghapus dosa-dosa manusia sebanyak disaat bulan رمضان. Allah tersebut adalah Al Ghofur, namun Al Ghofur Nya Allah lebih besar Ketika di bulan Ramadhan. Allah tersebut adalah Al Afwu, namun Al Afwu Nya Allah lebih besar disaat Ramadhan.

Karena tidak preme time disaat Allah mengobral ampunan, peleburan dosa, serta pembebasan manusia dari api neraka kecuali itu terjadi di bulan Ramadhan. Dari sinilah kemudian kita memahami sejatinya Goals nya Ramadhan bukan berapa kali kita mengkhatamkan Al Qur’an, bagaimana kita berpuasa, dimana kita berI’tikaf, berapa rakaat tarawih yang kita kerjakan, melainkan Goals nya Ramadhan adalah Disaat Seorang Hamba Mendapatkan Ampunan Allah SWT.

Sebagaimana Rasulullah SAW telah mengamin do’a yang diucapkan oleh Jibril yang telah diabadikan didalam Hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ – وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ – وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ.

Artinya :“Celakalah orang yang disebutkan namaku (nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) di hadapannya, tetapi ia tidak mau bershalawat kepadaku. Celakalah orang yang masuk Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni. Dan celakalah seorang yang mendapatkan kedua orang tuanya di waktu tua (lanjut usia), tetapi keduanya tidak dapat menyebabkannya masuk Surga.”

Identiknya Ramadhan itu sampai dengan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah kepada bunda Aisyah ra. Bunda Aisyah ra bertanya “Dzikir yang apa bisa aku ucapkan Yaa Rasul saat dibulan Ramadhan agar aku mendapati Kebaikan Lailatu Qodr ?”. Nabi menjawab اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku”.

“Maka ini sebagai pelajaran tidak ada yang lebih besar dibulan Ramadhan melainkan Allah SWT mengampuni dan melebur dosa-dosa hamba Nya”

Namun sayangnya banyak diantara kita dapati mampu Khatam Al Qur’an sebanyak 5 kali atau bahkan lebih, pada 10 malam terakhir tidak lepas berI’tikaf sampai berganti-ganti masjid untuk mendapatkan ketenangan akan tetapi tidak mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Dikarenakan tilawahnya membangun kesombongan/ujub, disaat i’tikafnya menjadikan dia memandang sinis orang-orang yang tidak beri’tikaf tanpa mengetahui udzurnya, disaat shalat tarawihnya, qiyamullailnya membangun rasa jumawa dalam diri karena merasa paling salih diantara yang lain masih lebih memilih tidur nyenyak.

Kenapa demikian ? Karena sesungguhnya Ampunan Allah SWT tidak menyentuh pada hati yang tinggi. Ampunan Allah digambarkan para ulama layaknya air yang akan mencari tempat yang rendah.

Mungkin diantara mereka yang tidak bisa tilawah Al Qur’an, tidak bisa i’tikaf, tidak sempurna dalam menghidupkan malam Ramadhan dikarenakan kebutuhan keluarganya sangat mendesak, tapi dia memiliki hati yang rendah, hati yang merendah, hati yang merasa hina dihadapan Allah karena tidak mampu maksimal ibadah di bulan Ramadhan lalu kemudian dia mengucapkan do’a

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya :“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku”.

“Maka boleh jadi merekalah yang layak dan pantas mendapatkan Ampunan Allah SWT”

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

Ramadhan bukan tempat kita untuk berkompetisi dalam membanggakan berapa kali kita khatam, Dimana saja kita I’tikaf, berapa juta uang yang kita infaqkan. Namun lebih daripada itu Ramadhan adalah Kompetisi kita untuk menjemput Ampunan. Dan sekali lagi layaknya air. Tidak akan mendatangi tempat yang tinggi, namun air akan menyapa, mendatangi pada tempat-tempat yang rendah.

Ramadhan tidak menjadi jembatan yang membangun jumawa dalam diri kita dan merendahkan orang lain. Sebagaiman firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah ayat 222 :

اِنَّ  اللّٰهَ  يُحِبُّ  التَّوَّا بِيْنَ  وَيُحِبُّ  الْمُتَطَهِّرِ يْنَ

Artinya :“Sungguh , Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.”

Allah SWT lebih mencintai pendosa yang bertaubat dengan kesadaran atas kesalahannya, daripada orang saleh tanpa rasa salah.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

Inilah pelajaran pertama yang dapat kita ambil sebagai kurikulum kehidupan bahwa Ramadhan mengajari kepada kita tentang kerendahan hati seorang hamba, bukan sebaliknya.

Melalui do’a yang diajarkan Nabi tersebut memberikan pesan mendalam. Seseorang tidak akan bisa meresapi do’a ampunan kecuali dia sadar dan merasa bahwa dirinya telah berdosa. Sebagai contoh kita sebagai orangtua disaat anak kita datang untuk menyampaikan permohonan maaf kepada kita, bukankah kemudia kita dapat menilai mana permohonan maaf yang tulus dengan permohonan maaf yang setengah hati.

Didalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Mas’ud bersunber dari Rasulullah :

Ada seseorang ahli ibadah terhitung 60 tahun lamanya. Pada suatu saat datang seorang Wanita yang menggoda dan ia terjerumus pada perzinaan selama 6 hari berturut-turut.

Ketika dia menyadari, menyesal dia meninggalkan rumah, meninggalkan tempat ibadah yang dia bangun beberapa tanpa membawa bekal apapun kecuali baju yang dia kenakan saat itu. Lalu disaat sejenak beristirahat di masjid dia hampir pingsan karena kelaparan. Lalu kemudian Allah kirim seseorang yang membawa roti yang diberikan kepada dia.

Ketika hendak memasukkan roti kedalam mulutnya dengan perasaan penuh penyesalan karena dosa yang dia perbuat kemudian dia mendapati seorang nenek yang juga bergemetar karena kelaparan, sehingga dia membagi dua roti tersebut dengan harapan seorang nenek tersebut dapat makan bersamanya bahkan bagian untuk si nenek lebih besar.

Tidak lama dari kejadian itu Allah kirimkan malaikat izrail untuk mencabut nyawanya. Disaat seorang ahli ibadah 60 tahun yang juga berzina 6 hari dihadapkan dengan pengadilannya Allah, Allah pun menghakiminya “ini ibadahmu selama 60 tahun, dan ini dosamu (zina) selama6 hari”, dan yang terjadi timbangan zina 6 hari lebih berat daripada ibadah selama 60 tahun, disebabkan banyak rasa ujub, banyak rasa jumawa dalam ibadahnya.

Disaat itu ahli ibadah tersebut tertunduk sedih dengan berkata “هلكت, هلكت “celakalah aku, celakalah aku”. Kemudian Allah berkata “ada satu amalan yang belum aku timbang yaitu roti yang telah kamu berikan kepada seorang nenek tua Ikhlas kamu memberikan roti itu seraya kamu menyadari, menyesali tentang dosa zina yang kamu perbuat”, sehingga zina 6 hari ditimbang, keikhlasan roti ditimbang, dan berat roti penuh keikhlasan lebih berat daripada zina 6 hari.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

Kedua, Kesabaran tanpa tepi melalu syariat Puasa; Ramadhan sebagai tarbiyah akan melatih jiwa dalam mengelola, memahami dan memaknai ujian atau challange yang diberikan Allah kepada kita.

Ramadhan mengajarkan kepada kita kesabaran. Dari perkara yang mubah yang asalnya kita senangi dan menjadi rutinitas kita. Sarapan pagi, jam istirahat kita gunakan makan siang dan seterusnya tiba-tiba kemudian Allah haramkan dan kita bersabar.

Banyak kasus yang melintas di media social yang sering kita jumpai, diantaranya semakin meningkat kasus ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) diantara faktor terbesarnya adalah tidak mampunya orang tersebut dalam mengelola, memahami dan memaknai ujian atau masalah yang Allah berikan kepada dirinya.

Dimimbar yang mulia ini kami sampaikan, setidaknya ada 3 alasan Allah SWT memberikan ujian atau masalah kepada seorang hamba, bukan karena Allah ingin menyiksa kita, bukan Allah bermaksud dlolim kepada kita, bukan Allah tidak sayang dengan hambanya. Bagaimana ujian yang berikan oleh Allah SWT melatih kesabaran kita, tetapi berujung pada manisnya sebuah balasan.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

Pertama, Allah SWT menguji hambanya yang mengaku beriman kepada Allah Nya sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Ankabut ayat 2 :

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya :“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (begitu saja) hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”

Allah SWT tersebut menguji orang beriman sesuai dengan tingkat keimanan seseorang. Semakin tinggi Iman seseorang maka semakin berat ujian yang Allah sampaikan. Analoginya adalah Ketika kita menempuh Pendidikan. Ujian jenjang SD tentu jauh berbeda dengan ujian jenjang SMP, begitu juga ujian anak SMA jauh lebih sulit daripada jenjang SMP, sama halnya ujian perkuliahan lebih berat daripada ujian jenjang SMA.

Kedua, Allah SWT menguji hambanya sebagai bentuk teguran akan kesalahan atau khilaf yang telah diperbuat dan ini sebagai bukti bahwa Allah sayang dengan hambanya. Layaknya seorang guru tidak akan menghukum, tidak akan menegur kecuali seorang murid tersebut telah melakukan kesalahan.

Diabadikan dalam Surah Ar Rum ayat 41 :

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya :“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Memberikan pembelajaran mendalam bahwa Allah memberlakukan Sunnatullah Fil Qoun. Allah membalas setiap perbuatan dan perilaku kita, maka disaat Allah memberikan ujian atau kesulitan kepada kita mari kita refleksikan bermuhasabah terhadap Tindakan apa yang telah kita kerjakan.

Ketiga, strategi Allah dalam upaya rewarding terhadap apa-apa yang kita panjatkan. Tidak ada maksud Allah menyiksa seorang hamba, tidak bermaksud Allah menghinakan hamba nya melainkan Allah SWT memanjakan seorang hamba agar selalu merasa dekat Dzat yang Maha Segalanya.

Allah SWT berfirman di dalam QS. Al Baqarah ayat 153 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya :“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Jika kita mengamati kalimat firman Allah tersebut sungguh indah cara Allah ketika memanjakan hamba Nya. Allah SWT memberikan ruang sebebas-bebasnya hamba-hamba beriman dengan “angkatlah tanganmu dan berdo’alah, mintalah apapun yang kalian minta”.

Dalam interaksi social kita disaat ada kegiatan yang nantinya berujuang pada sebuah pemberian hadiah selalu diawali dengan challenge (tantangan). Semakin besar hadiah yang diberikan maka akan sebanding dengan challenge yang akan diberikan.

Katakanlah jalan sehat berhadian umroh, maka tidak mungkin rute Jalan Sehat tersebut hanya 5 atau 10 meter namun mungkin akan berkilo-kilo jalan yang harus ditempuh bagi peserta jalan sehat.

Maka juga berlaku bagi Allah SWT semakin besar reward yang hendak diberikan kepada kita akan sebanding tantangan yang Allah tawarkan kepada kita. Maka Kembali kepada bagaimana upaya kita dalam menyelesaikan tantangan tersebut.

Ramadhan melalui ritual puasa memberikan Deep Learning bagi para pelaku tentang Kesabaran yang akan berbuah manis. Sebagai contoh bagaimana kita bisa merasakan kenikmatan satu gelas es teh, merasakan kenikmatan gorengan, merasakan kenikmatan kurma disaat kita santap waktu adzan Maghrib dibulan Ramadhan yang pada kenyataannya akan mengalahkan kenikmatan es campur, pizza, atau apapun yang kita santap hari ini.

Bagaimana itu bisa terjadi, diawali dengan kita menahan dengan kesabaran dari lapar dan dahaga 11-12 jam. Ramadhan memberikan pelajaran bahwa dengan Kesabaran seseorang akan mampu menikmati sebuah balasan kehidupan.

Maka kemudian para ulama kita mendeskripsikan kesabaran ibarat kedudukan kepala para tubuh manusia. Boleh jadi tangan kita yang cacat bisa diganti dengan tangan palsu, Ketika kaki kita tidak sempurna bisa dibantu dengan kaki palsu.

Namun tidak berlaku bagi kepala pada tubuh manusia. Maka Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan :

الصَّبْرُ مِنَ الْإِيمَانِ، بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ

Artinya :“Kesabaran bagi iman adalah seperti kepala bagi tubuh.”

Maka mari kita melatih untuk bersabar. Tidak semuanya kita ikuti apa-apa yang kita inginkan. Ramadhan telah mengajarkan nilai kesabaran sebagaimana Allah memberikan kenikmatan kepada kita terhadap minuman es teh yang kita minum disaat kumandang adzan maghrib dibulan Ramadhan.

Ketiga, Ramadhan melatih kepada setiap insan untuk pandai Mensyukuri nikmat Allah tanpa terkecuali; Dari pelajaran nikmatnya satu gelas es teh saat kumandang adzan memberikan pelajaran bahwa atas dasar Syukur seseorang akan mampu menikmati kenikmatan yang Allah berikan kepada dirinya.

Apa yang menjadi fokus kita saat itu adalah hidangan yang ada didepan kita, dan tidak pernah iri atau bahkan memikirkan orang lain yang sedang berbuka diluar tempat kita berbuka atau berandai-andai “wah kalau saya berbuka di restoran cafe akan lebih nikmat” tidak kita tidak akan sempat memikirman hal tersebut.

Nilai yang mahal dari peristiwa ini adalah Kualitas hidup kita akan dapat kita rasakan apabila kita mampu bersyukur. Hidup akan terasa nikmat apabila kita bersyukur. Kenikmatan berbuka dirumah kita sama nikmatnya dengan orang berbuka di restoran atau cafe yang harga menu nya diluar nurul kita.

Yang salah bukan apa yang kita dapatkan, yang salah bukan apa yag diperoleh oran lain, namun yang menjadi kendala sebagian besar kita mengapa dalam hidup kita kurang menikmat, kurang merasa nikmat karena tidak bersyukur sebagaimana kita berbuka puasa, muncul lah kemudian Istaghna didalam hati kita. ketidak puasan, ketidak terimaan, tidak ada ruang syukur didalam hati kita, dan yang terjadi adalah keserakahan.

  • QS. Al Alaq ayat 7 : أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ
  • QS ‘Abasa ayat 5 : أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ

Sebagai contoh orang yang korupsi, bukanlah seseorang yang berpenghasilan kecil. Penghasilan mereka sebagian besar sebulan bisa dua atau tiga digit, namun ketidak puasan, keserakahan yang menjadikan dirinya menghalalkan segala cara.

Berbeda dengan seorang beriman yang mampu mensyukuri nikmat Allah, sekalipun sarapan pagi dengan lauk sederhana (sayur asem, ikan asin klotok dengan nasi panas) akan mampu dia nikmati dengan lahap, sehingga menjadi tubuh dan fisik yang kuat.

Tidak perlu iri dengan orang-orang mungkin makannya di restoran, rumah makan ternama dengan harga menunya ratusan ribu, itupun tidak semua dihabiskan dengan lahap, bahkan berujung pada konsumsi obat-obatan sebab banyak makanan yang mestinya dilarang untuk dia konsumsi.

Konsep syukur memang tidak menjanjikan kuantitas fasilitas hidup kita, tetapi akan menjamin terhadap kualitas hidup setiap orang-orang yang memiliki rasa bersyukur. QS Ibrahim ayat 7 menyatakan :

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ ۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Artinya :“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Banyak saudara kita yang Cuma memiliki motor dia bersyukur, lalu apakah ada jaminan dia akan bisa membeli mobil ?
Banyak saudara kita yang memiliki mobil dia bersyukur, lalu apakah ada jaminan dia akan bisa membeli jet pribadi ?

Maka jawabannya adalah tidak ada jaminan, boleh jadi selama hidupnya akan hanya memiliki motor atau mobil. Akan tetapi cita rasa motor tersebut mengalahkan mereka yang punya mobil, cita rasa mobil tersebut akan mengalahkan mereka-meraka yang memiliki jet pribadi ketika banyak mereka dikejar-kejar depcolector.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Shalat ‘Id rahimakumullah.

Ibnu Qundamah pernah mengomentari dua indicator apabila seseorang telah diterima syukurnya oleh Allah SWT :

  • Disederhanakan oleh Allah cara pandang kita tentang nikmat duniawi,
  • Dicukupkan setiap kebutuhan kita.
    Bukankah yang menyiksa kita adalah biasnya kita dalam memaknai nikmat duniawi sehingga yang muncul keserakahan.

Sudah punya satu motor karena melihat teman beli motor lagi, sudah punya dua motor karena melihat rekan kerja bawa mobil akhirnya beli mobil, sudah punya kendaraan tapi belum punya rumah tinggal akhirnya beli rumah. Sudah punya rumah dipinggiran kota karena teman pada punya ditengah kota akhirnya ikut beli rumah di Tengah kota.

Begitu terus tanpa ada ujung dalam membiaskan kenikmatan duniawi.
Menjadi jaminan Allah siapa diantara mereka yang bersyukur maka Allah akan tambah nikmatnya.

Para mufasirin mendeskripsikan yang dimaksud dengn penambahan nikmat tersebut adalah Allah pastikan bahwa kehidupan orang-orang bersyukur tersebut telah tercukupi sehingga tidak akan pernah merasa kurang, kurang dan kurang. Sampai kemudian orang yang pandai bersyukur mengucapkan :

  • QS. Adh Dhuha ayat 5 :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ

Sebab orientasi mereka terletak pada kedekatan dan keyakinan kepada Allah, Rabb Yang Maha Kaya, Rabb Yang Maha Memelihara dan Mencukupi dengan sebuah tamsil.

  • QS. Adh Dhuha ayat 4 :

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ

Kenikmatan akhirat lebih utama daripada kenikmatan duniawi yang hanya sementara.

Sebagaimana saat kita berbuka, berapa suapan yang benar-benar terasa nikmat didalam mulut kita ? Mungkin hanya 3-5 suapan pertama yang betul-betul teras nikmat. Inilah pelajaran bahwa kenikmatan duniawi hanya 3-5 suapan.

اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Wallahu a’lam Bishshowab

“Diakhir khutbah ini mari kita sama-sama berdo’a kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjadi hamba-hamba selalu rendah hati, hamba yang mampu meluaskan ruang sabar didalam hati, serta cerdas dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT”

- Iklan -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- iklan -spot_img
Latest News

Siswa Tahfidz Smamita Rasakan Pengalaman Nyantri Sepekan di Pondok Pesantren Karang Asem

Lamongan, liputanmu - Suasana pesantren yang sarat nilai spiritual menjadi pengalaman berkesan bagi para siswa Tahfidz Class SMA Muhammadiyah...
- Iklan -spot_img

More Articles Like This

- Iklan -spot_img